Latest News

Adbox
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Review Film: 'Green Room' (2016)

Meski punya estetika visual ala arthouse, namun 'Green Room' pada dasarnya adalah horor-slasher, hanya saja dengan injeksi adrenalin berkualitas.

�It's not a party. It's a movement.�
� Darcy
Green Room adalah istilah bagi ruang tunggu di belakang panggung yang digunakan oleh artis untuk beristirahat atau mempersiapkan gig-nya sebelum tampil. Sesuai dengan judul filmnya, sutradara Jeremy Saulnier banyak memakai nuansa warna hijau, entah itu melalui setting di tengah hutan yang rimbun atau cahaya lampu sorot klub. Tahukah anda bahwa warna komplementer dari hijau adalah merah? Mungkin ini hanya kebetulan yang tak disengaja. Di separuh Green Room, "ruang hijau" berubah menjadi "ruang merah" gara-gara semburat darah.

Green Room punya premis sederhana yang jamak dipakai dalam film horor-slasher, dimana anak muda yang serampangan terjebak di suatu lokasi terisolir sementara bahaya yang mengancam maut mengintai di luar. Namun kecakapan Saulnier mengontrol semua elemen dalam filmnya, menjadikan Green Room lebih dari sekadar eksploitasi sadisme. Eksekusinya tenang dan terukur.

Jangan salah, film ini masih menjadi parade bunuh-bunuhan yang bukan makanan ringan bagi yang berperut lemah. Namun, sama seperti film Saulnier sebelumnya Blue Ruin, ia peduli dengan pembangunan tensi. Selama 95 menit, film ini memainkan intensitas, menjaga penonton tetap tegang sepanjang film. Untuk urusan brutalitas, Green Room jauh lebih edan � ada pistol, shotgun, pisau, golok, hingga anjing yang siap mengunyah manusia sampai tewas. Keseruan ini sayangnya harus ternodai dengan regulasi sensor-demi-kearifan-lokal-karena-kita-adalah-bangsa-beradab-tak-peduli-filmnya-sudah-diberi-rating-dewasa.


"Calon korban" adalah personil band punk The Ain't Rights yang terdiri dari: Tiger (Callum Turner) sebagai vokalis, Sam (Alia Shawkat) sebagai gitaris, Pat (Anton Yelchin) sebagai bassis dan Reece (Joe Cole) sebagai drumer. Sebagai band kecil, tur mereka tak berjalan dengan baik sampai-sampai mereka harus tampil dalam sebuah klub neo-Nazi di pedalaman Oregon.

Mereka tak suka dengan ideologi orang-orang ini, tapi mereka butuh uang. Nah, apa gunanya menyandang prediket "punk" kalau tak berontak? The Ain't Rights mengkaver lagu "Nazi Punks F**k Off"-nya The Dead Kennedy yang dihadiahi dengan cibiran dan lemparan botol miras. Namun masalah sebenarnya datang selepas manggung. Mereka menyaksikan kejadian yang tak seharusnya dilihat. Kini, keempatnya terjebak dalam green room bersama seorang gadis bernama Amber (Imogen Poots). Bukan spoiler saat saya bilang banyak nyawa akan melayang.

Patrick Stewart (alias Profesor Xavier-nya X-Men) bermain menawan sebagai Darcy, pemilik klub sekaligus pemimpin para skinhead. Darcy adalah pria yang cerdas. Ia tahu cara menangani situasi dengan kepala dingin, termasuk menghilangkan kecurigaan polisi. Pembawaan tenang dengan suara halus khas Stewart justru membuatnya tampak lebih keji.

Dengan setting punk vs neo-Nazi, kita berpikir Saulnier mungkin akan menyindir dua ideologi radikal tersebut. Namun saya pikir elemen ini hanya menjadi mekanika yang dipakai untuk menyediakan protagonis dan antagonis. Para skinhead ini sudah mengambil sikap untuk melenyapkan saksi mata dengan segala cara. Komitmen ini adalah dedikasi akan ideologi mereka. "Ini bukan pesta, ini adalah pergerakan", ujar Darcy.

Untuk menciptakan ketegangan, Saulnier tentu saja memanfaatkan aspek teknis. Sinematografer Sean Porter mengambil komposisi sedemikian rupa untuk memberikan atmosfer suram. Musik berdistorsi kencang yang diputar di latar belakang atau suara feedback nyaring dari mikrofon menciptakan suasana tak mengenakkan, yang mengeskalasi nuansa klaustrofobik.

Namun kesuksesan terbesar Saulnier adalah naskahnya yang menciptakan karakter manusiawi. Bukan dalam konteks dimensi, kedalaman karakter atau semacamnya (film ini nyaris tak punya hal tersebut), melainkan bagaimana respon alamiah tiap tokoh terhadap situasi yang terjadi. Baik protagonis atau antagonis punya kesempatan berbuat atau mengambil keputusan yang salah. Konsekuensinya tak terprediksi dan permainan tarik ulur ini mencengkeram penonton.

Meski punya estetika visual ala arthouse, namun Green Room pada dasarnya adalah horor-slasher, hanya saja dengan injeksi adrenalin berkualitas. Film ini tak menawarkan eksplorasi psikologis kompleks seperti Blue Ruin. Film ini lebih dari sekedar seru. (NB: Untuk kalimat terakhir, saya hanya membuat hipotesis. Sulit menilai saat sensor lebih brutal daripada adegan brutalnya.) �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Green Room' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Dewasa

Sutradara Jeremy Saulnier
Penulis Jeremy Saulnier
Pemain Anton Yelchin, Imogen Poots, Patrick Stewart

Jumat, 06 Mei 2016

Blackway (2015) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Blackway:


Anda yang penggemar film thriller harus siap-siap untuk menonton film berjudul Blackway ini. Film yang diadaptasi dari novel Go With Me karya Castle Freeman, Jr akan digarap oleh beberapa aktor dan aktris Amerika, bukan sembarang aktor dan aktris namun mereka yang menjadi pemenang dan nominasi dari ajang perfilman Hollywood akan menghibur anda dengan kualitas akting mereka.

Cerita berawal dari seorang perempuan bernama Lilian diperankan oleh Julia Stiles. Lilian yang sudah lama pergi dari kampung halamannya di bagian utara Amerika memutuskan kembali lagi dan memulai hidupnya di sana. Pertemuannya dengan pria bernama Blackway (Ray Liotta) di sebuah bar tempatnya bekerja mengubah hidup Lilian.

Sejak Lilian menolak ajakan Blackway, ia merasa ada yang mengikutinya dimana pun itu. Di swalayan, pom bensin, dan rumahnya sendiri. Lilian yang takut setengah mati mulai tidak betah hidup di daerah itu, akhirnya seorang sheriff kota memberikan saran agar ia pergi jauh dari kota karena Blackway adalah orang yang berbahaya di kota yang terkenal dengan usaha penebangan kayunya.

Baca juga:

Namun apa yang dilakukan oleh Lilian adalah sebaliknya, ia masih ingin tinggal di kampung halamannya dan merasa bahwa sekarang adalah waktunya untuk melawan. Lilian yang berusaha untuk meminta bantuan dari sheriff setempat merasa putus asa karena tidak ada yang mau membantunya, Blackway yang terkenal kejam benar-benar membuat seluruh isi kota tunduk padanya.

Sampai Lilian bertemu dengan mantan penebang kayu bernama Lester (Anthony Hopkins) dan juga seorang pemuda, Nate (Alexander Ludwig). Bertiga mereka merencanakan pembalasan kepada Blackway. Sebenarnya banyak orang yang menentang perbuatan mereka, namun Lester yang sudah muak dengan sikap Blackway di masalalu, akhirnya setuju untuk membalaskan aksinya. Di bantu dengan penebang kayu dan penduduk kota mereka bekerja sama untuk meruntuhkan kekuasaan diktator seorang Blackkway. 



Informasi film Blackway:

Judul:
Blackway

Jenis:
Thriller

Produser:
Rick Dugdale, Ellen Goldsmith-Vein, Anthony Hopkins, Gregory Jacobs, Lindsay Williams

Sutradara:
Daniel Alfredson

Penulis:
Joseph Gangemi, Gregory Jacobs

Pemain:
Anthony Hopkins, Julia Stiles, Ray Liotta, Alexander Ludwig, Hal Holbrook

Produksi:
Enderby Entertainment, The Gotham Group

Negara:
Amerika

Bahasa:
Inggris

Tanggal Rilis:
10 Juni 2016

Poster film Blackway:


Blackway

Trailer film Blackway:




Rabu, 27 April 2016

Regression (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Regression

Film ini mengambil lokasi kejadian di Minnesota pada tahun 1990. Detektif Bruce Kenne (Hawke) menginvestigasi kasus John Gray (Dencik) yang mengakui pelecehan seksual terhada putrinya yang berusia 17 tahun, Angela (Watson) yang melaporkannya lewat pengaduan tertulis. John tidak ingat kejadian itu. Mereka berusaha mencari bantuan pada Profesor Kenneth Raines (Thewlis) yang menggunakan teknis eksperimental untuk memanggil kembali memori John dan mereka justru membuat rekan Bruce, Detektif George Nesbitt (Ashmore) terlibat. Mereka menahan Nesbitt tapi gagal mendapatkan bukti yang melawannya. Bruce menduga pemuja setan terlibat, berdasarkan kesaksian Angela, yang mengatakan ia disalahgunakan oleh orang-orang bertopeng dan seseorang mengambil foto-foto kejadian itu.

Bruce dan Kenneth bertemu saudara laki-laki Angela yang aneh, Roy Gray (Bostick) untuk mengetahui alasan ia meninggalkan rumah. Mereka menggunakan teknik regresi padanya. Ia, juga, mengingat kembali sosok berkerudung yang memasuki kamarnya saat ia masih muda. Mereka menduga neneknya, Rose Gray (Dickey) ikut terlibat, tapi mereka tak berhasil menemukan bukti setelah menggeledak rumah Gray.

Sementara itu, Bruce mulai mengalami mimpi buruh yang melibatkan ritual setan. Angela bilang padanya para pemuja setan itu berusaha membunuh dirinya saat ia telah menunjukkan tanda setan pada Bruce dan Bruce juga dalam bahaya. Angela mengatakan bahwa ibunya menerima panggilan misterius dan melihat sosok aneh muncul di depannya di jalan sebelum ibunya mengalami kecelakaan. Bruce mulai mengalami hal yang sama dan mimpi buruknya terus meningkat. Ia bertemu dengan Angela untuk meyakinkannya, tapi ia mencium Angela. Terkejut, Bruce meninggalkanya dan kembali ke rumahnya. Ia melihat iklan sereal di jalan dan mengenali perempuan di gambar itu adalah salah seorang yang ia lihat di mimpinya. Ia menyimpulkan mimpinya hanya imajinasi. Ia memberitahu pada Kenneth bahwa memori masa lalu yang dirangsang oleh terapi dan seluruh situasi ini adalah hasil dari histeria massa. Walau profesor awalnya ragu, ia mulai curiga memori-memori itu tidak nyata.

Bruce diserang oleh dua orang berkerudung yang akhirnya terungkap mereka adalah George dan rekannya, Farrell (Abrams). Bruce menangkap George sebagai penganiaya anak dan menghancurkan karirnya. Bruce menawarkan untuk mengubah situasi ini jika George mengatakan segalanya yang ia tahu. Setelah George mengakui segalanya, Bruce menghadapi Angela tentang penyalahgunaan itu dan Angela mengelak dengan mengatakan ia berkata sebenarnya. Akhirnya, Bruce menyimpulkan bahwa Angela mengarang segalanya dari awal sebagai usaha lari dari keluarganya yang ia anggap sekumpulan pemabuk. Ia ingin kawin lari dengan George, yang memiliki hubungan seksual dengannya tapi George menolak kawin lari dengan anak di bawah umur. Angela menuduh ayahnya untuk kabur dari rumahnya. Saat Bruce mendesaknya, Angela mengatakan tidak ada seorang pun yang akan percaya pada Bruce khususnya jika ia mengatakan mereka berciuman. Bruce mengatakan pada John mengenai segalanya tapi John memutuskan agar disalahkan untuk menyelamatkan Angela dan berharap Angela akan memaafkan dia suatu hari nanti karena menjadi ayah yang buruk. Film ini akhiri dengan pernyataan ada banyak kasus seperti ini yang dilaporkan sebagai penyalahgunaan setan tapi sebenarnya hanya histeria massa.

Informasi film Regression 

Sutradara:
Alejandro Amen�bar

Produser:
Alejandro Amen�bar
Fernando Bovaira
Christina Piovesan

Penulis:
Alejandro Amen�bar

Pemain:
Ethan Hawke, Emma Watson, David Thewlis, Lothaire Bluteau, Dale Dickey, David Dencik, Peter MacNeill, Devon Bostick, Aaron Ashmore

Penata musik:
Roque Ba�os

Sinematografer:
Daniel Arany�

Editor:
Carolina Mart�nez Urbina

Rumah produksi:
First Generation Films
Himen�ptero
Mod Producciones
Telecinco Cinema
Telef�nica Studios

Distributor:
The Weinstein Company (USA)
Universal Pictures (Spain)
Elevation Pictures (Canada)

Tanggal rilis:
18 September 2015 (SSIFF)
2 Oktober 2015 (Spanyol)
9 Oktober 2015 (Inggris)
5 Februari 2016 (Amerika Serikat)

Durasi:
106 menit

Negeri:
Kanada, Spanyol, Amerika Serikat

Bahasa:
Inggris

Biaya:
$20 juta

Box office:
$17,7 juta

Trailer film Regression


Poster film Regression 

poster film regression


Kamis, 21 April 2016

Review Film: 'Backtrack' (2016)

Meski berada di ranah horor, 'Backtrack' lebih cenderung ke arah investigasi misteri dibandingkan horor itu sendiri.

�The dead never forget.�
Backtrack adalah film yang layak ditonton berkali-kali agar tak melewatkan detil-detil kecil yang mengantarkan kita pada plot twist yang sudah dibangun dengan baik sejak awal, dengan catatan anda tak berkeberatan mengulang kembali siksaan dari perkembangan plot yang sangat pelan dan membingungkan.

Meski berada di ranah horor, film ini lebih cenderung ke arah investigasi misteri dibandingkan horor itu sendiri. Penampakan hantunya jarang sekali yang benar-benar menakutkan. Film ini mungkin akan lebih diapresiasi oleh pecinta horor yang mencari kedalaman cerita dibanding adegan seram yang membuat merinding atau berteriak ngeri.

Adrian Brody bermain sebagai Peter Bower, seorang psikiater yang ironisnya punya masalah psikologis. Bersama sang istri, ia harus berkutat dengan trauma pasca tewasnya putri mereka dalam sebuah kecelakaan. Biar bagaimanapun, ia harus tetap melakukan konseling bagi para pasien yang anehnya punya masalah yang sama: mereka tampaknya terjebak dalam memori di tahun 1987 dan menganggap Amerika masih dipimpin oleh Ronald Reagan.


Yang lebih aneh lagi adalah kemunculan gadis dengan jaket hoodie bernama Elizabeth Valentine (Chloe Baylis) yang kerap bertingkah aneh seperti muncul tiba-tiba atau menatap jendela dengan ketakutan. Tak begitu kebetulan, inisial Elizabeth Valentine berima sama dengan nama anaknya yang tewas, Evie. Untuk itu, Peter berkonsultasi dengan mentornya, Duncan (Sam Neill) yang bilang bahwa ini hanyalah imajinasi alam bawah sadar akibat pengalaman traumatisnya.

Bagi penonton yang sudah familiar dengan genre serupa, dipastikan bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Namun jangan khawatir. Yang barusan bukanlah spoiler. Saat Peter tahu bahwa yang dilihatnya adalah orang mati, cerita Backtrack baru saja dimulai. Fakta ini mengantarkan Peter untuk pulang ke kampung halamannya dan bertemu kembali dengan sang ayah, William (George Shevtosv). Kita kemudian mengetahui bahwa pada tahun 1987 terjadi kecelakaan kereta api yang menewaskan 47 penumpang disana. Peter juga akhirnya ingat bahwa ia dan temannya berada di TKP saat tragedi itu terjadi. Lantas apa hubungan kecelakaan itu dengan dirinya?

Michael Petroni mempersiapkan naskah dengan cerita berlapis. Beberapa kilasan adegan flashback mengungkap plot yang jauh lebih rumit dibandingkan apa yang terlihat di permukaaan dan butuh waktu (serta kesabaran) untuk benar-benar bisa terikat dengan perkembangan alurnya yang pelan. Merangkap sebagai sutradara, ia juga menciptakan atmosfer yang begitu moody dan suram seolah tak ada kehidupan di dalamnya. Ini juga didukung oleh sinematografi dari Stefan Duscio yang membuat film ini tampak lebih berkelas daripada aslinya.

Siapa lagi coba yang cocok memerankan orang depresif selain Adrien Brody? Brody memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai orang yang dihantui masa lalu. Kerapuhan emosional dari Peter ternyata menjadi kunci untuk membuka misteri yang telah ditutup rapat, baik oleh dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya, termasuk sang ayah yang dulunya merupakan penyidik dari kasus kecelakaan tersebut.

Lagi-lagi perlu diingat bahwa Backtrack adalah campuran antara investigasi misteri ala detektif dengan elemen horor, jadi tepat setelah pengungkapan plot twist yang tak terduga, kita harus bersiap dengan suguhan penyelesaian konflik yang tak masuk akal dan over-sentiment. Pada akhirnya, logika tak berlaku di dunia supranatural. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Backtrack' |
|

IMDb | Rottentomatoes
90 menit | Remaja

Sutradara Michael Petroni
Penulis Michael Petroni
Pemain Adrien Brody, Bruce Spence, Sam Neill

Review Film: 'The Pack' (2015)

Kawanan anjing liar meneror sebuah keluarga di daerah pinggiran Australia dalam film horor yang mengambil pendekatan naratif atmosferis yang tak terlalu efektif.

�Straw Dogs meet The Grey.�
The Pack adalah film horor mengenai anjing liar yang meneror sebuah keluarga di daerah pinggiran Australia. Pemilihan Australia dengan segala hewan mautnya tak pernah setepat ini. Pertanyaannya: bisa seseram apa anjing liar? Maksud saya, tanpa mempertimbangkan risiko rabies? Sejujurnya saya tak tahu, tapi setidaknya dalam film ini mereka terlihat menyeramkan. Tampilan fisik dengan bulu hitam, bola mata bersinar, dan taring tajam benar-benar mengerikan, apalagi mereka selalu menyerang dalam rombongan.

Nah, film ini tak seperti "horor-hewani" (oke, istilah ini aneh) menggelikan semacam Anaconda dimana kenikmatan menonton diperoleh saat para manusia dilahap oleh sang binatang. Alih-alih sutradara Nick Robertson menanganinya seperti film horor supranatural yang lebih bergantung pada pembangunan suspens. Kita tahu si peneror (dalam hal ini anjing liar) selalu siap meneror, tapi tak tahu kapan dan dimana.


Adam Wilson (Jack Campbell) adalah seorang peternak yang tinggal bersama sang istri, Carla (Anna Lise Phillips) dan kedua anaknya di daerah pedesaan yang sepi, karena mereka tampaknya tak tahu bahwa hal-hal menyeramkan biasa terjadi di daerah seperti itu. Di awal film tentu saja kita diperkenalkan dengan dinamika keluarga ini: di tengah permasalahan hilangnya hewan ternak mereka, Adam dan Carla harus berkutat dengan masalah hutang dan ancaman penyitaan rumah, anak sulung mereka (Katie Moore) ngotot ingin kembali ke kota, sementara si bungsu (Hamish Phillips) sibuk dengan dunianya sendiri. Semua tak begitu penting sebenarnya, mengingat The Pack hanyalah tentang teror dan bukan tentang plot.

Singkat cerita, keluarga ini dikepung oleh gerombolan anjing liar haus darah. Korbannya mulai dari tetangga, petugas bank hingga polisi yang awalnya berniat membantu. Sebuah sekuens yang membuat bergidik saat rombongan anjing ini menerkam dan mencabik petugas polisi yang tidak siap dengan apa yang akan dihadapinya. Anjing-anjing liar ini terlihat meyakinkan berkat efek visual yang dibuat dengan kompeten; menggunakan anjing sungguhan serta menggabungkan practical effects yang dipoles sedikit CGI.

Naskah dari Evan Randall Green tak punya banyak dialog, sementara Robertson melakukan pembangunan atmosfer dan menyajikan (terlalu banyak) jump scares secara bergantian. Pengambilan gambar melalui kamera steady dengan zooming perlahan serta scoring dengan musik latar menyeramkan menciptakan suasana hening yang efektif, kalau saja tak terlalu repetitif.

Penampilan yang solid dari para pemain sayangnya harus dinodai dengan karakterisasi mereka yang dungu. Seriusan mau berlindung di balik pintu tipis yang bahkan didorong angin saja gampang? Satu tindakan bodoh berlanjut ke tindakan bodoh yang lain. Dan, oh, anjing liar disini begitu tangguh. Mereka kebal ditusuk atau ditembak. Saya belum pernah ke Australia, namun jika memang anjing aslinya sekuat itu, mungkin film dokumenternya lebih seram daripada film ini. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Pack' |
|

IMDb | Rottentomatoes
90 menit | Remaja

Sutradara Nick Robertson
Penulis Evan Randall Green
Pemain Anna Lise Phillips, Jack Campbell, Katie Moore

Minggu, 17 April 2016

Review Film: 'Eye in the Sky' (2016)

'Eye in the Sky' adalah permainan menunggu, tapi permainan menunggu tak pernah semenegangkan ini sebelumnya.

�Never tell a soldier that he does not know the cost of war.�
� Lt. General Frank Benson
Eye in the Sky adalah permainan menunggu, tapi permainan menunggu tak pernah semenegangkan ini sebelumnya. Dengan latar belakang mengenai aksi perang menggunakan drone, film ini lebih berfokus pada pengambilan keputusan apakah serangan drone tersebut akan diluncurkan atau tidak. Obrolan politik dan perang dengan SATU agresi militer bermodal joystick mungkin bukan premis menjanjikan, tapi sutradara Gavin Hood meracik ramuan thriller dengan komposisi suspens yang pas yang akan membuat penonton tak bisa melepaskan pandangan dari layar.

Meski ruang lingkupnya cukup besar, yaitu misi antiterorisme yang melibatkan otoritas militer dari 3 negara � Inggris, Amerika, dan Kenya � serta mengambil tempat di 4 wilayah yang berbeda pula, Eye in the Sky adalah drama karakter. Karena itu pula, setnya yang kadang terlihat murahan tak terasa mengganggu (pengecualian untuk drone unik CGI-nya yang mengambil burung kolibri dan kumbang tanduk yang tampak keren). Tak ada tokoh utama disini; porsi peran dari deretan pemainnya saling mendukung dan kuat dalam konteks masing-masing.

Film ini agak kesulitan menemukan pondasi yang pas di menit-menit awal, terlihat dari pembangunan plot yang canggung seperti adegan generik dan peralihan antarlokasi yang terlihat tak relevan. Namun saat basis naratifnya sudah tertanam, ke depannya adalah suguhan penuh tensi yang tak hentinya memacu jantung anda berdegup kencang.


Helen Mirren (terlihat tangguh dan tanpa kompromi) bermain sebagai Kolonel Katherine Powell, komandan lapangan yang memimpin misi tersebut dari markasnya di Inggris. Targetnya adalah wanita ketururunan Inggris, Ayeesha Al Shabaab (Lex King) yang bergabung dengan teroris Kenya. Pengintaian yang dilakukan dengan drone mengungkap pertemuannya dengan anggota teroris lain di daerah padat penduduk. Situasi menjadi rumit saat diketahui bahwa mereka bermaksud melakukan aksi bom bunuh diri. Misi penangkapan berubah menjadi misi pelenyapan.

Namun untuk melakukan hal tersebut, Powell harus meminta persetujuan dari atasannya, Letnan Jenderal Frank Benson (Alan Rickman, satu dari 2 penampilan terakhirnya) yang tengah berunding dengan para petinggi politik dan militer terkait. Karena misi ini adalah misi multinasional dimana Amerika lah yang memegang kendali drone, aksi ini juga harus mendapat otorisasi dari Sekretaris Negara Amerika. Jika menurut anda birokrasi selalu berbelit-belit, film ini mengkonfirmasinya. Dimaksudkan atau tidak, ada nuansa dark comedy yang tercipta dari sini. Lihat saja Menteri Dalam Negeri yang tampak ogah-ogahan dengan penampilan komikal dari Iain Glen atau Sekretaris Negara Amerika (Michael O'Keefe) yang tak begitu ambil pusing dan malah asyik bermain pingpong di Cina.

Di lain tempat, tentara Kenya sudah bersiap untuk melakukan penggerebekan, sementara di Nevada, 2 pilot drone, Steve Watts (Aaron Paul) dan Carrie Gershon (Phoebe Fox) telah siaga dengan tombol detonator di ujung jari. Namun situasi menjadi semakin kacau saat seorang anak gadis lokal tiba-tiba muncul dan berjualan roti di depan markas teroris. Peluncuran misil hampir bisa dipastikan akan membahayakan nyawanya. Meski hanya satu orang, ketika nyawa berada di ujung jarinya, tidaklah mudah bagi Watts untuk menarik pelatuk.

Seabsurd kedengarannya, sorotan utama dari film ini adalah bagaimana ribetnya proses yang harus dilewati untuk menentukan kelayakan diluncurkannya misil Hellfire oleh drone. Tujuan untuk memberangus teroris tak perlu diperdebatkan lagi (film ini sama sekali tak bersimpati pada mereka). Target militer mungkin begitu, tapi rasa kemanusiaan berkata lain. Jatuhnya korban yang tak bersalah tak bisa disepelekan begitu saja. Film ini mengajak penonton untuk memandang sendiri kompleksitas moral ini dari perspektif masing-masing.

Naskah kuat dari Guy Hibbert berisi banyak istilah birokrasi (yang untungnya mudah dimengerti) dan bagaimana Gavin Hood menjadikan setiap dialognya punya tensi tinggi patut diapresiasi. Ketegangan juga didukung oleh scoring yang intens. Hal yang jarang terjadi ketika sebuah thriller politik tak pernah memantik rasa bosan. Saat hal itu terjadi, Hood selalu siap dengan amunisi tambahan, misalnya dengan sekuens kejar-kejaran antara mata-mata lokal (Barkhad Abdi) dengan pasukan teroris.

Saya bisa saja salah, tapi saya pikir Eye in the Sky punya potensi menjadi film klasik yang akan direferensikan setiap membicarakan film mengenai perang drone. Film ini adalah film langka, dimana elemen drama sekuat elemen thriller-nya. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali anda dibuat sentimental hanya karena seorang anak gadis bermain hula hop? Tak pernah? �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Eye in the Sky' |
|

IMDb | Rottentomatoes
137 menit | Remaja

Sutradara Gavin Hood
Penulis Guy Hibbert
Pemain Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman

Jumat, 15 April 2016

10 Cloverfield Lane (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis lengkap film 10  Cloverfield Lane :

Bertengkar dengan tunangannya, Ben, Michele meninggalkan kota New Orleans dan mengemudi melewati pedesaan Lousiana. Pada larut malam, ia menyalakan radio dan mendengar berita pemadaman listrik di kota-kota besar. Telepon dari Ben membuat Michele kehilangan fokus dan mengalami kecelakaan. Ia pingsan. Saat terbangun, ia mendapati ruangan beton dan dirantai ke dinding. Ia didekati seorang  pria bernama Howard yang menjelaskan bahwa terjadi serangan asing dan ia diketemukan pingsan di pinggir jalan, lalu dibawa ke bungker. Ia juga bertemu Emmet, orang yang selamat dan telah menyaksikan serangan itu, lalu melarikan diri ke bunker Howard. 

Pada jam makan malam, Michele mencuri kunci Howard dan berusaha kabur, tapi ia mendapati Leslie, wanita yang menderita kulit pucat yang parah dan memohon diizinkan masuk ke bunker. Ketika Leslie meninggal, Michele menyadari Howard benar dan tidak jadi kabur. 

Seiring berjalannya waktu, tiga orang ini mulai beradaptasi hidup di bawah tanah. Michele mengetahui Howard pernah punya putri bernama Megan. Saat penyaring udara rusak, Howard meminta Michele memanjat melalui saluran udara untuk me-reset sistem. Michele menemukan jendela dengan kata "HELP" tergores di saluran udara dan anting-anting penuh darah yang pernah ia lihat sebelumnya dikenakan oleh Megan di fotonya. Ia menunjukkan gambar itu pada Emmet, yang mengenalinya sebagai gadis yang pernah hilang dari SMA-nya bernama Brittany. Mereka menemukan foto polaroid Brittany yang mengenakan pakaian yang sama yang dipinjamkan ke Michelle. Begitu menyadari Howard berbahaya, mereka merencanakan pelarian dengan membuat pakaian pelindung Biohazard. Tapi mereka ketahuan. Dalam usahanya membela Michele, Emmet mengakui kesalahan dan sedang membuat senjata. Ia minta maaf pada Howard. Howard menerima permintaan maafnya, lalu menembaknya. 

Michele bekerja menyelesaikan pakaian Biohazard, tapi Howard menemukannya. Ia menumpahkan tong yang berisi asam perklorat pada Howard hingga terluka dan secara tidak sengaja menciptakan api. Ia naik kembali ke saluran udara, mengenakan pakaian, dan lolos keluar. Ia menyadari udara tidak beracun.Sebuah pesawat alien muncul di kejauhan. Bunker bawah tanah meledak dan membunuh Howard serta menarik perhatian pesawat. Michele melarikan diri ke rumah Howard di mana ia menemukan mayat Leslis. Gas beracun dilepaskan, memaksa ia berlindung ke truk Howard. Pesawat alien itu mendekatinya dalam upaya ingin memakannya. Michele merakit bom molotov dan melemparkannya ke pesawat alien, lalu meledak. 

Michele mengendarai mobil Leslie. Tak sengaja ia menyentuh kotak surat, hingga jatuh dan mengungkap alamat tempat itu: 10 Cloverfield Lane. Saat mendengarkan radio, ia mendengarkan panggilan darurat yang mengklaim kemenangan manusia melawan invasi alien di pesisir Selatan dan memerintahkan korban mengevakuasi diri dan meminta siapapun dengan pengalaman medis maupun tempur untuk menuju Houston. Ia menghentikan mobil untuk mendengarkan seluruh pesan. Ia melihat tanda lalu lintas, yang satu arahnya ke Baton Rouge dan yang satu lagi ke Houston. 

Baca juga:

Sebuah kapal alien yang lebih besar terlihat mengambang tinggi selagi ia mengemudi menuju ke Houston.

Informasi film 10 Cloverfield :

Sutradara:
Dan Trachtenberg

Produser:
J. J. Abrams
Lindsey Weber

Penulis naskah:
Josh Campbell
Matt Stuecken
Damien Chazelle

Ide cerita:
Josh Campbell
Matt Stuecken

Pemain:
John Goodman
Mary Elizabeth Winstead
John Gallagher, Jr.

Penata musik:
Bear McCreary

Sinematografer:
Jeff Cutter

Editor:
Stefan Grube

Rumah produksi:
Bad Robot Productions

Distributor:
Paramount Pictures

Tanggal rilis:
8 Maret 2016 (New York City)
11 Maret 2016 (Amerika Serikat)

Durasi film:
103 menit

Negeri:
Amerika Serikat

Bahasa:
Inggris

Biaya:
USD 15 juta 

Pendapatan box office :
USD 95,1 juta

Poster film 10 Cloverfield Lane :



Trailer film 10 Cloverfield Lane :





Sabtu, 09 April 2016

Tale of Tales (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Tale of Tales:

Pecinta film fantasi? Tale of Tales ini bisa menjadi film yang cocok untuk anda. Film ini adalah film besutan sutradara Matteo Garrone yang populer dengan filmya yang keras. Ketertarikannya dengan cerita dongeng kali ini membuat banyak orang terkejut. Tale of Tales adalah film fantasi yang bercerita tentang dongeng yang dikemas sebagai cerita yang berkelas dan sangat bertolak belakang dengan populer yang dibuatnya.

Film Tale of Tales ini dibintangi oleh Salma Hayek, John C Reilly, Toby Jones, Vincent Cassel dan masih banyak lagi. Film yang membawa tema dongeng ini memiliki penampilan visual yang sangat menjanjikan dan memanjakan mata penontonnya.

Film ini adalah film yang terbagi dalam 3 bagian masing-masing berjudul The Enchanted Doe, The Flea, dan juga The Flayed Old Lady. Masing-masing film bercerita tentang kehidupan dalam derita dongeng yang tidak selalu menyenangkan. Bahkan bisa berakhir menyedihkan dan juga menyeramkan. Salah satunya dapat anda lihat dari cerita The Enchanted Doe yang berisi cerita seorang ratu yang ingin memiliki anak, akhirnya ia menggunakan bantuan dari kegelapan dan akhirnya bisa memiliki anak. Akan tetapi ada masalah yang terjadi yang merupakan akibat dari keinginan sang ratu yang tidak terbendung tersebut.

Baca juga:
Elvis & Nixon (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Ketiga bagian dari cerita ini sebetulnya adalah satu kesatuan, dimana ketiga kerajaan adalah kerajaan yang bertetangga meski tidak diperlihatkan hubungan antara ketiganya. Penasaran dengan dongeng ini? Tunggu saja tanggal mainnya.

Informasi film Tale of Tales : 

Sutradara: 
Matteo Garrone

Produser:
Matteo Garrone
Jean Labadie
Jeremy Thomas

Penulis naskah:
Edoardo Albinati
Ugo Chiti
Matteo Garrone
Massimo Gaudioso

Diadaptasi dari:
Pentamerone (Giambattista Basile)

Pemain:
Salma Hayek, Vincent Cassel, Toby Jones, John C. Reilly

Penata musik:
Alexandre Desplat

Sinematografer:
Peter Suschitzky

Editor:
Marco Spoletini

Rumah produksi:
Archimede Film
HanWay Films
Recorded Picture Company

Distributor:
01 Distribution (Italy)
Le Pacte (France)

Tanggal rilis:
14 Mei 2015 (Cannes/Itali)
1 Juli 2015 (Perancis)
1 Juli 2016 (Inggris)

Durasi film:
134 menit

Negeri:
Italia | Perancis | Inggris 

Bahasa:
Inggris 

Biaya:
$14.5 juta

Poster film Tale of Tales :

poster tale of tales

Trailer film Tale of Tales:


Rabu, 06 April 2016

Review Film: '10 Cloverfield Lane' (2016)

Bisa jadi ini adalah cara murahan untuk menghubungkannya dengan 'Cloverfield' atau mungkin memang inilah premis aslinya sejak awal. Yang manapun, '10 Cloverfield Lane' bergabung dalam grup langka, dimana sekuel lebih baik dibanding pendahulunya.

�Crazy is building your ark after the flood is already come.�
� Howard
Mungkin anda sebaiknya tak membaca review ini karena semakin sedikit anda tahu mengenai 10 Cloverfield Lane, semakin baik pengalaman menonton yang akan anda dapatkan. Namun bagi yang masih ingin melanjutkan, jangan khawatir, sebab saya berusaha agar tak mengungkap poin plot yang penting. Ini yang perlu anda tahu: 10 Cloverfield Lane adalah film thriller psikologis yang intensitasnya terjaga hingga akhir, setidaknya hingga twist di paruh akhir yang membalikkan semuanya.

Jika anda pernah menonton Cloverfield, keterlibatan J.J. Abrams sebagai produser dan judulnya sendiri sudah cukup mengindikasikan spoiler. Abrams pernah menyebutkan bahwa film ini bukanlah sekuel langsung melainkan "lanjutan spiritual" dari Cloverfield. 10 Cloverfield Lane punya gaya narasi yang berbeda dari pendahulunya; found-footage diganti dengan kamera steady, setting outdoor di kota New York berganti dengan bunker bawah tanah yang memberikan nuansa klaustrofobik dan � kali ini � karakter menjadi sorotan utama tanpa mendistraksi penonton dari misteri dasarnya.


Setelah bertengkar dengan sang pacar, Michelle (Mary Elizabeth Winstead) memacu mobilnya hingga akhirnya mengalami kecelakaan dan tak sadarkan diri. Ia terbangun dalam kondisi terluka dan terikat dengan rantai di sebuah bunker yang ternyata dimiliki oleh Howard (John Goodman). Howard mengklaim bahwa ia adalah penyelamat Michelle. Ia juga memberitahu bahwa dunia luar telah "diserang" � mungkin oleh Rusia, Korea Utara, atau bahkan makhluk Mars, kata Howard � dan sekarang tak bisa lagi dihuni. Oleh karenanya, mereka tak boleh keluar dari bunker.

Michelle tak sendirian disana. Penghuni ketiga bernama Emmett (John Gallagher, Jr.), seorang tetangga Howard yang berhasil menyelamatkan diri dan menumpang di bunker Howard sebelum serangan terjadi. Keberadaan Emmett menjadi dilema bagi Michelle. Ia percaya ada yang tak beres dengan Howard, namun secara blak-blakan, Emmett mengkonfirmasi kebenaran dari kata Howard, meski ia sendiri tak begitu yakin.

Ada begitu banyak pertanyaan yang timbul dan naskah yang ditulis oleh Josh Campbell dan Matthew Stuecken (dengan polesan dari sutradara Whiplash, Damien Chazelle) sukses membuat kita menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi (atau tak terjadi). Dengan berbagai macam pengalihan (termasuk dengan backstory mengenai Howard � yang sayangnya tak terjawab � dan Emmett), film ini memancing kita untuk membuat asumsi namun di lain sisi juga membuat kita meragukan asumsi tadi. Sutradara Dan Trachtenberg tak pernah terburu-buru mengeksekusi filmnya. Lapisan demi lapisan cerita dibuka dengan perlahan dan ritme yang terjaga. Di adegan puncak, ia bahkan tak tergoda untuk menambahkan dialog dan lebih memilih untuk membiarkan gambar yang bercerita. Atmosfer misterius juga didukung dengan scoring menegangkan dari Bear McCreary.

Yang patut disoroti dari film ini adalah dinamika antarkarakternya, khususnya antara Howard dan Michelle. Michelle bukan sekedar menjadi obyek eksploitasi naratif saja. Winstead memberikan dimensi bagi karakternya. Di balik penampilan yang feminim, Michelle adalah wanita yang kuat dan karena itu pula kita peduli dengan nasibnya. John Goodman membawakan Howard sebagai enigma. Howard boleh jadi seorang paranoid yang terobsesi dengan teori konspirasi, tapi bukankah layak baginya mendapat apresiasi karena telah menyediakan tempat bernaung dengan akomodasi yang lengkap? Setimbang antara maniak dan peduli, penampilan Goodman memberikan nuansa tak nyaman.

Superioritas paruh awal dibandingkan dengan paruh akhir boleh jadi akan menjadi perdebatan, tergantung selera penonton. Yang tak bisa disangkal adalah twist-nya yang tetap akan memberikan efek shock. Bisa jadi ini adalah cara murahan untuk menghubungkannya dengan Cloverfield atau mungkin memang inilah premis aslinya sejak awal. Yang manapun, 10 Cloverfield Lane bergabung dalam grup langka, dimana sekuel lebih baik dibanding pendahulunya. Anda bahkan bisa melihat satu lagi sekuelnya melayang-layang di adegan akhir. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'10 Cloverfied Lane' |
|

IMDb | Rottentomatoes
103 menit | Remaja

Sutradara Dan Trachtenberg
Penulis Josh Campbell, Matt Stuecken
Pemain John Goodman, Mary Elizabeth Winstead, John Gallagher, Jr.

Senin, 04 April 2016

Term Life (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Term Life :

Penggemar film action? Jika ya, film Term Life ini adalah salah satu film yang wajib anda tunggu rilisnya. Selain mengangkat tema aksi, film ini juga mengangat tema keluarga antara ayah dan anak. Ayah dan anak ini diperankan oleh Vince Vaughn dan juga Hailee Stenfeld, keduanya diceritakan adalah pasangan  ayah dan anak yang tidak pernah bertemu sehingga mirip dengan orang asing. Mereka akhirnya bertemu setelah sang ayah mengalami permasalahan dan membutuhkan bantuan anaknya untuk menyelesaikannya.

Permasalahan muncul ketika pekerjaan terakhir Vince berakhir dengan kurang menyenangkan. Hal ini mengakibatkan ia terlibat dengan pengejaran yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Keadaan ini membahayakan dirinya, karena kekurangan uang dan juga hal lainnya. Ia segera memutar otak supaya dapat bertahan hidup. Akhirnya ia memiliki ide untuk melakukan asuransi jiwa atas dirinya sendiri dan menggunakan anaknya sebagai ahli waris. Tapi ternyata asuransi jiwa yang dilakukannya hanya bisa berlaku 21 hari setelahnya.

Baca juga:


Petualangan Vince dan anaknya yang asing ini terjadi karena asuransi ini. Dengan ancaman dari orang-orang disekitarnya yang mengejar mereka, ia harus berusaha sebaik mungkin untuk memperpanjang waktu hidupnya hingga klaim asuransi bisa ia dapatkan.

Bagi anda yang menyukai film aksi yang berbau kejahatan, anda pantas menantikan film ini hingga waktu rilisnya. Film ini rencananya akan rilis pada tanggal 8 April 2016 mendatang di USA. Semoga film ini segera masuk ke Indonesia dan menghibur anda para penggemar film laga.

Informasi film Term Life:

Sutradara:
Peter Billingsley

Produser:
Kevin Scott Frakes, Micah Mason, Victoria Vaughn, Vince Vaughn, Michael J. Luisi

Penulis naskah:
A. J. Lieberman

Diangkat dari Term Life karya A. J. Lieberman dan  Nick Thornborrow

Pemain: 
Vince Vaughn, Hailee Steinfeld, Jonathan Banks, Mike Epps, Jordi Moll�, Shea Whigham, William Levy, Taraji P. Henson, Annabelle Gish, Terrance Howard

Sinematografer:
Roberto Schaefer

Editor:
Dan Lebental
Kevin Stermer

Rumah produksi:
PalmStar Entertainment
WWE Studios
Wild West Films
Merced Media Partners

Distributor:
Focus World

Tanggal rilis:
29 April 2016 (USA)

Negara:
Amerika Serikat

Bahasa Inggris

Poster film Term Life :

poster term life


Trailer film Term Life :


Rabu, 30 Maret 2016

Review Film: '13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi' (2016)

Rehat sejenak dari 'Transformers', '13 Hours' merupakan film horor yang kengerian medan perangnya bisa ditangkap dengan baik oleh sutradara Michael Bay.

�You can't put a price on being able to live with yourself.�
� Jack Silva
"Aku merasa seperti berada di dalam film horor," ujar salah satu tentara Amerika dalam 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi setelah serangan sporadis dari para ekstrimis Libia. Film ini memang merupakan film horor yang kengerian medan perangnya bisa ditangkap dengan baik oleh sutradara Michael Bay. Namun kalimat di atas seolah juga menegaskan satu hal: sama seperti karakter dan narasinya, filmnya adalah film yang blak-blakan. Anda takkan menemukan implisitas disini.

Diangkat dari buku berjudul 13 Hours: The Inside Account of What Really Happened in Benghazi yang ditulis oleh Mitchell Zuckoff, film ini menceritakan saat markas rahasia CIA di Benghazi diserang oleh tentara sipil setempat pada 11 September 2012; kejadian yang menewaskan 4 warga Amerika, termasuk diantaranya duta besar Chris Stevens. Sumber materinya memang kisah nyata namun pada dasarnya 13 Hours adalah film Bay dan kita bisa menemukan elemen-elemen khasnya: kekacauan visual, departemen suara yang bising dan efek spesial yang bombastis. Kehebohan adalah prioritas, cerita dinomorduakan dan karakter merupakan kebutuhan tersier. Apa yang mengejutkan bagi saya adalah bagaimana elemen-elemen tersebut ternyata bekerja dengan efektif disini.


Film dibuka dengan penjelasan singkat mengenai situasi politis di Libia. Mantan tentara Navy SEAL, Jack Silva (John Krasinski) ditugaskan sebagai penjaga markas rahasia CIA di Benghazi bersama dengan rekan lamanya, Tyrone "Rone" Woods (James Badge Dale) dan 4 tentara lainnya: Kris "Tanto" Paronto (Pablo Schreiber), Dave "Boon" Benton (David Denman), John "Tig" Tiegan (Dominic Fumusa) dan Mark "Oz" Geist (Max Martini). Otoritas CIA disana, Bob (David Costabile) berkali-kali mengingatkan bahwa mereka tak lebih dari sekadar pengawal biasa (bahasa kasarnya: satpam) sementara CIA-lah yang melaksanakan tugas penting kenegaraan.

Berjarak hanya 1 mil dari markas CIA tersebut, duta besar Stevens menempati kamp sementara dalam misinya untuk menjaga hubungan diplomatik dengan pemerintah Libia. Silva dkk menginspeksi tempat tersebut dan mendapati bahwa tingkat pengamanannya lemah. Naas, di malam 11 September, para militan dengan persenjataan lengkap menginvasi kamp tersebut, bahkan membakar gedung untuk memancing dubes agar keluar dari bunker. Hiruk pikuk ini didengar oleh Silva dkk yang kemudian menentang larangan dari Bob dan bersegera menyelamatkan dubes.

Apa yang menyusul setelahnya adalah adegan tembak menembak yang nyaris tiada henti. Bay tak memberikan rehat yang terlalu lama antara sekuens aksi ke sekuens aksi berikutnya dan ini membuat filmnya tak pernah terasa membosankan meski durasinya begitu panjang. Setelah militan berhasil dipukul mundur, serangan kemudian beralih ke markas CIA dan pasukan pengaman ini terpaksa harus bertahan dengan sumber daya yang terbatas.

Naskah dari Chuck Hogan punya mekanisme narasi yang simpel dengan sudut pandang terbatas dari tentara Amerika. Perkembangan karakter nyaris tak ada. Subteks mengenai pandangan politik hanya disenggol sebentar. Untuk menggerakkan alur, diantara adegan aksi Hogan mengisinya dengan dialog-dialog macho yang generik (dan terkadang terdengar menggelikan). Latar belakang karakter diceritakan dengan cepat melalui video call yang dilakukan oleh para tentara ini di sela-sela kegiatan mereka ngobrol atau nge-gym. Nah rumitnya tuh disini: kesamaan karakterisasi membuat mereka susah dibedakan satu sama lain, terlebih saat kekacauan khas Bay dimulai. Tak hanya tampilan fisik yang mirip (dengan jenggot tebal dan badan berotot), namun latar belakang mereka juga nyaris sama: para patriot yang berkomitmen demi negara dan meninggalkan keluarga mereka di belakang.

Bicara soal kekacauan, serahkan pada Bay untuk menghadirkan pertunjukan kacau penuh adrenalin. Masih dengan metode cut cepat dan gerakan kamera yang menyapu lanskap, Bay tahu bagaimana dan kapan harus meledakkan sesuatu dengan cara yang spektakuler. Film ini menjadi wadah yang tepat untuk memamerkan obsesi militernya. Di antara desingan peluru dan ledakan mortir, kita sebenarnya tak begitu tahu apa yang sedang terjadi atau siapa yang menembak siapa � dan secara tak sengaja, ini menciptakan sensasi disorientasi � namun ketegangan tak pernah hilang. Patut disoroti bahwa tak ada glorifikasi perang disini; perang adalah hal yang mengerikan.

Mengingat nama Bay pula, kita tak bisa menggantungkan diri untuk mengetahui detail dari tragedi yang terjadi malam itu. Beberapa poin faktualnya patut dipertanyakan, belum lagi elemen-elemen bombastis yang terlalu hiperbola untuk terjadi di dunia nyata. Sebuah sekuens aksi menampilkan pasukan pengaman ini yang kabur mengendarai mobil yang dua bannya dilalap api. Keren tapi sulit dipercaya � sama seperti filmnya. Namun di balik segala kecatatannya, 13 Hours adalah film aksi-thriller yang efektif. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi' |
|

IMDb | Rottentomatoes
144 menit | Remaja - BO

Sutradara Michael Bay
Penulis Chuck Hogan (screenplay), Mitchell Zuckoff (buku)
Pemain James Badge Dale, John Krasinski, Max Martini

Jumat, 18 Maret 2016

Review Film: 'London Has Fallen' (2016)

Bagi anda yang telah menonton 'Olympus Has Fallen', tentu tahu bahwa sekuelnya yang sama-sama brutal dan eksploitatif ini masuk ke dalam kategori mindless action.

�Yeah? Well, they should've brought more men.�
� Mike Banning
Dalam Olympus Has Fallen, agen Secret Service Mike Banning (Gerard Butler) berhasil menggagalkan usaha terorisme pada Gedung Putih dan menyelamatkan sang Presiden, Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Masih dengan formula yang sama, London Has Fallen hanya mengambil tempat yang berbeda dengan skala yang lebih besar. Saya tak tahu berapa lama rentang waktu berjalan hingga kita tiba di sekuelnya ini, namun pastinya kurang dari 5 tahun mengingat Asher yang masih menjabat sebagai Presiden. Dua aksi teror dalam waktu berdekatan? Media takkan kehabisan bahan untuk dijadikan headline.

Sebenarnya tak perlu saya sebutkan, tapi yang menjadi sasaran kali ini adalah London. Sebelumnya, Kepala Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) memberitahu Presiden Asher bahwa Perdana Menteri Inggris telah meninggal dunia dan merekomendasikan agar kunjungan duka dilakukan setelah persiapan keamanan matang. Namun karena ia adalah Presiden Amerika, tentu saja ia bisa melakukan apa pun dan memilih untuk langsung terbang ke London hanya ditemani beberapa orang pengawal, diantaranya ada Mike Banning.

Ternyata ini adalah jebakan yang dirancang oleh teroris. Tepat saat kita kehabisan kesabaran menanti kapan adegan aksinya dimulai, serangan teror dilancarkan secara habis-habisan. Bom diledakkan dan RPG diluncurkan sementara teroris yang menyamar sebagai polisi menghamburkan peluru membunuh siapapun yang di dekat mereka. Bicara soal ledakan, bagi anda yang menyukai hal tersebut dijamin takkan kecewa. Mereka meledakkan semuanya � termasuk landmark khas London seperti Trafalgar Square, Chelsea Bridge, Big Ben hingga Westminster Palace � yang menewaskan pemimpin Kanada, Prancis, Jepang dan Itali. Asher berhasil selamat dan Banning harus melindungi sang presiden hingga bantuan datang.


Sama seperti pendahulunya, London Has Fallen adalah pertunjukan utama bagi Banning yang diperankan oleh Butler tanpa perlu berakting banyak. Dia menembak, menusuk, atau menghajar yang kemudian seringkali diakhiri dengan one-liner khas jagoan 90-an. Sekadar memberi tambahan dimensi bagi karakternya, Banning diceritakan mempunyai istri yang tengah hamil tua. Eckhart mendapat porsi aksi yang sedikit lebih banyak. Sementara peran Morgan Freeman (sebagai Wakil Presiden), Melissa Leo, Robert Forster dan Jackie Earl Haley terbatas pada pihak berwenang yang mencari jalan keluar, yang sebenarnya tak begitu berguna mengingat Banning yang bisa menyelesaikannya dengan cara "paling Amerika". Besar kemungkinan anda melewatkan Charlotte Riley sebagai agen MI-6, Jax Marshall.

Sutradara debutan Babak Najafi menyajikan beberapa sekuens aksi yang keren, meski terdegradasi oleh efek CGI yang buruk serta editing yang serampangan. Ada kejar-kejaran dengan mobil dihiasi dengan hujanan peluru dan pertarungan tangan kosong, yang lantas diikuti dengan usaha penyelamatan diri dengan helikopter yang ditembaki rudal. Untuk momen klimaks, gambar diambil dengan metode (yang kayanya) one-shot dimana kamera bergerak dengan dinamis menyoroti adu tembak.

Bagi anda yang telah menonton Olympus Has Fallen, tentu tahu bahwa sekuelnya yang sama-sama brutal dan eksploitatif ini masuk ke dalam kategori mindless action. Sebagaimana film lain yang sejenis, ada tiga hal yang tidak perlu anda bawa ke bioskop agar benar-benar bisa menikmati film ini: (1) rasionalitas (karena ceritanya memang tidak masuk akal); (2) nilai moral (mengingat banyaknya korban jiwa yang hampir semuanya dianggap tak berharga) dan (3) sensitivitas kultural / pandangan sosial (Amerika selalu benar dan Timur Tengah selalu punya tendensi untuk melakukan terorisme).

Pun demikian, London Has Fallen melakukan manuver pintar untuk menghindari isu religius dengan memberikan latar belakang balas dendam bagi antagonisnya (ini tak menjauhkannya dari karakterisasi one-note). Terorisme ini didalangi oleh Aamir Barkawi (Alon Moni Aboutboul) yang bermaksud melakukan pembalasan dendam pada Amerika setelah keluarganya dibombardir dengan drone. Jika sasaran mereka adalah Amerika, kenapa mereka sampai perlu mengorkestrasi aksi teror sekompleks ini? Melihat track-record Barkawi yang katanya telah membunuh orang lebih banyak dibandingkan wabah penyakit, kenapa pula ia hanya berada di ranking 6 penjahat paling dicari? Asumsi saya, sineasnya menyimpan 5 besar untuk 5 sekuel setelah ini. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'London Has Fallen' |
|

IMDb | Rottentomatoes
99 menit | Dewasa

Sutradara Babak Najafi
Penulis Creighton Rothenberger, Katrin Benedikt, Chad St. John, Christian Gudegast
Pemain Gerard Butler, Aaron Eckhart, Morgan Freeman

Selasa, 15 Maret 2016

Review Film: 'Last Shift' (2015)

'Last Shift' punya premis yang sederhana tapi sutradara Anthony DiBlasi benar-benar mengeksplorasinya sedemikian rupa hingga film ini bisa saya sebut sebagai salah satu yang cukup baik di genrenya.

�All hail the king of hell.�
Last Shift punya premis yang sederhana tapi sutradara Anthony DiBlasi benar-benar mengeksplorasinya sedemikian rupa hingga film ini bisa saya sebut sebagai salah satu yang cukup baik di genrenya. Jika berada sendirian di tempat sepi adalah salah satu ketakutan terbesar anda, maka Last Shift akan menjadi film yang sangat menyeramkan.

Saat sebuah film horor lebih menggantungkan horornya melalui jump-scares, otak saya otomatis telah berada dalam mode skeptis. Last Shift bukanlah film yang menghindari metode standar tersebut. DiBlasi tetap menggunakannya di beberapa bagian, tapi tidak secara sporadis. Plus, ia juga peduli dengan pembangunan atmosfer yang didukung dengan tata suara. Film ini adalah film horor murahan, namun ia efektif. Selain punya nuansa horor klasik (oke, mungkin analoginya sedikit berlebihan), ia juga menampilkan teror visual seperti sadisme (darah berceceran, organ berserakan, dll) atau penampakan yang menakutkan.


Ceritanya mengenai Jessica (Julianna Harkavy) , seorang polisi baru yang mendapat tugas jaga malam di sebuah kantor polisi lama. Tugas ini seharusnya menjadi pekerjaan yang gampang, karena semua semua personil dan peralatan operasional telah dipindahkan ke gedung baru, termasuk panggilan 911 (panggilan darurat) yang langsung dialihkan agar terhubung ke kantor baru.

Seperti yang kita duga (dan kita harapkan tentunya, karena ini adalah film horor, dimana kita ingin ditakut-takuti), peristiwa-peristiwa aneh mulai terjadi. Entah itu sekadar kejadian ganjil yang masih masuk logika, seperti gelandangan yang menerobos masuk dan pipis sembarangan atau telepon yang tiba-tiba berdering, hingga aktivitas supranatural seperti suara-suara menyeramkan dan penampakan-penampakan mistis.

Mengambil sudut pandang Jessica yang notabene merupakan rookie yang baru pertama kali berada di gedung tersebut, kita dibawa berkeliling sementara Jessica mendapati detil-detil baru mengenai seluk-beluk gedung lama ini. DiBlasi menyajikannya dengan perlahan, lapisan demi lapisan. Bahkan saat saya merasa bahwa terornya yang berhubungan dengan sekte sesat pemuja setan (bukan spoiler, sungguh) diungkap terlalu dini, Last Shift ternyata tetap tak kehilangan keseramannya.

Sederhananya, film ini memakai formula haunted house, namun lebih cenderung ke horor psikologis. Nah bagi penikmat horor yang sering berteriak "Kenapa [nama tokoh utama] tak keluar saja sih dari sana?", film ini punya motif yang cukup kuat hingga Jessica tak mau keluar dari sana. Separuhnya adalah dedikasi pada pekerjaan dan separuhnya lagi adalah rasa hormatnya pada sang ayah yang gugur dalam tugas. Dengan penampilan yang solid, Harkavy menjadikan Jessica bukan sebagai salah satu karakter paling manusiawi dalam film horor, bukannya dungu sebagaimana yang biasa kita dapati dalam film horor kekinian. Rentetan kejadian menyeramkan ini tak hanya mengguncang keberanian, melainkan juga kewarasannya.

Satu kekurangannya bagi saya mungkin adalah alurnya yang terasa draggy di beberapa bagian. Untuk ukuran film berdurasi 87 menit, film ini terasa lebih panjang daripada kelihatannya. Entahlah, mungkin disebabkan karena keterbatasan ruang gerak sehingga terkadang terkesan repetitif. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Last Shift' |
|

IMDb | Rottentomatoes
87 menit | Remaja

Sutradara Anthony DeBlasi
Penulis Anthony DiBlasi, Scott Poiley
Pemain Julianna Harkavy, Joshua Mikel, J. LaRose

Minggu, 13 Maret 2016

The Invitation (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer Film






Informasi film The Invitation :

Sutradara:
Karyn Kusama

Produser:
Phil Hay
Matt Manfredi
Martha Griffin
Nick Spicer

Penulis:
Phil Hay
Matt Manfredi

Pemain:
Logan Marshall-Green, Tammy Blanchard, Michiel Huisman, Emayatzy Corinealdi, Lindsay Burdge, Mike Doyle, Jay Larson, John Carroll Lynch

Penata musik:
Theodore Shapiro

Sinematografer:
Bobby Shore

Editor:
Plummy Tucker

Rumah produksi:
Gamechanger Films
Lege Artis
XYZ Films

Distributor:
Drafthouse Films

Tanggal rilis:
13 Maret 2015 (SXSW)
8 April 2016 (United States)

Durasi film:
99 minutes

Asal negeri:
United States

Bahasa:
Inggris

Poster film The Invitation 

horror the invitation

Trailer The Invitation :


Sinopsis film The Invitation :

Film the Invitation akan tayang pada Maret 2016. Film ini mengetengahkan kisah yang berbeda dengan kisah film drama biasanya. Di dalam film ini, tergambar sebuah situasi sulit yang harus dihadapi seorang pria yang mendapatkan undangan �tidak biasa.�

The Invitation menceritakan seorang pria bernama Will yang diundang ke pesta makan malam mantan istrinya, Eden. Awalnya, Will dan Eden adalah pasangan yang saling mencintai. Mereka sempat menikah dan memiliki seorang putra. Namun naas, putra mereka itu meninggal karena sebuah tragedi. Merasa tidak kuasa dengan kehilangan putra kesayangannya tersebut, Eden tiba-tiba menghilang hingga 2 tahun kemudian muncul kembali bersama suami barunya, David.

Will yang diundang ke rumah baru mantan istrinya itu harus menghadapi kondisi sulit, dilematis dan mencekam. Di dalam pesta yang terkesan ganjil itu, Will mencurigai beberapa tamu undangan yang menunjukkan perilaku misterius.

Di dalam film itu, tokoh Will diperankan oleh aktor Logan Marshall.  Sementara itu, tokoh mantan istrinya Eden, diperankan oleh aktris Tammy Blancard (sebelumnya pernah melejit di film �Into The Woods�). Tokoh suami baru Eden yakni David, diperankan oleh aktor Michael Huisman.

Baca juga:

Film drama keluarga ini diproduksi oleh Drafthouse Films. Penulis skenario film ini adalah Phil Hay dan Matt Manfredi. Film ini disutradarai oleh Karyn Kusuma. The Invitation menampilkan beberapa aktor kenamaan seperti Michael Huisman (David), Ligan Marshal (Will), Jhon Carrol Lynch( Pruitt), Mike Doyle ( Tommy), Tammy Blanchard (Eden), serta Emayatzy Corinealdi (Kira). Film yang berdurasi selama 97 menit ini menyisipkan nilai-nilai yang berhubungan dengan cinta, ketabahan, ketulusan dan kontrol diri yang baik.

Rabu, 09 Maret 2016

Film Backtrack (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer





Informasi film Backtrack :

Sutradara:
Michael Petroni

Produser:
Antonia Barnard
Jamie Hilton
Michael Petroni

Penulis:
Michael Petroni

Pemain:
Adrien Brody
Bruce Spence
Sam Neill
Robin McLeavy
Malcolm Kennard
Jenni Baird

Penata musik:
Dale Cornelius

Sinematografer:
Stefan Duscio

Editor:
Martin Connor
Luke Doolan

Rumah produksi:
Head Gear Films
Metrol Technology
Screen Australia
See Pictures

Distributor:
Saban Films

Tanggal rilis:
18 April 2015 (Tribeca Film Festival)
29 January 2016 (Inggris)

Durasi:
90 menit

Negeri:
Australia

Bahasa:
English

Poster film Backtrack:


Trailer film Backtrack:


Sinopsis film Backtrack :

Backtrack adalah sebuah film yang mengangkat kisah seorang psikoterapis. Psikoterapis yang diceritakan di dalam film ini mengalami gangguan psikis berat. Permasalahan psikis yang dideritanya berawal dari sebuah mimpi buruk yang sangat mengerikan. Selang beberapa waktu setelah mengalami mimpi buruk tersebut, sang psikoterapis mengalami halusinasi. Dia sering melihat  penampakan-penampakan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

Dalam film ini, tokoh psikoterapis tersebut bernama Peter Bowers. Gangguan kejiwaan yang dialami Peter berhubungan erat dengan upayanya mengungkap sebuah rahasia dari cerita yang mengerikan. Uniknya, cerita tersebut berasal dari kliennya sendiri. Seolah tidak mampu menghindar dari cerita mengerikan itu, Peter justru larut di dalamnya. Peter terlanjur menempatkan dirinya dalam bayangan. Peter merasa kembali ke kampung halamannya yang sangat jauh. Tempat itu adalah tempat yang telah lama ia tinggalkan dan menyisakan trauma bagi dirinya.

Peter yang terjebak oleh profesinya sendiri harus mencoba memecahkan misteri cerita yang terjadi puluhan tahun sebelumnya itu. Cerita tersebut adalah kunci satu-satunya untuk menyelamatkan jiwanya yang selalu dilanda ilusi dan halusinasi. Selama memecahkan misteri cerita yang menjeratnya itu, Peter merasa terbantu oleh cerita para kliennya yang lain.

Baca juga:
Film yang penuh teka-teki ini berdurasi selama 90 menit. Film ini akan dirilis pada 11 Maret 2016. Backtrack disutradarai oleh Michael Petroni.  Film ini menampilkan beberapa aktor kenamaan seperti Adrien Brody (tokoh sentral), Sam Neill, Jenni Baird, Robin Mc Leavy, Chloe Bayliss, serta aktris Anna Lise Philips.

Recent Post