Latest News

Adbox

Rabu, 24 Februari 2016

Review Film: 'The Other Side of the Door' (2016)

'The Other Side of the Door' tak punya elemen dasar (baca:seram) yang bisa mengalihkan kita dari plot dan karakterisasinya yang rutin.

Houw can you sleep so soundly?
Maria
The Other Side of the Door tepat berakhir saat ceritanya mulai menarik. Ketika salah satu karakternya berada di balik pintu, kita nyaris punya kesempatan untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi di dunia seberang. Namun kemudian credit title-nya berjalan. Dan apa yang kita dapatkan hanyalah film horor standar yang tak begitu menakutkan.

Film ini mengambil tempat di India, tapi tak menghadirkan nuansa India yang kuat. Ini adalah film rumah hantu yang diberi kemasan berbeda. Ceritanya bisa terjadi di mana saja. Dengan plot yang sama, anda bisa memindahkan setnya ke Amerika, Inggris atau bahkan Indonesia dan transisi ini takkan kentara.

Cukup disayangkan karena setting mengijinkan filmnya untuk memanfaatkan keunikan tradisi dan mitologi setempat untuk dieksploitasi menjadi elemen horor. Namun penulis naskah Johannes Roberts dan Ernest Riera tak melakukan hal tersebut, kecuali menghadirkan entitas supranatural dari legenda lokal atau sekte ekstrim setempat.


Sarah Wayne Callies bermain sebagai Maria dan Jeremy Sisto sebagai suaminya, Michael. Bersama dengan satu anak perempuan bernama Lucy, mereka menetap di Mumbai. Kita melihat ada yang salah dengan perilaku Maria yang depresif. Dan melalui flashback, kita mengetahui bahwa anak lelaki mereka, Oliver tewas tenggelam pasca kecelakaan mobil. Maria tak sempat menyelamatkan Oliver dan rasa bersalah membuatnya berkutat dengan trauma.

Tak tega melihat majikannya stres dan juga pernah mengalami kehilangan yang sama, sang pembantu Piki (Suchitra Pillai) menawarkan Sarah kesempatan untuk penebusan. Ada sebuah kuil di pegunungan yang kabarnya merupakan batas antara dunia manusia dengan dunia arwah. Jika menabur abu Oliver disana lalu mengunci diri di dalam kuil, Maria bisa berbicara dengannya. Pantangannya adalah Maria tidak boleh membuka pintu sama sekali, tak peduli jika suara Oliver memohon padanya. Pastinya, karakter di film horor tak ada yang tak bandel.

Ngomong-ngomong Maria berhasil pulang dengan selamat, namun ia tak pulang sendirian. Dari sini sutradara Johannes Roberts menyajikan rutinitas klasik film horor seperti suara-suara aneh, delusi menyeramkan, mainan yang bergerak tiba-tiba, atau piano yang main sendiri yang semuanya dikemas dalam jump scare bersuara lantang. Bukan situasi paranormal saja, elemen tadi juga ditambahkan dengan keberadaan Myrtu, makhluk bertangan empat yang merupakan penjaga dunia kematian. Ada pula beberapa bagian yang dimaksudkan untuk pembangunan atmosfer melalui sorotan kamera steady. Adegan saat Piki menemukan bahwa semua tanaman di sekitar rumah mengering adalah kejutan visual yang cukup bagus.

Penampilan Callies memenuhi tuntutan naskah yang membuatnya harus terlihat bahagia saat pertama kali "dikunjungi" hantu namun ngeri saat menyadari bahwa itu bukanlah Oliver yang dia kenal. Sisto menjadi karakter suami klise yang bertugas untuk punya kesibukan tertentu di kantor, sehingga istrinya bisa dihantui sendirian di rumah. Ketika Maria memberitahu kejadian aneh yang dialaminya, Michael menganggapnya paranoid.

Semua ini bisa bekerja efektif bahkan dalam film horor kelas B. Namun The Other Side of the Door tak punya elemen dasar (baca:seram) yang bisa mengalihkan kita dari plot dan karakterisasinya yang rutin. Saya lebih memilih melihat bagian seberang pintu �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Other Side of the Door' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Remaja - BO

Sutradara Johannes Roberts
Penulis Ernest Riera, Johannes Roberts
Pemain Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Kate Dickie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post