Latest News

Adbox
Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Review Film: 'Green Room' (2016)

Meski punya estetika visual ala arthouse, namun 'Green Room' pada dasarnya adalah horor-slasher, hanya saja dengan injeksi adrenalin berkualitas.

�It's not a party. It's a movement.�
� Darcy
Green Room adalah istilah bagi ruang tunggu di belakang panggung yang digunakan oleh artis untuk beristirahat atau mempersiapkan gig-nya sebelum tampil. Sesuai dengan judul filmnya, sutradara Jeremy Saulnier banyak memakai nuansa warna hijau, entah itu melalui setting di tengah hutan yang rimbun atau cahaya lampu sorot klub. Tahukah anda bahwa warna komplementer dari hijau adalah merah? Mungkin ini hanya kebetulan yang tak disengaja. Di separuh Green Room, "ruang hijau" berubah menjadi "ruang merah" gara-gara semburat darah.

Green Room punya premis sederhana yang jamak dipakai dalam film horor-slasher, dimana anak muda yang serampangan terjebak di suatu lokasi terisolir sementara bahaya yang mengancam maut mengintai di luar. Namun kecakapan Saulnier mengontrol semua elemen dalam filmnya, menjadikan Green Room lebih dari sekadar eksploitasi sadisme. Eksekusinya tenang dan terukur.

Jangan salah, film ini masih menjadi parade bunuh-bunuhan yang bukan makanan ringan bagi yang berperut lemah. Namun, sama seperti film Saulnier sebelumnya Blue Ruin, ia peduli dengan pembangunan tensi. Selama 95 menit, film ini memainkan intensitas, menjaga penonton tetap tegang sepanjang film. Untuk urusan brutalitas, Green Room jauh lebih edan � ada pistol, shotgun, pisau, golok, hingga anjing yang siap mengunyah manusia sampai tewas. Keseruan ini sayangnya harus ternodai dengan regulasi sensor-demi-kearifan-lokal-karena-kita-adalah-bangsa-beradab-tak-peduli-filmnya-sudah-diberi-rating-dewasa.


"Calon korban" adalah personil band punk The Ain't Rights yang terdiri dari: Tiger (Callum Turner) sebagai vokalis, Sam (Alia Shawkat) sebagai gitaris, Pat (Anton Yelchin) sebagai bassis dan Reece (Joe Cole) sebagai drumer. Sebagai band kecil, tur mereka tak berjalan dengan baik sampai-sampai mereka harus tampil dalam sebuah klub neo-Nazi di pedalaman Oregon.

Mereka tak suka dengan ideologi orang-orang ini, tapi mereka butuh uang. Nah, apa gunanya menyandang prediket "punk" kalau tak berontak? The Ain't Rights mengkaver lagu "Nazi Punks F**k Off"-nya The Dead Kennedy yang dihadiahi dengan cibiran dan lemparan botol miras. Namun masalah sebenarnya datang selepas manggung. Mereka menyaksikan kejadian yang tak seharusnya dilihat. Kini, keempatnya terjebak dalam green room bersama seorang gadis bernama Amber (Imogen Poots). Bukan spoiler saat saya bilang banyak nyawa akan melayang.

Patrick Stewart (alias Profesor Xavier-nya X-Men) bermain menawan sebagai Darcy, pemilik klub sekaligus pemimpin para skinhead. Darcy adalah pria yang cerdas. Ia tahu cara menangani situasi dengan kepala dingin, termasuk menghilangkan kecurigaan polisi. Pembawaan tenang dengan suara halus khas Stewart justru membuatnya tampak lebih keji.

Dengan setting punk vs neo-Nazi, kita berpikir Saulnier mungkin akan menyindir dua ideologi radikal tersebut. Namun saya pikir elemen ini hanya menjadi mekanika yang dipakai untuk menyediakan protagonis dan antagonis. Para skinhead ini sudah mengambil sikap untuk melenyapkan saksi mata dengan segala cara. Komitmen ini adalah dedikasi akan ideologi mereka. "Ini bukan pesta, ini adalah pergerakan", ujar Darcy.

Untuk menciptakan ketegangan, Saulnier tentu saja memanfaatkan aspek teknis. Sinematografer Sean Porter mengambil komposisi sedemikian rupa untuk memberikan atmosfer suram. Musik berdistorsi kencang yang diputar di latar belakang atau suara feedback nyaring dari mikrofon menciptakan suasana tak mengenakkan, yang mengeskalasi nuansa klaustrofobik.

Namun kesuksesan terbesar Saulnier adalah naskahnya yang menciptakan karakter manusiawi. Bukan dalam konteks dimensi, kedalaman karakter atau semacamnya (film ini nyaris tak punya hal tersebut), melainkan bagaimana respon alamiah tiap tokoh terhadap situasi yang terjadi. Baik protagonis atau antagonis punya kesempatan berbuat atau mengambil keputusan yang salah. Konsekuensinya tak terprediksi dan permainan tarik ulur ini mencengkeram penonton.

Meski punya estetika visual ala arthouse, namun Green Room pada dasarnya adalah horor-slasher, hanya saja dengan injeksi adrenalin berkualitas. Film ini tak menawarkan eksplorasi psikologis kompleks seperti Blue Ruin. Film ini lebih dari sekedar seru. (NB: Untuk kalimat terakhir, saya hanya membuat hipotesis. Sulit menilai saat sensor lebih brutal daripada adegan brutalnya.) �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Green Room' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Dewasa

Sutradara Jeremy Saulnier
Penulis Jeremy Saulnier
Pemain Anton Yelchin, Imogen Poots, Patrick Stewart

Clown (2015) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer Film

Sinopsis lengkap Clown

Kent McCoy adalah seorang suami dan ayah yang penuh kasih. Ia mengadakan pesta ulang tahun untuk anaknya, Jack, lengkap dengan mendatangkan badut. Namun, badut yang disewanya malah pergi ke pesta lain. Kent menemukan kostum badut tua di loteng rumahnya. Ia memakainya untuk menghibur semua orang. Setelah pesta, Kent tertidur dengan mengenakan kostum badut itu. Namun, keesokan harinya, ia tidak dapat melepaskan kostum itu. Pakaian, wig dan hidung merahnya menempel di kulitnya. Ketika isterinya yang sedang hamil, Mag, mencoba membantu melepas hidung palsunya, hal itu merobek daging dan melukai dia. Kent juga menunjukan perilaku aneh dan rasa kelaparan yang sangat di perutnya.

Kent berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya dan melacak Herbert Karlsson, saudara dari Dr. Martin Karlson, seorang dokter spesialis kanker dan pemilik rumah sebelumnya. Kent mengetahui kostum itu sebenarnya kulit dan rambut setan kuno yang berasal Eropa Utara yang telah dilupakan: "Cloyne". Setan ini memakan 5 anak kecil pada bulan terdingin setiap tahun. Herbert Karlsson secara tiba-tiba berusaha membunuh dia dengan memenggal kepalanya, tapi gagal.

Kent berhasil kabur dan menjauhi keluargnya dengan menginap di sebuah hotel. Ia melawan dirinya yang baru, insting dan kelaparan yang berkembang di dalam dirinya, bahkan ia berusaha bunuh diri. Ia menembak dirinya di mulut, tapi ia tidak mati. Ia berusaha memenggal kepalanya dengan gergaji buzz, tapi gagal, malah mengakibatkan ia harus membunuh anak kecil sebagai gantinya. Ia menyerah dan menjadi setan. Korban pertamanya seorang anak yang pernah membuli Jack. Meg berusaha membantu suaminya dan melawan setan yang merasukinya. Putus asa, ia bersama Karlsson berusaha membebaskan Kent dari pakaian setan itu. Karlsson mempersiapkan diri membunuh Kent jika diperlukan.

Meg mendapatkan informasi dari Karlsson bahwa kebebasan dari kostum itu dapat diperoleh dengan memberikan apa yang diinginkan oleh si setan: anak-anak. Karlsson dan kakaknya Martin memilih mengorbankan anak-anak yang sakit parah dari klinik onkologi tempat Martin bekerja. Karlsson juga menjelaskan Meg bahwa kutukan itu mengikuti dengan segala bentuk. Ia menjelaskan bagaimana anjing kelurga mereka sebelumnya menderita kutukan itu setelah memakan "hidung" badut Kent, hingga ia terpaksa membunuhnya.

Saat ini Kent hampir sepenuhnya menghilang, mati akibat digantikan setan itu. Ia mulai berburu lebih banyak anak lagi. Ia menyelinap ke sebuah taman bermain, membunuh dan memakan anak-anak agar mencapai lima. Karlsson gagal membunuh Kent dan Meg berusaha menyadarkan suaminya. Sebaliknya, iblis menawarkan kesepakatan, yakni memakan satu anak lagi dan hal itu akan membebaskan Kent. Meg awalnya menerima, namun akhirnya ia menolak karena setan itu meminta Jack untuk dimakan.

Baca juga:

Setan badut berusaha mencari Jack untuk melahapnya, bahkan membunuh kakek Jack dan merobek rahangnya. Meg melawan suaminya, tetapi ia hamil, yang menarik setan itu untuk menyantap rahimnya. Setelah lama mengejar Meg di dalam rumah, Meg berhasil memukul kepalanya dengan palu, membunuh si setan dan suaminya. Di akhir cerita, kostum badut itu dibungkus oleh polisi untuk dianalisa.

Informasi film Clown

Sutradara:
Jon Watts

Produser:
Mac Cappuccino
Eli Roth
Cody Ryder

Penulis:
Christopher D. Ford
Jon Watts

Pemain:
Laura Allen, Christian Distefano, Andy Powers, Peter Stormare

Penata musik:
Matt Veligdan

Sinematografer:
Matthew Santo

Editor: 
Robert Ryang

Rumah produksi:
Cross Creek Pictures
PS 260
Vertebra Films
Zed Filmworks
Method Studios
Dragonfly Entertainment

Distributor:
Dimension Films

Tanggal rilis:
13 November 2014 (Italy)
17 Juni 2016 (US)

Durasi film:
100 menit

Negeri:
Amerika Serikat
Kanada

Bahasa:
Inggris

Poster film Clown

clown sinopsis

Trailer film Clown


Minggu, 24 April 2016

Video Maut (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Video Maut:

Bagi anda penikmat cerita horor, Sentra Films kembali menawarkan anda film bergenre horor di bulan April ini. Film yang memang ditujukan bagi penonton dewasa ini bercerita tentang sebuah video maut. Kenapa disebut demikian? karena memang awalnya video ini akan merenggut nyawa siapa saja yang menontonnya. Berawal dari sepasang kekasih bernama Doni dan juga Maya yang akan melewatkan malam mereka bersama disebuah villa. Sebenarnya awal niat Doni adalah membuat adegan ranjang bersama Maya untuk dijual kepada Alvin dan disebarkan di internet.

Tapi Maya yang polos malah mengajak teman-temannya untuk ikut bersama mereka, hal itu membuat Doni marah. Namun Doni tak kehilangan akal, tak mau diganggu dengan kehadiran teman-teman Maya, ia berbuat ulah agar teman-teman Maya pergi. Setelah rencananya berhasil, Doni pun melancarkan aksinya, menyiapkan kamera tersembunyi, ia mendekati dan merayu Maya. Mengetahui Maya menolak ajakannnya untuk tidur bersama. Doni mengikat Maya dengan tali dan menjalankan aksi busuknya. Maya yang terikat tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

Baca juga:

Sekelebat bayangan muncul saat Doni mencium bibir Maya. Bayangan tersebut mendekati mereka, apa yang didapati esok harinya, Doni tewas dan Maya menjadi gila. Saat polisi tiba di tempat kejadian perkara, mereka menemukan kamera yang menjadi bukti aksi Doni dan Maya, tapi saat diperiksa kamera tersebut kosong tidak ada isinya. Alvin yang mengetahui hal tersebut segera panik karena ia yang pebisnis video maksiat, karena tidak ingin tertangkap akhirnya Alvin mencari video tersebut. Ternyata video tersebut sudah tersebar di internet, Alvin merasa ada seseorang yang sengaja maruh video tersebut namun betapa terkejutnya ia mengetahui siapa saja yang telah menonton video tersebut akan meninggal.

Informasi film Video Maut:

Judul :
Video Maut

Jenis:
Horor

Produser:
Gobind Punjabi 

Sutradara:
George Hutabarat

Penulis:
Ashivery Kumar

Pemain:
Dj Rizuka, Arick Pramana, Mega Puspitasari, Arida Nuraini Primastiwi, Zahra Amalina

Produksi:
Sentra Films

Negara:
Indonesia

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Tanggal Rilis:
14 April 2016

Poster film Video Maut:


Video Maut

Trailer film Video Maut:




Kamis, 21 April 2016

Review Film: 'The Pack' (2015)

Kawanan anjing liar meneror sebuah keluarga di daerah pinggiran Australia dalam film horor yang mengambil pendekatan naratif atmosferis yang tak terlalu efektif.

�Straw Dogs meet The Grey.�
The Pack adalah film horor mengenai anjing liar yang meneror sebuah keluarga di daerah pinggiran Australia. Pemilihan Australia dengan segala hewan mautnya tak pernah setepat ini. Pertanyaannya: bisa seseram apa anjing liar? Maksud saya, tanpa mempertimbangkan risiko rabies? Sejujurnya saya tak tahu, tapi setidaknya dalam film ini mereka terlihat menyeramkan. Tampilan fisik dengan bulu hitam, bola mata bersinar, dan taring tajam benar-benar mengerikan, apalagi mereka selalu menyerang dalam rombongan.

Nah, film ini tak seperti "horor-hewani" (oke, istilah ini aneh) menggelikan semacam Anaconda dimana kenikmatan menonton diperoleh saat para manusia dilahap oleh sang binatang. Alih-alih sutradara Nick Robertson menanganinya seperti film horor supranatural yang lebih bergantung pada pembangunan suspens. Kita tahu si peneror (dalam hal ini anjing liar) selalu siap meneror, tapi tak tahu kapan dan dimana.


Adam Wilson (Jack Campbell) adalah seorang peternak yang tinggal bersama sang istri, Carla (Anna Lise Phillips) dan kedua anaknya di daerah pedesaan yang sepi, karena mereka tampaknya tak tahu bahwa hal-hal menyeramkan biasa terjadi di daerah seperti itu. Di awal film tentu saja kita diperkenalkan dengan dinamika keluarga ini: di tengah permasalahan hilangnya hewan ternak mereka, Adam dan Carla harus berkutat dengan masalah hutang dan ancaman penyitaan rumah, anak sulung mereka (Katie Moore) ngotot ingin kembali ke kota, sementara si bungsu (Hamish Phillips) sibuk dengan dunianya sendiri. Semua tak begitu penting sebenarnya, mengingat The Pack hanyalah tentang teror dan bukan tentang plot.

Singkat cerita, keluarga ini dikepung oleh gerombolan anjing liar haus darah. Korbannya mulai dari tetangga, petugas bank hingga polisi yang awalnya berniat membantu. Sebuah sekuens yang membuat bergidik saat rombongan anjing ini menerkam dan mencabik petugas polisi yang tidak siap dengan apa yang akan dihadapinya. Anjing-anjing liar ini terlihat meyakinkan berkat efek visual yang dibuat dengan kompeten; menggunakan anjing sungguhan serta menggabungkan practical effects yang dipoles sedikit CGI.

Naskah dari Evan Randall Green tak punya banyak dialog, sementara Robertson melakukan pembangunan atmosfer dan menyajikan (terlalu banyak) jump scares secara bergantian. Pengambilan gambar melalui kamera steady dengan zooming perlahan serta scoring dengan musik latar menyeramkan menciptakan suasana hening yang efektif, kalau saja tak terlalu repetitif.

Penampilan yang solid dari para pemain sayangnya harus dinodai dengan karakterisasi mereka yang dungu. Seriusan mau berlindung di balik pintu tipis yang bahkan didorong angin saja gampang? Satu tindakan bodoh berlanjut ke tindakan bodoh yang lain. Dan, oh, anjing liar disini begitu tangguh. Mereka kebal ditusuk atau ditembak. Saya belum pernah ke Australia, namun jika memang anjing aslinya sekuat itu, mungkin film dokumenternya lebih seram daripada film ini. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Pack' |
|

IMDb | Rottentomatoes
90 menit | Remaja

Sutradara Nick Robertson
Penulis Evan Randall Green
Pemain Anna Lise Phillips, Jack Campbell, Katie Moore

Selasa, 19 April 2016

Rumah Pasung (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Rumah Pasung:


Natasha Wilona harus berjuang bersama Stefan William dari rumah berhantu. Film yang bertema horor ini akan menyatukan kembali Natasha Wilona sebagai Farah dan Stefan William sebagai Ryan. Dikisahkan Ryan adalah anggota crew dari sebuah program acara TV tentang hal-hal gaib bernama Horror Calling. Ryan bersama teman-temannya, Sultan (Wafdal) dan Mayang (Mayang Yudith), sering bepergian ke pergi ke tempat-tempat yang memeiliki kekuatan gaib dimana Ryan sebagai pembawa acara dan Mayang partnernya adalah seorang indigo dan bertugas untuk menunjukan makhluk supranatural sedangkan Sultan bekerja sebagai kameramen. 

Baca juga :

Suatu hari Ryan mendapatkan kabar bahwa ayah kandung baru saja meninggal dan ia harus pulang. Ryan tidak pernah berpikir bahwa selama ini ia adalah anak adopsi dari Harsono dan Ratna, setelah sekian lama ia tidak pernah mengetahui hal yang sebenarnya. Namun dibalik semua itu, Ayah kandung Ryan memberikan wasiat terakhir yaitu rumah yang letaknya sangat jauh dari kota. Saat Ryan dan Farah datang untuk melihat rumah tersebut, keduanya merasa senang karena rumah tersebut sangat besar dan jauh dari kebisingan kota walaupun keadaan rumah besar itu sangat kotor dan terbelengkalai karena sekian tahun tidak ada yang menempati.

Tapi kesenangan mereka harus berhenti saat kejadian-kejadian aneh menimpa mereka. Farah yang lebih merasakan kengerian tersebut. Keadaan Farah yang sering mengalami  halusinasi, seperti muntah darah dan terkena kaca yang meledak atau sering melihat bayangan seorang wanita yang dipasung membuat Ryan mencari bantuan. Ia mengajak Mayang dan Sultan untuk menyelidiki rumah tersebut. Mayang mengetahui bahwa halusinasi Farah disebabkan oleh arwah wanita yang ingin membalas dendam. Farah akhirnya mengaku bahwa ia pergi ke ruang bawah tanah dan menemukan sebuah buku puisi yang sebenarnya tidak boleh dibaca karena ternyata buku tersebut adalah buku mantra yang membangkitkan kembali arwah Yasmin.

Informasi film Rumah Pasung:

Judul :
Rumah Pasung

Jenis:
Horor

Produser:
Prem Mulani, Michael Manwani

Sutradara:
Nayato Fio Nuala

Penulis:
Erry Sofid

Pemain:
Stefan William, Natasha Wilona, Mayang Yudith, Wafdal

Produksi:
Indofilm

Negara:
Indonesia

Bahasa:
Indonesia

Tanggal Rilis:
28 April 2016

Trailer film Rumah Pasung:


Poster film Rumah Pasung:


Rumah Pasung (2016)

Rabu, 23 Maret 2016

Ghost Diary - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer






Informasi film Ghost Diary :
Judul :
Ghost Diary

Jenis :
Horror

Produser :
Prasanti Andrini, Max Anderson

Sutradara:
Aris Martin

Penulis :
Baskoro Adi, Wuryanto, Stella Gunawan

Pemain :
Dhea Anissa, Ajun Perwira, Sarah Watson, Moniq Crasivaya, Anisa Sheban, Rita Hasan

Produksi:
Prashanti Widya Sinema

Negara :
Indonesia

Bahasa :
Indonesia

Tanggal Rilis :
7 April 2016

Poster film Ghost Diary :
Ghost Diary
  
Trailer film Ghost Diary :

Sinopsis film Ghost Diary :

Film Horor Indonesia siap menghibur anda di bulan April ini. Ghost Diary yang merupakan film arahan dari Aris Martin akan siap menghibur anda sebulan mendatang. Dengan mengambil tema horor yang melanda sebuah asrama putri anda akan diajak untuk menguak misteri dari keanehan asrama tersebut. Berkat naskah  cerita dari Baskoro Adi, Wuryanto, dan Stella Gunawan yang akan menampilkan akting dari sejumlah aktris dan aktor seperti Dhea Anissa, Ajun Perwira, Sarah Watson, Moniq Crasivaya, Anisa Sheban, dan Rita Hasan. 

Ghost Diary menceritakan seorang gadis berusia 16 tahun, Marsha, yang merupakan murid perempuan di sekolah khusus putri namun ia tidak memiliki kehidupan yang tenang. Di sekolahannya, ia selalu menjadi korban bullying oleh Putri, Stefani dan Nina, kelompok anak-anak populer dan di rumah keberadaannya tidak diterima sama sekali oleh ibu tirinya. Marsha yang sudah kehilangan ibu kandungnya tidak bisa pulang seperti murid lain dan terpaksa tinggal di asrama milik sekolahnya.

Saat liburan tiba Putri , Stefani dan Nina tidak bisa pulang karena harus menerima hukuman akibat perbuatan mereka yang kerap mengganggu Marsha. Masa liburan Marsha semakin menjadi-jadi karena kehadiran ketiga orang tersebut, tapi satu hal lagi yang mengganggunya, suara tangisan dari ruangan di lantai atas asramanya. Marsha akhirnya melaporkan suara tangisan tersebut kepada Rosa si pembina asramanya, namun ia mengatakan bahwa Marsha hanya berhalusinasi.

Baca juga :

Keanehan tersebut semakin mengganggu Marsha tiap malam. Suatu ketika ia memberanikan diri untuk mencari tahu tentang suara tersebut. Saat mengecek ruangan tersebut ia menemukan sebuah Diary. Diary tersebut sebenarnya milik Yulia, seorang murid lama yang bersekolah di sekolahan yang sama dengan Marsha. Ternyata kisah kehidupan Yulia dan Marsha hampir sama, di sekolahannya Yulia juga terkenal kerap dibully oleh teman-teman hingga akhirnya ia meninggal.

Marsha yang berusaha untuk lari dari kejaran Rosa dan staf-staf di sekolahnya  karena ia menemukan satu rahasia yang disembunyikan dari Diary tersebut.

Dapatkah Marsha mengungkap kebenaran tersebut kepada orang lain? akankah hidup Marsha berakhir sama dengan Yulia? Saksikan kelanjutannya dalam film Ghost Diary.

Jumat, 18 Maret 2016

Amityville: The Awakening (2017) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer






Informasi film Amityville: The Awakening :

Sutradara:
Franck Khalfoun

Produser:
Jason Blum
Daniel Farrands
Casey La Scala

Penulis:
Daniel Farrands
Casey La Scala
Franck Khalfoun

Pemain:
Jennifer Jason Leigh, Bella Thorne, Cameron Monaghan, Thomas Mann, Kurtwood Smith

Sinematografer:
Steven Poster

Editor:
Patrick McMahon

Rumah produksi:
Blumhouse Productions
Panic Ventures
Baron Films

Distributor:
Dimension Films

Tanggal rilis:
6 Januari 2017 (Amerika Serikat)

Negeri:
Amerika Serikat

Bahasa:
Bahasa Inggris

Poster film Amityville: The Awakening :



Sinopsis film Amityville: The Awakening :

Film berdurasi  1 jam 40 menit dengan genre Horror dan Suspense ini dibintangi oleh Bella Thorne, Jennifer Jason Leigh serta Madison Pettis. Film ini diarahkan oleh sutradara Daniel Farrands dan Casey La Scala yang juga merangkao sebagai penulis skenarionya.

Film produksi The Weinstein Company ini berkisah tentang Belle dan keluarganya yang baru saja pindah ke rumah baru. Saat itu banyak sekali muncul kejadian serta fenomena aneh dan menyeramkan di rumah tersebut. Belle mulai curiga saat itu terutama kepada ibunya yang tidak bercerita apa-apa, barulah Belle kemudian belakangan mengetahui bahwa rumah yang disinggahinya saat ini merupakan rumah fenomenal Amityville. Aktris Jennifer Jason Leigh berperan sebagai seorang ibu tunggal atau single parent bersama ketiga anaknya yang pindah ke rumah Amityville. Disinilah awal mula keluarga kecil ini dihantui dan diteror sepanjang hidupnya menempati rumah hantu Amityville.

Baca juga:
 Amityville menyajikan peristiwa serta kejadian asli berdasarkan buku asli �The Amityville Horror� dan filmnya dibuat setingan waktu lampau kembali ke tahun 1976. Seorang perempuan ambisius yang sedang magang di suatu stasiun berita televisi, nyaris memecahkan kasus rumah terkenal paling angker di seluruh dunia, membentuk tim jurnalis, rohaniwan, serta peneliti dan paranormal dalam menyelidiki segala peristiwa aneh yang datang dan bermunculan sebagai Teror Amityville. Beberapa rekaman video dihasilkan dan ditemukan melalui penyelidikan ke rumah hantu.

Selasa, 15 Maret 2016

Review Film: 'Last Shift' (2015)

'Last Shift' punya premis yang sederhana tapi sutradara Anthony DiBlasi benar-benar mengeksplorasinya sedemikian rupa hingga film ini bisa saya sebut sebagai salah satu yang cukup baik di genrenya.

�All hail the king of hell.�
Last Shift punya premis yang sederhana tapi sutradara Anthony DiBlasi benar-benar mengeksplorasinya sedemikian rupa hingga film ini bisa saya sebut sebagai salah satu yang cukup baik di genrenya. Jika berada sendirian di tempat sepi adalah salah satu ketakutan terbesar anda, maka Last Shift akan menjadi film yang sangat menyeramkan.

Saat sebuah film horor lebih menggantungkan horornya melalui jump-scares, otak saya otomatis telah berada dalam mode skeptis. Last Shift bukanlah film yang menghindari metode standar tersebut. DiBlasi tetap menggunakannya di beberapa bagian, tapi tidak secara sporadis. Plus, ia juga peduli dengan pembangunan atmosfer yang didukung dengan tata suara. Film ini adalah film horor murahan, namun ia efektif. Selain punya nuansa horor klasik (oke, mungkin analoginya sedikit berlebihan), ia juga menampilkan teror visual seperti sadisme (darah berceceran, organ berserakan, dll) atau penampakan yang menakutkan.


Ceritanya mengenai Jessica (Julianna Harkavy) , seorang polisi baru yang mendapat tugas jaga malam di sebuah kantor polisi lama. Tugas ini seharusnya menjadi pekerjaan yang gampang, karena semua semua personil dan peralatan operasional telah dipindahkan ke gedung baru, termasuk panggilan 911 (panggilan darurat) yang langsung dialihkan agar terhubung ke kantor baru.

Seperti yang kita duga (dan kita harapkan tentunya, karena ini adalah film horor, dimana kita ingin ditakut-takuti), peristiwa-peristiwa aneh mulai terjadi. Entah itu sekadar kejadian ganjil yang masih masuk logika, seperti gelandangan yang menerobos masuk dan pipis sembarangan atau telepon yang tiba-tiba berdering, hingga aktivitas supranatural seperti suara-suara menyeramkan dan penampakan-penampakan mistis.

Mengambil sudut pandang Jessica yang notabene merupakan rookie yang baru pertama kali berada di gedung tersebut, kita dibawa berkeliling sementara Jessica mendapati detil-detil baru mengenai seluk-beluk gedung lama ini. DiBlasi menyajikannya dengan perlahan, lapisan demi lapisan. Bahkan saat saya merasa bahwa terornya yang berhubungan dengan sekte sesat pemuja setan (bukan spoiler, sungguh) diungkap terlalu dini, Last Shift ternyata tetap tak kehilangan keseramannya.

Sederhananya, film ini memakai formula haunted house, namun lebih cenderung ke horor psikologis. Nah bagi penikmat horor yang sering berteriak "Kenapa [nama tokoh utama] tak keluar saja sih dari sana?", film ini punya motif yang cukup kuat hingga Jessica tak mau keluar dari sana. Separuhnya adalah dedikasi pada pekerjaan dan separuhnya lagi adalah rasa hormatnya pada sang ayah yang gugur dalam tugas. Dengan penampilan yang solid, Harkavy menjadikan Jessica bukan sebagai salah satu karakter paling manusiawi dalam film horor, bukannya dungu sebagaimana yang biasa kita dapati dalam film horor kekinian. Rentetan kejadian menyeramkan ini tak hanya mengguncang keberanian, melainkan juga kewarasannya.

Satu kekurangannya bagi saya mungkin adalah alurnya yang terasa draggy di beberapa bagian. Untuk ukuran film berdurasi 87 menit, film ini terasa lebih panjang daripada kelihatannya. Entahlah, mungkin disebabkan karena keterbatasan ruang gerak sehingga terkadang terkesan repetitif. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Last Shift' |
|

IMDb | Rottentomatoes
87 menit | Remaja

Sutradara Anthony DeBlasi
Penulis Anthony DiBlasi, Scott Poiley
Pemain Julianna Harkavy, Joshua Mikel, J. LaRose

Senin, 14 Maret 2016

The Darkness - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

 Sinopsis film The Darkness :

Produser film Insidious 3 sekali lagi membuat film bergenre horror bersama Matthew Kaplan, Bianca Martino dan Greg McLean. Film yang siap memicu adrenalin anda ini dijadwalkan akan tayang pada 13 Mei 2016. Film The Darkness ini disutradarai oleh Greg McLean dan akan memberikan bintang-bintang Hollywood untuk beradu akting seperti, Kevin Bacon, Radha  Mitchell, David Mazouz,Lucy Fry, Matt Walsh, Jennifer Morrison, dan Parker Mack. Dengan plot cerita yang ditulis oleh Shayne Armstrong, Shane Krause, Greg McLean akan mengajak anda untuk memecahkan kasus dari keluarga Taylor.
Film ini bercerita tentang keluarga Taylor yang sedang berlibur bersama di Grand Canyon. Michael yang masih anak-anak mempunyai keingintahuan yang besar terhadap tempat tersebut namun keinginannya membuat ia menjadi korban dari kekuatan gelap. Michael mengambil satu batu keramat dari gua rahasia yang ia temukan. Di dalam gua tersebut terdapat lukisan tangan yang berwarna hitam yang ternyata menjadi tempat pemujaan orang-orang indian dulunya. 
Baca juga :

Sesampainya dirumah Michael belum memiliki gejala apapun, namun saat ia mulai bermain dengan batu tersebut masalah mulai terjadi berbagai keganjilan terjadi di dalam rumah keluarga Taylor seperti keberadaan serigala dan ular dalam rumah mereka. Kakak peremupan Michael, Stephanie mulai ketakutan dengan kehadiran sosok yang tak dikenal di dalam kamarnya. Akhirnya keluarga Taylor tidak tahan lagi dan meminta bantuan dari orang lain untuk melepaskan makhluk yang bisa merenggut Michael dan keluarganya.

Akankah usaha mereka berhasil? dapatkah Michael lepas dari makhluk tersebut? Saksikan kisah mereka dalam film The Darkness pada 13 Mei 2016.

Informasi film The Darkness :

Judul :
The Darkness

Jenis :
Horror

Produser :
Jason Blum, Matthew Kaplan, Bianca Martino ,Greg McLean

Sutradara :
Greg McLean
Penulis :
Shayne Armstrong, Shane Krause, Greg McLean
Pemain :
Kevin Bacon, Radha  Mitchell, David Mazouz,Lucy Fry, Matt Walsh, Jennifer Morrison, Parker Mack

Produksi :
High Top Releasing, Blumhouse Tilt, Chapter One Films
Negara :
Amerika
Bahasa :
Inggris
Tanggal Rilis :
 Mei 13 2016

Poster film The Darkness :

The Darkness

Trailer film The Darkness :



Rabu, 09 Maret 2016

Film Backtrack (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer





Informasi film Backtrack :

Sutradara:
Michael Petroni

Produser:
Antonia Barnard
Jamie Hilton
Michael Petroni

Penulis:
Michael Petroni

Pemain:
Adrien Brody
Bruce Spence
Sam Neill
Robin McLeavy
Malcolm Kennard
Jenni Baird

Penata musik:
Dale Cornelius

Sinematografer:
Stefan Duscio

Editor:
Martin Connor
Luke Doolan

Rumah produksi:
Head Gear Films
Metrol Technology
Screen Australia
See Pictures

Distributor:
Saban Films

Tanggal rilis:
18 April 2015 (Tribeca Film Festival)
29 January 2016 (Inggris)

Durasi:
90 menit

Negeri:
Australia

Bahasa:
English

Poster film Backtrack:


Trailer film Backtrack:


Sinopsis film Backtrack :

Backtrack adalah sebuah film yang mengangkat kisah seorang psikoterapis. Psikoterapis yang diceritakan di dalam film ini mengalami gangguan psikis berat. Permasalahan psikis yang dideritanya berawal dari sebuah mimpi buruk yang sangat mengerikan. Selang beberapa waktu setelah mengalami mimpi buruk tersebut, sang psikoterapis mengalami halusinasi. Dia sering melihat  penampakan-penampakan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

Dalam film ini, tokoh psikoterapis tersebut bernama Peter Bowers. Gangguan kejiwaan yang dialami Peter berhubungan erat dengan upayanya mengungkap sebuah rahasia dari cerita yang mengerikan. Uniknya, cerita tersebut berasal dari kliennya sendiri. Seolah tidak mampu menghindar dari cerita mengerikan itu, Peter justru larut di dalamnya. Peter terlanjur menempatkan dirinya dalam bayangan. Peter merasa kembali ke kampung halamannya yang sangat jauh. Tempat itu adalah tempat yang telah lama ia tinggalkan dan menyisakan trauma bagi dirinya.

Peter yang terjebak oleh profesinya sendiri harus mencoba memecahkan misteri cerita yang terjadi puluhan tahun sebelumnya itu. Cerita tersebut adalah kunci satu-satunya untuk menyelamatkan jiwanya yang selalu dilanda ilusi dan halusinasi. Selama memecahkan misteri cerita yang menjeratnya itu, Peter merasa terbantu oleh cerita para kliennya yang lain.

Baca juga:
Film yang penuh teka-teki ini berdurasi selama 90 menit. Film ini akan dirilis pada 11 Maret 2016. Backtrack disutradarai oleh Michael Petroni.  Film ini menampilkan beberapa aktor kenamaan seperti Adrien Brody (tokoh sentral), Sam Neill, Jenni Baird, Robin Mc Leavy, Chloe Bayliss, serta aktris Anna Lise Philips.

Selasa, 01 Maret 2016

Film Rings (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer






Informasi Film Rings (2016) :


Judul :

Rings

Jenis :
Horror, Thriller

Produser :
Laurie MacDonald, Walter F. Parkes

Sutradara :
F. Javier Guti�rrez

Penulis :
David Loucka, Jacob Aaron Estes, Akiva Goldsman

Produksi :
Paramount Pictures

Pemain :
Matilda Lutz, Alex Roe, Johnny Galecki

Negara :
Amerika

Bahasa :
Bahasa Inggris

Poster film Rings (2016) :

The Rings


Trailer Film Rings (2016):



Sinopsis Film Rings (2016): 

Siapa yang tidak kenal dengan film The Ring? Film horor yang satu ini memang mempunyai keunikan tersendiri. Di adapatasi dari film asal Jepang yang berjudul sama ini memang sudah melegenda, apalagi dengan munculnya sosok wanita yang tiba-tiba keluar dari sumur. Kali ini Paramount Pictures ingin mengulang momen mendebarkan tersebut sekali lagi dengan Film Rings. Film Rings yang merupakan film lanjutan dari film The Ring dan The Ring Two, mulanya diberi judul The Ring 3D. Film yang masih mengusung kisah horor thriller yang tersembunyi dalam isi tape ini akan disutradarai oleh sutradara film Demonic, F. Javier Guti�rrez dengan menggandeng David Loucka, Jacob Aaron Estes, dan Akiva Goldsman sebagai penulis naskah, film yang akan melanjutkan drama horor Samara ini akan berujung dengan banyak kematian. Selain ketiga penulis tersebut F. Javier Guti�rrez juga akan menggandeng Matilda Lutz, Alex Roe, dan Johnny Galecki  untuk membintangi Film Rings ini.

Di film Rings ini Matilda Lutz akan memerankan seorang gadis SMA bernama Julia. Di samping kesibukan sekolahnya Julia memiliki kekasih yang bernama Holt (Alex Roe). Holt yang sudah duduk dibangku kuliah harus memilih hubungan jarak jauh dengan Julia. Karena ketakutan Julia akan kehilangan sosok Holt, akhirnya membuat Julia pergi menemui Holt. Julia yang mulai menemukan keganjilan terhadap klub kampus yang di ikuti Holt mulai berujung dengan kematian.

Baca juga:

Klub tersebut memainkan kaset kutukan yang berisi Samarra Morgan. Kaset tersebut dimainkan dan diedarkan dari satu anggota ke anggota lainnya. Selain itu ternyata Hock sudah menonton kaset tersebut enam hari yang lalu yang artinya besok adalah hari terakhir Hock hidup. Dengan perasaan takut, mereka mencari jalan keluar, dengan dibantu oleh Profesor Gabriel (Johnny Galecki ), mereka mulai menemukan sisi gelap dari Samara.

Apakah Julia dan Hock berhasil selamat? Apakah mereka dapat keluar dari lingkaran kematian tersebut?Saksikan dalam film Rings pada 1 April 2016.


Rabu, 24 Februari 2016

Review Film: 'The Other Side of the Door' (2016)

'The Other Side of the Door' tak punya elemen dasar (baca:seram) yang bisa mengalihkan kita dari plot dan karakterisasinya yang rutin.

Houw can you sleep so soundly?
Maria
The Other Side of the Door tepat berakhir saat ceritanya mulai menarik. Ketika salah satu karakternya berada di balik pintu, kita nyaris punya kesempatan untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi di dunia seberang. Namun kemudian credit title-nya berjalan. Dan apa yang kita dapatkan hanyalah film horor standar yang tak begitu menakutkan.

Film ini mengambil tempat di India, tapi tak menghadirkan nuansa India yang kuat. Ini adalah film rumah hantu yang diberi kemasan berbeda. Ceritanya bisa terjadi di mana saja. Dengan plot yang sama, anda bisa memindahkan setnya ke Amerika, Inggris atau bahkan Indonesia dan transisi ini takkan kentara.

Cukup disayangkan karena setting mengijinkan filmnya untuk memanfaatkan keunikan tradisi dan mitologi setempat untuk dieksploitasi menjadi elemen horor. Namun penulis naskah Johannes Roberts dan Ernest Riera tak melakukan hal tersebut, kecuali menghadirkan entitas supranatural dari legenda lokal atau sekte ekstrim setempat.


Sarah Wayne Callies bermain sebagai Maria dan Jeremy Sisto sebagai suaminya, Michael. Bersama dengan satu anak perempuan bernama Lucy, mereka menetap di Mumbai. Kita melihat ada yang salah dengan perilaku Maria yang depresif. Dan melalui flashback, kita mengetahui bahwa anak lelaki mereka, Oliver tewas tenggelam pasca kecelakaan mobil. Maria tak sempat menyelamatkan Oliver dan rasa bersalah membuatnya berkutat dengan trauma.

Tak tega melihat majikannya stres dan juga pernah mengalami kehilangan yang sama, sang pembantu Piki (Suchitra Pillai) menawarkan Sarah kesempatan untuk penebusan. Ada sebuah kuil di pegunungan yang kabarnya merupakan batas antara dunia manusia dengan dunia arwah. Jika menabur abu Oliver disana lalu mengunci diri di dalam kuil, Maria bisa berbicara dengannya. Pantangannya adalah Maria tidak boleh membuka pintu sama sekali, tak peduli jika suara Oliver memohon padanya. Pastinya, karakter di film horor tak ada yang tak bandel.

Ngomong-ngomong Maria berhasil pulang dengan selamat, namun ia tak pulang sendirian. Dari sini sutradara Johannes Roberts menyajikan rutinitas klasik film horor seperti suara-suara aneh, delusi menyeramkan, mainan yang bergerak tiba-tiba, atau piano yang main sendiri yang semuanya dikemas dalam jump scare bersuara lantang. Bukan situasi paranormal saja, elemen tadi juga ditambahkan dengan keberadaan Myrtu, makhluk bertangan empat yang merupakan penjaga dunia kematian. Ada pula beberapa bagian yang dimaksudkan untuk pembangunan atmosfer melalui sorotan kamera steady. Adegan saat Piki menemukan bahwa semua tanaman di sekitar rumah mengering adalah kejutan visual yang cukup bagus.

Penampilan Callies memenuhi tuntutan naskah yang membuatnya harus terlihat bahagia saat pertama kali "dikunjungi" hantu namun ngeri saat menyadari bahwa itu bukanlah Oliver yang dia kenal. Sisto menjadi karakter suami klise yang bertugas untuk punya kesibukan tertentu di kantor, sehingga istrinya bisa dihantui sendirian di rumah. Ketika Maria memberitahu kejadian aneh yang dialaminya, Michael menganggapnya paranoid.

Semua ini bisa bekerja efektif bahkan dalam film horor kelas B. Namun The Other Side of the Door tak punya elemen dasar (baca:seram) yang bisa mengalihkan kita dari plot dan karakterisasinya yang rutin. Saya lebih memilih melihat bagian seberang pintu �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Other Side of the Door' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Remaja - BO

Sutradara Johannes Roberts
Penulis Ernest Riera, Johannes Roberts
Pemain Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Kate Dickie

Jumat, 12 Februari 2016

Review Film: 'Pride and Prejudice and Zombies' (2016)

Perbedaan karakteristik antara novel Jane Austen dengan budaya pop semacam zombi memberikan daya tarik tersendiri sebagaimana yang terlihat dari judulnya. Sayang, daya tarik tersebut menguap dengan cepat.

�I do not know which I admire more. Your skill as a warrior or your resolve as a woman.�
� Elizabeth Bennet
Bagi yang masih meragukan judulnya, Pride and Prejudice and Zombies adalah film mengenai Pride and Prejudice dan (tentu saja) zombi. Bersetting di Inggris pada abad 19, Pride and Prejudice adalah novel klasik karya Jane Austen yang menyoroti kesetaraan gender serta strata sosial. Ketidakcocokan karakteristiknya dengan budaya pop semacam zombi memberikan daya tarik tersendiri sebagaimana yang terlihat dari judulnya. Sayang, daya tarik tersebut menguap dengan cepat.

Sang penulis novel, Seth Grahame-Smith tak membuat plotnya dengan asal. Secara garis besar, ceritanya masih sama denga kisah orisinalnya, termasuk karakter, perkembangan plot hingga beberapa dialog (Grahame-Smith bahkan menambahkan nama Austen sebagai penulis). Yang menjadi pembeda hanyalah keberadaan zombi yang diselipkan disana-sini.


Tokoh utamanya masih Elizabeth Bennet (Lily James), anak kedua dari 5 bersaudara yang kesemuanya gadis dan selalu ditekan agar cepat menikah; lebih disarankan jika calonnya adalah pria mapan dari keluarga ternama. Kakak Elizabeth, Jane (Bella Hotchcone) menjalin hubungan asmara dengan Mr. Bingley (Douglas Booth), pria berkarakteristik seperti yang saya sebutkan tadi, yang membuat Elizabeth berkenalan dengan sahabat dekat Bingley, Mr. Darcy (Sam Riley). Kepribadian Darcy yang songong sementara Elizabeth yang feminis menjadikan interaksi keduanya berada dalam status benci-tapi-cinta.

Nah yang perlu anda tahu adalah zombi tidak datang sekonyong-konyong disini. Di jaman itu, manusia sudah familiar dengan zombi dan rakyat Inggris berhasil bertahan hidup dengan membangun tembok besar sebagai pemisah dengan para mayat hidup. Anak gadis Bennet telah dilatih sejak kecil (bahkan katanya mereka sempat belajar kungfu langsung ke Cina). Kemampuan mereka berdandan dan menata rambut sama bagusnya dengan kapabilitas mengayunkan pedang atau menembakkan pistol (momen-momen seperti inilah yang justru menjadi momen paling menarik dari film ini).

Mungkin hal tersebut sulit dilakukan karena mereka harus memakai gaun sepanjang film, namun kelimanya tampak meyakinkan dalam setiap aksinya. Lily James tampil garang sebagai Elizabeth yang punya daya bunuh zombi tak kalah dari Darcy, sembari tetap membawakan sensitivitas dari karakternya. Porsi yang lebih sedikit dimainkan oleh Lena Headey sebagai Lady Catherine de Bourgh (disini ia menjadi pembantai zombi legendaris), Jack Huston sebagai George Wickham, dan Matt Smith sebagai Mr. Collins yang menjadi comic relief meski lebih sering menjengkelkan.

Selain Pride and Prejudice and Zombies, Grahame-Smith adalah penulis yang berada di balik Abraham Lincoln: Vampire Hunter yang sempat pula diadaptasi menjadi film. Dalam film tersebut, sutradara Timur Bekmambetov menangani premis konyolnya dengan serius hingga ke taraf menggelikan-tapi-seru (filmnya bahkan punya beberapa sekuens aksi yang menegangkan), namun disini Burr Steers tampaknya tak mampu memantapkan nuansa filmnya. Jamuan makan malam yang berubah menjadi pembantaian zombi punya transisi yang canggung. Meski dibawakan dengan koreografi yang baik, eksekusi yang sembarangan membuat setiap sekuens aksinya terkesan sebagai parodi. Yap, termasuk adegan klimaks yang di atas kertas mungkin bermaksud menggabungkan Battle of London dengan Zombie Apocalypse namun tampak lebih cocok berada dalam film televisi.

Melihat tata produksinya yang bagus, saya memprediksi Steers bisa membuat adaptasi Pride and Prejudice yang lumayan. Set, lokasi dan kostumnya menawan sementara beberapa adegan, khususnya yang indoor diambil dengan baik. Tapi usahanya menggabungkan kisah Austen dengan elemen horor tidaklah nge-klik sama sekali. Mungkin film gado-gado semacam ini bisa berhasil, namun yang ini tidak. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Pride and Prejudice and Zombies' |
|

IMDb | Rottentomatoes
108 menit | Remaja

Sutradara Burr Steers
Penulis Burr Steers (screenplay), Seth Grahame-Smith, Jane Austen (buku)
Pemain Lily ames, Sam Riley, Jack Huston

Recent Post