Latest News

Adbox
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2016

Winter in Tokyo (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Winter in Tokyo

Film Indonesia akan kembali diramaikan dengan hadirnya film baru, Winter in Tokyo. Film yang akan tayang di bioskop dalam waktu dekat ini mengisahkan lika-liku asmara seorang gadis kutu buku, Keiko ( diperankan oleh Pamela Bowie ). Keiko memiliki paras yang cantik, meskipun penampilannya cenderung seperti seorang kutu buku pada umumnya. Selain itu, pekerjaannya sebagai petugas perpustakaan membuat Keiko semakin nampak sebagai seorang penyendiri.

Tinggal seorang diri di pinggiran kota Tokyo, Jepang, kehidupan Keiko berubah dengan kedatangan Kazuto ( diperankan oleh Dion Wiyoko) yang kembali ke Jepang setelah lama tinggal di Amerika. Kazuto tinggal di apartemen yang sama dan menjadi tetangga Keiko. Bersama-sama Kazuto sepanjang musim dingin di Jepang, tak hanya membuat hari-hari Keiko yang semula suram menjadi lebih berwarna. Namun juga menghadirkan perasaan lebih di hati Kazuto.

Ketika benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Kazuto, Keiko justru secara tiba-tiba memutuskan berpacaran dengan Akira ( diperankan oleh Morgan Oey ), cinta pertama Keiko. Ketika segalanya terasa indah untuk Keiko inilah, sebuah kejadian membuat Kazuto hilang ingatan. Tak adanya Kazuto di hari-hari Keiko justru menghadirkan kesedihan tak terhingga untuk gadis pendiam tersebut. Ia pun mulai merasa ada yang berbeda di hari-harinya tanpa adanya Kazuto. Padahal ketika itu, Keiko pun masih memiliki Akira, yang selama ini ia rasa sebagai cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

Dan ketika inilah rasa cinta Keiko pada Akira mulai diuji. Benarkan perasaan Keiko untuk Kazuto hanya sebatas sahabat, atau keduanya justru memiliki perasaan lebih? Keiko pun akhirnya mengerti bahwa perasaan cinta harus dirasakan untuk bisa dimengerti. Lalu, apakah Kazuto berhasil mendapatkan ingatannya kembali dan bertemu dengan Keiko? Akankah Keiko memilih Kazuto, pria yang ia rasa baru saja hadir di hidupnya, ataukah tetap pada sang cinta pertama, Akira?

Baca juga:

Winter In Tokyo merupakan film drama produksi Unlimited Production, Maxima Pictures kesekian yang disadur dari novel. Kali in, film yang nyaris seluruhnya mengambil lokasi di Jepang tersebut diambil dari novel karya Ilana Tan yang berjudul sama, Winter In Tokyo. Tak hanya menyuguhkan pemandangan indah musim dingin di Jepang, yang menjadikan sinematografi film ini menjadi begitu menarik, Winter In Tokyo pun mengunggulkan pemain-pemain film muda dengan kemampuan akting yang pantas diperhitungkan.

Informasi film Winter in Tokyo

Produser :
Oswin Bonifanz

Sutradara :
Fajar Bustomi

Penulis :
Titien Wattimena

Produksi :
Unlimited Production, Maxima Pictures

Pemain :
Dion Wiyoko, Pamela Bowie, Morgan Oey, Kimberly Ryder, Ferry Salim, Brandon Salim, Brigitta Cynthia (Gigi Chibi)

Negara :
Indonesia

Bahasa :
Indonesia

Tanggal rilis :
Agustus 2016

Informasi film Winter in Tokyo



Informasi film Winter in Tokyo


Sabtu, 30 April 2016

Review Film: 'The Choice' (2016)

'The Choice' bukanlah tentang pilihan, melainkan kebetulan. Kebetulan yang jamak terjadi dalam semesta Nicholas Sparks.

�Some choices change everything.�
� Travis
Kita nyaris bisa menebak bahwa The Choice adalah filmnya Nicholas Sparks saat melihat pasangan muda-mudi dengan tampang menawan tampak bahagia dalam sebuah poster yang dilatari dengan pemandangan indah atau guyuran hujan deras. Jika hanya itu yang anda cari, anda takkan kecewa. The Choice menampilkan lanskap manis dari pesisir Carolina dan tak hanya dua atau tiga, melainkan lima pemain berwajah tampan dan cantik. Sutradara Ross Katz tahu benar gambar mana yang harus disorot untuk memanjakan mata.

Novel Nicholas Sparks tak terbantahkan lagi adalah kisah cinta romantis. Namun jika anda sudah familiar dengan karyanya, anda tentu tahu bahwa semua tak lepas dari tragedi. Bukan untuk mengeksploitasi penderitaan mereka, melainkan memperlihatkan kekuatan cinta di tengah situasi sulit. Cinta itu menyakitkan, tapi manusia tak bisa hidup tanpa cinta. Wuhuu, galau maksimal.


Kita tahu tragedi pasti datang dalam The Choice saat film dibuka dengan Travis Shaw (Benjamin Walker) yang mengunjungi rumah sakit sambil membawa seikat bunga. Cerita beralih waktu ke tujuh tahun sebelumnya. Travis adalah seorang dokter hewan, ahli masak (meski terbatas pada BBQ saja) dan jagonya merayu wanita. Kebiasaannya memutar musik dengan volume keras, ternyata mengganggu tetangga barunya, Gabby (Teresa Palmer), seorang calon perawat yang bisa kita asumsikan cerdas dari kebiasaannya mendengar musik klasik dan sering membuka selusin buku di atas meja belajar.

Komplain semakin menjadi-jadi saat Gabby menuduh anjingnya telah dihamili oleh anjing Travis. Namun jangan salahkan para anjing. Mereka imut dan � percaya atau tidak � menjadi pemantik kedekatan antara Gabby dan Travis. Secara teori, tak ada yang salah. Mereka tampak cocok sebagai pasangan ideal. Tapi tunggu dulu. Keduanya ternyata sudah punya pacar! Travis menjalin hubungan dengan Monica (Alexandra Daddario) sementara Gabby sudah bertunangan dengan seorang dokter lokal, Ryan (Tom Welling). Anda mengira konflik akan menjadi pelik, tapi tak perlu khawatir, sebab penyelesaiannya jauh lebih cepat daripada mengucapkan 10 judul film Nicholas Sparks.

The Choice adalah adaptasi kesebelas dari novel Nicholas Sparks dan merupakan film pertama yang digarap sendiri oleh rumah produksi Sparks. Mungkin untuk meyakinkan agar semua elemennya tetap setia dengan dunia Spark-nesia. Benar saja, film ini hanya mereka-ulang elemen dari film tersuksesnya (bahkan hingga detil guyuran hujan) namun sayangnya melupakan apa yang membuat penonton terikat. Terlepas dari kelakar yang cukup asyik, pembangunan chemistry antara kedua pemain utama kita terasa hambar. Tak butuh waktu lama bagi adik Travis, Stephanie (Maggie Grace) untuk menyimpulkan bahwa mereka saling berjodoh sehingga saya juga harus menyimpulkan bahwa Stephanie adalah seorang dukun.

Walker dan Palmer punya pesona yang unik dalam karakter masing-masing meski tak sejalan sebagai pasangan, yang membuat anda menerka seandainya penulis naskah Bryan Sipe memberikan material yang lebih baik (atau ini salah Nicholas Sparks? Entahlah, saya belum membaca novelnya). Gabby diceritakan sebagai gadis yang taat agama (ia bahkan mengajak Travis ke gereja), namun tak ragu-ragu berselingkuh saat pacarnya dinas ke luar kota selama beberapa waktu. Tak perlu takut, anda bukan satu-satunya yang secara tak sadar tak merestui hubungan Gabby-Travis.

"Saya akan memberitahu anda rahasia kehidupan," ujar Travis di awal film. Film ini menjanjikan sesuatu yang besar dan saya takkan mempermasalahkannya kalau saja tak mengkhianati penonton di akhir. Saya takkan mengungkapkanya, namun saya bisa sebutkan bahwa resolusinya begitu murahan. The Choice bukanlah tentang pilihan, melainkan kebetulan. Kebetulan yang jamak terjadi dalam semesta Nicholas Sparks. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Choice' |
|

IMDb | Rottentomatoes
101 menit | Remaja

Sutradara Ross Katz
Penulis Bryan Sipe (screenplay), Nicholas Sparks (buku)
Pemain Benjamin Walker, Teresa Palmer, Maggie Grace, Alexandra Daddario

Minggu, 03 April 2016

Review Film: 'My Big Fat Greek Wedding 2' (2016)

14 tahun kemudian sekuelnya datang dan kali ini saya yakin bahwa film yang diberi judul sederhana, 'My Big Fat Greek Wedding 2' ini takkan mampu melewati standar pendahulunya.

�Now my family has come together to pull off another big fat greek wedding.�
� Toula Portokalos
Saya yakin tak banyak yang menduga bahwa My Big Fat Greek Wedding akan begitu sukses dan menjadi film komedi romantis terlaris sepanjang masa saat dirilis pada 2002 lalu. Dibuat dengan bujet hanya $5 juta dan tanpa dibintangi oleh aktor tenar, film ini meraup laba yang begitu masif (mencapai $368 juta secara global), serta mendapat nominasi di SAG Awards dan Oscar (untuk kategori Original Screenplay). 14 tahun kemudian sekuelnya datang dan kali ini saya yakin bahwa film yang diberi judul sederhana, My Big Fat Greek Wedding 2 ini takkan mampu melewati standar pendahulunya.

Film pertama sebenarnya punya konsep yang tak terlalu orisinal � seorang gadis keturunan Yunani berusia 30-tahunan yang harus mempertahankan hubungan asmaranya dengan pria non-Yunani di tengah tantangan keluarga � namun punya pesona spesial berkat lelucon sederhana yang natural, terlepas dari kemasannya yang mirip FTV. Meski mengangkat kultur yang spesifik, relevansi akan isunya begitu dekat dengan penonton. Sekarang, kekuatan magisnya pudar. My Big Fat Greek Wedding 2 kehilangan fokus, komedi tulus dan relevansi. Ada begitu banyak konflik dan hampir semua situasi komedinya dipaksakan.

Setelah 18 tahun berumah tangga bersama Ian (John Corbett), Toula (Nia Vardalos) dibuat stres karena hubungannya yang tak begitu hangat dengan anak gadisnya yang berusia 17 tahun, Paris (Elena Kampouris). Paris ingin berkuliah di New York, jauh dari rumah keluarga BESAR-nya (saya harus menggunakan huruf kapital) yang eksentrik di Chicago. Namun yang akan menjalani another big fat greek wedding bukan Paris, melainkan orang tua Toula, Gus (Michael Constantine) dan Maria (Lainie Kazan). Sebentar, apa tadi?


Yap, ternyata 50 tahun yang lalu pernikahan keduanya tidak diberkati oleh pendeta yang sah. Artinya, mereka harus melakukan lagi prosesi tersebut demi keabsahan surat nikah. Ini tak mudah, sebab Gus terlalu arogan untuk melamar sementara Maria tak mau menikah sebelum dilamar Gus. Seakan konfliknya belum cukup, Toula juga sedang berusaha untuk kembali menghangatkan rumah tangganya bersama Ian � salah satu metodenya adalah dengan bercumbu di dalam mobil layaknya pasangan muda-mudi.

Yang saya suka dari My Big Fat Greek Wedding adalah chemistry dan pembawaan yang menarik dari Toula dan Ian, tapi Vardalos yang juga merupakan penulis naskah, memilih mengesampingkan peran keduanya dengan menghadirkan berbagai macam problematika bagi tokoh-tokoh pendukung: selain hiruk pikuk pernikahan duo uzur tersebut, Gus reuni dengan adik yang tak pernah ditemuinya setelah bertahun-tahun sembari memperjuangkan sertifikasinya sebagai keturunan langsung Alexander Agung, Paris mencari pasangan untuk malam prom sembari menunggu surat penerimaan dari kampus, tetangga yang juga mulai meributkan kehebohan keluarga ini, bahkan diselipkan pula sublpot mengenai gay yang datang sekonyong-konyong tanpa bobot emosional. Setidaknya, dilema-dilema tersebut takkan membuat kita stres, karena sama seperti film pendahulunya, tensi dari konfliknya tak tinggi-tinggi amat.

Komedinya masih mirip sitkom dan bergantung pada kenyentrikan dan diferensiasi kultural, tapi presentasi berlebihan dari Kirk Jones menegaskan leluconnya yang terlalu dipaksakan. Film dibuka dengan adegan dimana keluarga BESAR Yunani ini yang membuat keributan saat Paris mengunjungi bursa perguruan tinggi. Lelucon-lelucon payah dilepaskan tiap 10 detik yang hanya bisa memancing senyum simpul bagi sebagian penonton dan senyum kecut bagi penonton yang lain.

Untungnya, Vardalos dan Corbett masih cukup memesona meski porsi tampilnya terbatas. Tetap menggelikan melihat Constanstine sebagai Gus yang tak pernah bosan membanggakan leluhurnya pada setiap orang, tak peduli kapanpun dan dimanapun. Lelucon mengenai Windex sebagai penyembuh segala macam penyakit juga masih ada, meski akan dilewatkan oleh sebagian penonton yang kurang jeli. Kebanyakan lelucon yang mengena adalah berkat Andrea Martin yang kembali memerankan Tante Voula dengan pembawaan dan logatnya yang sangat komedik.

Bagi yang menggemari film pertamanya, My Big Fat Greek Wedding 2 akan menjadi reuni yang menyenangkan karena Vardalos berhasil mengumpulkan semua tokoh-tokoh aslinya lengkap dengan elemen-elemen dasar yang sama. Kali ini pesan moralnya juga lebih banyak. Hanya saja, ia tak akan meninggalkan kesan yang setara. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'My Big Fat Greek Wedding 2' |
|

IMDb | Rottentomatoes
94 menit | Remaja

Sutradara Kirk Jones
Penulis Nia Vardalos
Pemain Nia Vardalos, John Corbett, Lainie Kazan, Michael Constanstine

Rabu, 16 Maret 2016

Review Film: 'Mermaid' (2016)

Akting pemainnya buruk, plotnya amburadul, CGI apalagi. Mungkin memang absurditasnyalah yang mampu menghipnotis jutaan penonton.

Mermaid adalah film yang lucu karena begitu absurd. Leluconnya sebagian besar begitu payah dan tak masuk akal tapi tetap memancing tawa saking edannya. Sulit membayangkan film ini dibuat oleh manusia yang punya akal sehat, namun faktanya yang di belakang layar adalah aktor / sutradara / produser kenamaan Cina, Stephen Chow. Setelah Shaolin Soccer, Kung Fu Hustle lalu film ini, saya mulai meragukan kewarasannya.

Film ini merupakan film terlaris sepanjang masa di Cina (mengalahkan rekor Monster Hunt) dan sejauh ini menjadi film terlaris global di tahun 2016, hanya kalah sedikit dari Deadpool. Apa yang membuatnya begitu menarik? Akting pemainnya buruk, plotnya amburadul, CGI apalagi. Mungkin memang absurditasnyalah yang mampu menghipnotis jutaan penonton.

Kegilaan sudah dimulai sejak awal saat seorang pemandu tur abal-abal dengan setengah hati memandu para turisnya di museum yang tak kalah abal-abal pula. Adegan ini tak relevan dengan plot utama, namun setidaknya ia menyoroti bahwa film ini akan membahas tentang duyung dengan cara memperlihatkan kita seekor, eh, seorang duyung yang akan membuat perut anda mual.


Percaya atau tidak, Mermaid mengangkat tema mengenai isu lingkungan yang dibalut dengan rumus komedi-romantis (walau tak romantis amat) mengenai duyung. Liu Xuan (Deng Chao) adalah konglomerat muda yang bermaksud untuk mereklamasi kawasan pantai Teluk Hijau. Dengan bantuan ilmuwan bule, ia menggunakan teknologi sonar untuk mengusir kawanan lumba-lumba. Nah ternyata sonar ini juga mengganggu populasi duyung. Mereka terpaksa mengungsi ke sebuah reruntuhan kapal.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, pimpinan para duyung, manusia separuh gurita (Show Luo) mengutus Shan (Lin Yang) yang polos untuk menggoda Xuan dan membunuhnya. Tak perlu dijelaskan lagi bahwa Shan tak punya kaki manusia. Oleh karena itu, ekor ikannya dimodifikasi sehingga tak begitu mencurigakan, walau akhirnya tetap saja janggal. Rencana ini menjadi kacau, karena Shan malah jatuh cinta pada Xuan, begitu juga sebaliknya.

Film ini melempar lelucon sebanyak mungkin, dan meski ada beberapa yang meleset, kapabilitas Chow mengatur komposisi dan timing sedemikian rupa membuat beberapa momen komediknya begitu priceless. Kebanyakan merupakan lelucon slapstick, misalnya usaha pembunuhan yang dilakukan Shan yang seringkali gagal total dan malah membuatnya terkena bulu babi. Atau duyung gurita yang terpaksa menggoreng tentakelnya sendiri agar penyamarannya tak terbongkar. Yang paling kocak adalah saat Xuan melaporkan pengalamannya melihat duyung dan dua polisi dodol malah membuat sketsa duyung yang konyol, seolah keduanya tak pernah tahu sama sekali.

Cukup mengejutkan bahwa naskah ditulis oleh 7 orang ditambah Chow padahal filmnya tak punya perkembangan plot yang signifikan. Setidaknya hingga cerita berubah haluan secara drastis di paruh ketiga. Ketika partner Xuan, Ruolan (Zhang Yuqi) turun tangan, kegilaan berganti menjadi adegan brutal. Misi Ruolan adalah untuk mencari spesimen duyung hidup, lantas kenapa pula ia melakukan pembantaian duyung secara sporadis? Adegan sentimentil di akhir juga kurang menohok karena hubungan Xuan dan Shan sejak awal terkesan hanya menjadi fasilitas bagi lawakan.

Ah, tapi mungkin saya saja yang terlalu serius. Bisa jadi anda akan lebih menikmatinya. Jika lelucon absurd dan wanita seksi adalah yang anda cari, film ini untuk anda. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Mermaid' |
|

IMDb | Rottentomatoes
94 menit | Remaja - BO

Sutradara Stephen Chow
Penulis Stephen Chow, Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong, Chan Hing-ka, Tsang Kan-cheung
Pemain Deng Chao, Show Luo, Zhang Yuqi

Selasa, 23 Februari 2016

Film Stay With Me (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer






Informasi film Stay With Me:

Judul :
Stay With Me

Jenis :
Drama

Produser :
Rudi Soedjarwo, Tyas Abiyoga, Aulia Mahariza

Sutradara:
Rudi Soedjarwo

Penulis :
Anggi Septianto

Produksi :
Integrated Film Solution

Pemain :
Boy William, Ully Triani, Natasha Ratulangi

Negara :
Indonesia

Bahasa :
Bahasa Indonesia

Tanggal rilis: 
25 Februari 2016

Poster film Stay With Me:



Trailer film Stay With Me:



Sinopsis film Stay With Me:

Apa yang terjadi jika perasaan sayang yang seharusnya sudah mati kembali lagi saat anda sudah berkeluarga? Hal itulah yang dirasakan oleh Boy. Film yang di sutradarai oleh Rudi Soedjarwo ini merupakan film adaptasi dari kisah nyata. Di film ini Boy William akan beradu akting dengan Ully Triani dan Natasha Ratulangi.

Jika anda sudah kenyang dengan film drama melankolis, anda dapat menambahkan film Stay With Me sebagai referensi anda karena film ini akan mempunyai makna yang dalam tentang sebuah arti dari cinta dan komitmen. Film ini berkisah antara dua orang kekasih bernama Boy Dimas (Boy William) dan Deyna (Ully Triani). Ketika Boy bertemu dengan Deyna yang bisa mencerahkan hari-harinya ia juga harus siap dengan kenyataan yang ada. Suatu kali, Deyna di beri kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, sontak Deyna kaget dan berangkat ke Eropa untuk tinggal disana secara mandiri.

Hubungannya dengan Boy terpaksa dikesampingkan karena terhalang dengan tempat dan waktu yang berbeda. Selam enam tahun mereka berpisah, Boy di Indonesia bekerja sebagai sutradara film dan Deyna di benua Eropa namun perasaan cinta dan sayang masih tersimpan di hari keduanya. Akhirnya sebuah takfir yang tidak mereka duga datang dan mempertemukan mereka berdua. Namun pertemuan mereka datang di saat yang tidak tepat karena Boy yang sudah menikah dengan Key Hapsari (Natasha Ratulangi) memahami ikatan yang harus dijaga, begitu pula dengan Deyna yang ternyata sudah menikah dan memiliki anak.

Baca juga:

Walaupun pertemuan mereka seakan menggali kembali luka lama mereka percaya bahwa ada alasan khusus kenapa mereka bertemu kembali. Mungkin untuk mengungkap sesuatu yang belum mereka ungkapkan dulu atau menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Pada akhirnya mereka menginginkan sesuatu yang lebih, untuk bahagia bersama dan meneruskan cinta mereka.

Apakah keputusan Boy dan Deyna? akankah mereka kembali merajut kasih? Tonton aksi Boy William dan Ully Triani dalam film Stay With Me pada tanggal 25 Februari 2016.

Recent Post