Latest News

Adbox
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2016

Review Film: 'Warcraft' (2016)

Mengkilap, epik dan spektakuler. Namun sebagai penonton awam saya merasa 'Warcraft' seperti permen karet manis yang sulit dikunyah.

�I've led thousands of warriors into battle, but I fear being a father. Does that make me a leader, or a coward?�
� Durotan
Sedikit banyak Warcraft menimbulkan keinginan untuk memainkan game-nya. Bukan karena film ini sukses merayu saya menjadi gamer, melainkan agar saya benar-benar bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Iya iya, ceritanya mengenai peperangan antara manusia dengan orc. Namun sulit untuk melahap semua istilah magis, latar belakang karakter atau sense of place saat filmnya lebih mengedepankan aksi tanpa eksposisi yang memadai.

Warcraft adalah salah satu game strategi online terpopuler di dunia. Kabar menyebutkan bahwa game ini terinspirasi dari semesta fantasi J.R.R. Tolkien. Dan benar saja, pengalaman yang kita dapatkan dari The Lord of the Rings akan banyak membantu. Orang-orangnya tak hanya dibagi berdasarkan ras (manusia, orc, elf, dwarf, dst) melainkan juga profesi: petinggi kerajaan, ksatria, penyihir dan rakyat jelata. Jika familiar dengan LOTR, mantra sihir dan makhluk mistis takkan membuat kita heran lagi.

Kalau anda ingat, LOTR menggambarkan orc sebagai monster keji tanpa perikemanusiaan yang menjadi antagonis murni. Meski secara konsep masih berhutang pada Tolkien, representasi orc dalam Warcraft sedikit berbeda. Kecuali fisik dan perilaku yang sedikit buas, orc mirip dengan manusia. Mereka intelek dan empatik tapi ada juga yang bersifat buruk. Premis ini menawarkan keseimbangan perspektif dari kedua ras yang nantinya akan berperang ini.


Orc disini juga berada di dimensi yang berbeda. Manusia tinggal di negeri bernama Azeroth bersama dengan dwarf dan elf sedangkan orc hidup di Draenor. Kehancuran di Draenor memaksa orc untuk menjajah Azeroth. Penyihir desa orc, Gul'dan (Daniel Wu) membuka gerbang sihir sebagai perlintasan antara dua dunia agar orc bisa menginvasi manusia. Namun pemimpin desa, Durotan (Toby Kebbell) mulai mempertanyakan metode kekerasan yang mereka ambil.

Untuk menanggulangi hal ini, raja manusia (saya harus menyebutnya begitu agar tidak menimbulkan kerancuan), Llane (Dominic Cooper) menugaskan komandan tertinggi yang sekaligus adalah adik iparnya, Anduin Lothar (Travis Fimmel) untuk meminta bantuan Sang Penjaga, Medivh (Ben Foster) � bayangkan Gandalf yang lebih muda, lebih serius, kurang kompeten dan sering galau.

Paruh pertama, kedua ras ini sudah beradu senjata, meski belum habis-habisan mengingat gerbang yang belum sepenuhnya terbuka. Untuk menjembatani komunikasi antara keduanya sekaligus menjadi jalan pintas untuk menjelaskan latar belakang pada penonton, disediakan karakter Garona (Paula Patton), separuh manusia-separuh orc yang dengan praktis bisa berbahasa manusia dan mengambil tempat di sisi Lothar. Durotan ingin berkoalisi dengan manusia untuk menumbangkan Gul'dan. Di pihak manusia, ada pula yang punya agenda tersendiri.

Secara visual, Warcraft mungkin adalah adaptasi game paling impresif sejauh ini. Sutradara Duncan Jones dan para pekerja efek spesial mengkonversi setiap sen dari bujetnya yang mencapai $100 juta menjadi aksesoris, senjata, kerutan dan otot para orc yang mendetail di setiap adegan. Untuk itu, mereka mungkin juga mengambil sebagian bujet untuk pembangunan plot, melihat terbatasnya karakterisasi atau bobot emosional dari setiap adegan, bahkan saat beberapa tokoh vital mengalami nasib tragis.

Jones pernah menelurkan Moon dan Source Code, film minimalis yang fokus pada elemen sci-fi tanpa pernah meminggirkan karakter. Usahanya bersama Charles Leavitt menciptakan narasi dari materi yang boleh disebut tak punya basis cerita selain konsep patut diapresiasi, meski poin plotnya generik. Ia berkutat dengan terlalu banyak karakter dan subplot disini, mustahil bagi penonton untuk benar-benar terikat dengan setiap bagiannya. Cerita meloncat dari satu bagian ke bagian lain dengan canggung.

Menjadi salah satu karakter utama, Fimmel kurang karismatik sebagai komandan pasukan. Ben Schetzner bermain sebagai penyihir pemula yang lebih dari sekedar comic relief, berbanding terbalik dengan Foster yang motifnya telah tertebak sejak awal. Patton yang mendapat peran dengan konflik paling kompleks, teralihkan dengan dandanannya yang tak meyakinkan (sekadar bermodal cat tubuh hijau dan taring palsu) serta tertelan oleh hiruk pikuk sekuens perang di akhir. Pengecualian bagi Kebbell yang meski dibungkus dengan motion-capture, mampu menampilkan kehangatan dan dilema dari Durotan.

Warcraft adalah film yang (saya asumsikan) hanya dibuat untuk dan oleh penggemar game-nya. Kemasan pengejawantahan layar lebar ini mengkilap, epik dan spektakuler. Kita bisa melihat ambisi serta kecintaan Jones pada filmnya. Gamer-nya mungkin punya opini yang berbeda, namun sebagai penonton awam, saya merasa Warcraft seperti permen karet yang manis tapi sulit dikunyah. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Warcraft' |
|

IMDb | Rottentomatoes
123 menit | Remaja

Sutradara Duncan Jones
Penulis Charles Leavitt, Duncan Jones
Pemain Travis Fimmel, Paula Patton, Ben Foster

Jumat, 20 Mei 2016

Review Film: 'X-Men: Apocalypse' (2016)

Dengan plot yang tak berkembang menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, 'X-Men: Apocalypse' unggul (dan sebaiknya dinikmati) dalam fragmen terpisah.

�No more false gods. I'm here now�
� Apocalypse
Kalau saya tidak salah ingat, setiap klimaks dalam film X-Men selalu mengindikasikan akhir dunia. Gedung-gedung meledak dengan bombastis, banyak nyawa tak bersalah berjatuhan sementara mutan yang terlibat mengeluarkan ekspresi super-intens. Namun tak ada yang lebih tepat menggunakan kata "akhir dunia" dibanding X-Men: Apocalypse karena film ini mengutus sang "kiamat" itu sendiri: En Sabah Nur alias Apocaypse, leluhur para mutan yang kabarnya merupakan yang terkuat.

Menjadi penguasa di jaman Mesir Kuno, Apocalypse terkubur selama ribuan tahun hingga dibangkitkan kembali pada tahun 80-an. Sepanjang hidupnya ia selalu ditemani 4 bawahan yang setia, The Four Horsemen. "Persis seperti legenda kiamat di alkitab," ujar Beast / Hank McCoy (Nicholas Hoult). "Atau justru alkitab lah yang terinspirasi darinya."

Ancaman besar membuat filmnya spektakuler, kita harap. Apa yang layak disebut sebagai villain pamungkas dalam semesta X-Men tersebut diperankan oleh Oscar Isaac, aktor muda yang tampil kuat dalam Inside Llewyn Davis dan A Most Violent Year, yang sayangnya dikerdilkan menjadi karakter penjahat yang generik disini. Saya tak akan mempermasalahkan dandanannya yang lebay atau proporsi tubuh Isaac yang tak mewakili Apocalypse versi komik yang gempal. Untuk ukuran super-mega-villain, keberadaan sang penjahat ini sungguh inkonsekuensial dan tak membekas. Ancamannya terkesan remeh.


Demi misinya yang klise untuk menghancurkan dunia, Apocalypse kembali mengumpulkan 4 anak buah, diantaranya Storm / Ororo Munroe (Alexandra Shipp) yang bisa memanipulasi cuaca, Angel / Warren Worthington III (Ben Hardy) sang mutan bersayap, Psylocke / Elizabeth Braddock (Olivia Munn) yang bisa mengeluarkan pedang laser atau semacamnya, serta pengendali logam, Magneto / Erik Lehnsherr (Michael Fassbender). Melihat kekuatannya yang nyaris tanpa batas, saya heran kenapa Apocalypse sampai perlu merekrut kaki tangan. Tapi terserahlah. Yang terakhir sedikit pelik, karena Erik tengah memulai hidup baru bersama keluarga normal di daerah pinggiran Polandia.

Lalu kemana para X-Men? Sementara Apocalypse sibuk mendandani anteknya dengan kostum mentereng, Profesor Charles Xavier (James McAvoy) yang masih menjalankan sekolah mutan, mengurusi anak-anak baru: Jean Grey (Sophie Turner) yang belum bisa mengontrol kekuatan pikirannya serta Cyclops / Scott Summer (Tye Sheridan) yang bermasalah dengan mata lasernya. Belum cukup? Masuk pula Mystique / Raven (Jennifer Lawrence) yang membawa mutan polos yang bisa berteleportasi, Nightcrawler (Kodi Smith McPhee).

Mengarahkan 4 dari 6 film, Bryan Singer adalah sutradara yang membesarkan dunia sinematis X-Men dan saya pikir ia menghormati masing-masing karakter dari lusinan mutan ini. Setiap orang mendapat momen tersendiri. Ada banyak adegan keren, misalnya pengungkapan identitas Erik saat dikepung oleh polisi di tengah hutan, sekuens ikonik Quicksilver (Evan Peters) atau cameo *spoiler* yang dahsyat (meski tak sesuai dengan tone film), namun plotnya tak berkembang menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. X-Men: Apocalypse unggul (dan sebaiknya dinikmati) dalam fragmen terpisah.

Seperti biasa, para X-Men selalu teralihkan dari urusan utama dengan konflik-konflik kecil yang tak begitu relevan. Kecuali beberapa, semua nama yang saya sebutkan di atas punya problematika tersendiri yang akan menghabiskan beberapa paragraf kalau saya jelaskan. Tak penting juga sih sebenarnya, karena ini hanya disentil sambil lalu dan sekadar plot device bagi pertarungan klimaks yang melibatkan kehancuran global.

Terlepas dari narasinya, X-Men: Apocalypse punya kualitas teknis kelas atas. Kita bisa mengintip talenta dari para pemeran, khususnya trinitas X-Men � McAvoy, Fassbender dan Lawrence � yang potensial kalau saja tak dibatasi oleh skrip. Efek visualnya mengagumkan, namun terlalu berlebihan di paruh akhir, apalagi di pertarungan puncak. Penonton diserang habis-habisan dengan CGI lebay. Mungkin Singer ingin mematuhi Garis-Garis Besar Panduan Film Superhero Generik. Serius, berapa kali Magneto harus menghancurkan jembatan Manhattan? �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'X-Men: Apocalypse' |
|

IMDb | Rottentomatoes
144 menit | Remaja

Sutradara Bryan Singer
Penulis Bryan Singer, Michael Dougherty, Dan Harris, Simon Kinberg
Pemain James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence

Jumat, 06 Mei 2016

Warcraft (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film Warcraft:

Jika anda pernah bermain game warcraft, anda pasti tidak asing dengan karakkter-karakter di game ini. Film yang diadaptasi dari permainan video hasil produksi Blizzard Entertaiment akan siap menghibur anda dengan cerita epik fantasinya. Layaknya permainan video, film Warcraft ini juga bercerita tentang strategi, cinta dan tentu saja perang.

Baca juga:

Berawal dari salah satu dunia Warcraft, Azeroth. Dunia Warcraft yang selama ini tidak pernah mengalami pertempuran harus mengalami peperangan, pasalnya selama ini keempat daerah di dunia itu tidak pernah tehubung. Namun suatu portal membuka jalan masuk antar wilayah Warcraft. 

Daerah Azeroth yang dipimpin oleh bangsa manusia mulai gusar dengan adanya ancaman invasi dari bangsa Orc. Durotan (Toby Kebbel) pemimpin bangsa Orc memutuskan untukk meninggalkkan wilayah asalnya mereka, Dreanor, karena Dreanor sudah tidak layak lagi unutk ditinggali. Sementara dengan keputusan yang ada Raja Azeroth, Sir Andhuin Lothar (Travis Fimmel) mulai merencanakan strategi pertempuran unutk menghdapi bangsa Orc.

Di sisi lain, bangsa manusia dan bangsa Orc tidak tahu bahwa ada rahasia yang tersimpan diantara kedua wilayah tersebut.

Mampukah bangsa manusia dan bangsa Orc meenghindari pertempuran berdarah ini? Dibantu dengan senima grafik yang apik dan juga plot cerita yang menegangkan, Film Warcraft ini pantas anda tonton pada 10 Juni 2016.

Informasi film Warcraft:
Judul:
Warcraft

Jenis:
Fantasi

Produser:
Thomas Tull, Jon Jashni, Charles Roven, Alex Gartner, Stuart Fenegan

Sutradara:
Duncan Jones

Penulis:
Chris Metzen

Pemain:
Travis Fimmel, Paula Patton, Ben Foster, Dominic Cooper, Toby Kebbell, Ben Schnetzer, Robert Kazinsky, Daniel Wu

Produksi:
Legendary Pictures, Blizzard Entertainment, Atlas Entertainment

Negara:
Amerika

Bahasa:
Inggris

Tanggal Rilis:
10 Juni 2016

Poster film Warcraft:

Warcraft

Trailer film Warcraft:



Jumat, 15 April 2016

Review Film: 'The Huntsman: Winter's War' (2016)

Bagi yang menggemari film pendahulunya, bisa dipastikan akan menikmati 'The Huntsman: Winter's War'. Konsep mungkin lebih besar, tapi hampir semua elemennya lebih inferior dibanding film pendahulunya.

�Whoever gets in there will be unstoppable.�
� The Huntsman
Bagi yang menggemari film pendahulunya, bisa dipastikan akan menikmati The Huntsman: Winter's War. Film ini masih menawarkan hal yang kurang lebih sama: aksi-fantasi dengan tampilan visual yang menawan dan imajinatif. Plotnya menggelikan namun menarik ditonton.

Pun demikian, jangan terjebak dengan judulnya (dengan kata "perang") dan materi promonya (kali ini ada 2 ratu jahat) yang mengindikasikan ruang lingkup naratif lebih luas. Konsep mungkin lebih besar, tapi hampir semua elemennya lebih inferior dibanding film pendahulunya.

Sekuel ini bukanlah sekuel sejati. Dikarenakan strukturnya yang mengambil waktu sebelum dan sesudah kejadian dalam Snow White and the Huntsman, istilah lebih tepatnya adalah prekuel-sekuel. Atau spinoff. Atau terserah anda mau menyebutnya (ini hanya terminologi yang tak perlu diperdebatkan). Pemain utama film sebelumnya, Kristen Stewart beserta sang sutradara, Rupert Sanders tak lagi diikutsertakan akibat keterlibatan keduanya dalam skandal perselingkuhan. Karena UlasanPilem bukanlah blog gosip, saya cukupkan sampai disini soal skandalnya. Intinya, studio harus merombak ulang naskah film ini dan begitulah. Ini dia sekuel Snow White... tanpa Snow White.


Alkisah, sebelum dibunuh oleh Snow White, ratu jahat Ravenna (Charlize Theron) memiliki saudari bernama Freya (Emily Blunt). Setelah mengalami suatu peristiwa tragis yang menyebabkan anaknya meninggal, Freya meninggalkan kerajaan dan menyepi ke Utara. Disana, ia membangun kastil es, namun alih-alih bernyanyi "Let It Go", Freya merekrut anak-anak untuk dijadikan tentara yang disebutnya sebagai Pemburu (alias Huntsmen).

Bertahun-tahun berlalu, diantara Pemburu ada Eric (Chris Hemsworth) dan Sara (Jessica Chastain) yang kemudian saling jatuh cinta, satu hal yang sangat ditabukan oleh Freya. Jika film sebelumnya mengesampingkan adegan mesra, film ini tak ragu menampilkan Hemsworth dan Chastain yang bercumbu begitu intens hingga harus disensor. Keduanya kemudian dipisahkan, dimana Sara berakhir tewas. Karena film baru berjalan setengah jam dan Sara diperankan oleh aktor sekelas Chastain, tentu tak mengejutkan saat ia kembali muncul nanti.

Nah dari sini cerita meloncat ke timeline setelah Snow White and the Huntsman. Pangeran William (Sam Claflin) menugaskan Eric untuk menemukan cermin ajaib yang hilang setelah kematian Ravenna. Ia harus berhadapan dengan berbagai musuh seperti sesama Pemburu hingga goblin yang mengijinkan filmnya menampilkan sekuens aksi yang dikoreografi dengan cukup baik, tapi dieksekusi seadanya.

Plot utama ini juga melibatkan 2 dwarf, Nion (Nick Frost) dan Gryff (Rob Brydon), karena bujet untuk 7 dwarf tampaknya terlalu mahal. Dinamika keduanya ditambah 2 dwarf wanita, Mrs. Bromwyn (Sheridan Smith) and Doreena (Alexandra Roach) sebagai comic relief sedikit banyak menutupi inkonsistensi tone dan kekurangan pada perkembangan plot dari naskah Craig Mazin dan Evan Spiliotopoulos.

Masalah pokok mungkin ada pada chemistry antara Eric dengan Sara. Hemsworth dan Chastain memainkan peran masing-masing dengan baik, namun keduanya terlihat tak pernah menyatu. Momen saat keduanya saling sindir atau ketika Eric merayu Sara dihantarkan dengan efektif, tapi saat memasuki momen dramatis, adegannya minim bobot emosional. Blunt menjadi satu-satunya karakter yang mendapat ruang bagi kompleksitas dan mau tak mau anda harus terbiasa dengan penampilan Theron yang membawakan setiap dialog Ravenna dengan mendesah atau tempo superpelan agar terkesan keji.

Cedric Nicolas Troyan yang mengambil alih posisi sutradara setelah sebelumnya hanya terlibat sebagai supervisor efek dalam Snow White and the Huntsman menyuguhkan visual berbalut CGI yang pas, meski tak ada visualisasi imajinatif yang se-memorable Dark Forest. Satu adegan kembali memakai detil yang sama seperti film sebelumnya, termasuk kehadiran sekilas makhluk-makhluk fantasi di background, walau sebenarnya ia tak punya tujuan naratif sama sekali (anda bahkan bisa menyaksikan Emily Blunt menunggangi beruang kutub). Desain kostum lagi-lagi lebih unggul dibanding narasi. Colleen Atwood membuat desain setiap pakaian (khususnya gaun Freya dan Ravenna) hingga rincian terkecil.

Melihat ending filmnya yang masih terbuka, saya menduga Universal berniat mengekspansinya menjadi franchise dengan asumsi filmnya sukses di box office. Apa berikutnya? 7 Dwarfs: Summer's Camp? Siapkan batin anda. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Huntsman: Winter's War' |
|

IMDb | Rottentomatoes
114 menit | Remaja - BO

Sutradara Cedric Nicolas-Troyan
Penulis Craig Mazin, Evan Spiliotopoulos
Pemain Chris Hemsworth, Jessica Chastain, Emily Blunt

Sabtu, 09 April 2016

Review Film: 'The Jungle Book' (2016)

'The Jungle Book' versi orisinal adalah fabel ringan yang diisi dengan kelucuan dan pesan moral khas animasi Disney. Versi live-action ini tetap punya jiwa yang sama, meski sedikit lebih serius.

�Forget about your worries and your strife.�
� Baloo
Melalui The Jungle Book, Jon Favreau menepis segala skeptisisme dari penonton yang meragukan kapabilitasnya untuk membawa dunia fantasi karya Rudyard Kipling ke versi layar lebar. Dengan bantuan kekuatan magis dari para animator dan desainer produksi, Favreau mengajak kita langsung ke belantara rimba dengan set buatan yang sangat mengagumkan dan meyakinkan sekelas Avatar serta render binatang yang begitu mendetail yang mungkin bisa disandingkan dengan Life of Pi.

Setiap pohon, daun, hingga bulu binatang dibuat begitu seksama hingga saya tak peduli lagi yang mana yang asli dan yang mana yang kreasi komputer. Semakin sulit dipercaya saat Favreau dan krunya tak pernah menginjakkan kaki di hutan sungguhan dan hanya membuat dunia artifisialnya ini di dalam studio di Los Angeles (fakta yang sempat "dipamerkan" saat credit title berjalan).

The Jungle Book versi orisinal adalah fabel ringan yang diisi dengan kelucuan dan pesan moral khas animasi Disney. Versi live-action ini tetap punya jiwa yang sama, meski sedikit lebih serius. Binatang masih bisa bicara (bahkan bernyanyi), sense of wonder masih kental dan keseruan tak pernah hilang. Namun Favreau dan penulis naskah Justin Marks tak hanya memindahkan kanvas saja. Mereka melakukan peningkatan. Motif dari setiap karakter diperjelas dan ancaman tak sekadar menjadi bahan pengundang tawa (seperti halnya versi animasi).


Cerita masih dinarasikan oleh Bagheera (Ben Kingsley), seekor macan kumbang yang menemukan seorang anak manusia yang kemudian diserahkan pada kawanan serigala yang dipimpin oleh Akela (Giancarlo Esposito) dan Raksha (Lupita Nyong'o) untuk dibesarkan. Film dibuka saat anak manusia yang diberi nama Mowgli (Neel Sethi) ini telah berusia 10 tahun dan tengah berlatih ketangkasan bersama anak-anak serigala.

Di alam liar, Mowgli tidak menjadi santapan para predator berkat adanya "perjanjian damai" antarspesies. Namun hal ini tidak disetujui oleh Shere Khan (Idris Elba), seekor harimau yang kehilangan sebelah matanya akibat ulah manusia yang membawa "bunga merah" (alias: api). Ia menyuruh agar kawanan serigala menyerahkan Mowgli untuk dibunuh sebelum tumbuh dewasa.

Konflik ini memaksa Mowgli yang ditemani Bagheera untuk kembali ke perkampungan manusia. Di perjalanan mereka bertemu dengan Baloo (Bill Murray), beruang madu pemalas yang menyelamatkan Mowgli dari jebakan seekor ular boa, Kaa (Scarlett Johansson). Dari sini, poin plotnya mirip dengan versi animasi, termasuk bagaimana Mowgli menjalin persahabatan dan bertingkah kocak bersama Baloo serta konfrontasi mereka dengan rombongan kera yang dipimpin oleh orangutan raksasa, eh maaf, gigantopithecus bernama King Louie (Christopher Walken). Dalam dua adegan yang terkesan sedikit ganjil bagi film secara keseluruhan, Favreau memberikan tribut bagi lagu ikonik dari versi animasinya: "The Bare Necessities" dan "I Wanna Be Like You".

Menjadi satu-satunya aktor manusia dalam film ini, Neel Sethi dengan mata belo dan kepolosannya merepresentasikan dengan baik optimisme Mowgli. Meski range aktingnya tak begitu luas (serius, tak banyak yang bisa di usia segitu), namun interaksinya dengan para binatang terlihat tulus dan meyakinkan. Barisan pengisi suara juga sangat pas dengan peran karakter masing-masing(mereka juga bisa menyanyi!). Penampilan singkat dari Scarlett Johansson merupakan pemanfaatan surround sound yang efektif.

Perlu saya tekankan bahwa meski diberi rating "semua umur", film ini tidaklah begitu aman ditonton oleh semua anak. Sama seperti The Good Dinosaur-nya Pixar, hutan bukanlah tempat yang aman; protagonis kita tak luput dari bahaya. Nuansa yang lebih cenderung realis memberikan kesempatan untuk menampilkan adegan kejar-kejaran dan pertarungan yang sangat menegangkan (melibatkan cakar dan taring pastinya) hingga anda mempertanyakan keabsahan ratingnya.

Terlepas dari beberapa perpindahan alur yang kentara (tak bisa disalahkan juga mengingat materi aslinya yang memang episodik), The Jungle Book adalah tontonan keluarga yang apik. Favreau tak pernah kehilangan kontrol di balik visual penuh CGI. Film ini mungkin akan diingat sebagai parade efek spesial, namun lebih dalam, ia juga punya "hati". �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Jungle Book' |
|

IMDb | Rottentomatoes
105 menit | Semua Umur - BO

Sutradara Jon Favreau
Penulis Justin Marks (screenplay), Rudyard Kipling (buku)
Pemain Neel Sethi, Ben Kingsley, Bill Murray

Kamis, 24 Maret 2016

Review Film: 'Batman v Superman: Dawn of Justice' (2016)

Naskah Chris Terrio dan David S. Goyer lebih pintar dalam menyentil instalasi DC Extended Universe berikutnya dibanding menyajikan narasi sungguhan.

�That's how it starts. The fever, the rage, the feeling of powerlessness that turns good men... cruel.�
� Alfred
Melihat banyaknya korban jiwa yang berjatuhan setelah pertarungan klimaks dalam Man of Steel, sutradara Zack Snyder sebaiknya punya alasan kenapa salah satu pahlawan yang paling humanis dalam "sejarah" superhero tampak tak terlalu memikirkan konsekuensi dari tindakannya. Snyder punya alasan yang bagus dalam film lanjutannya ini. Bahkan jika dipandang dari perspektif yang skeptis, eksistensi Batman v Superman: Dawn of Justice hanyalah alasan bagi Snyder dan Warner Bros untuk memperkenalkan karakter baru dan mempersiapkan pondasi bagi lusinan sekuel.

Salah satu alasan saya bilang begitu adalah naskah Chris Terrio dan David S. Goyer yang lebih pintar dalam menyentil instalasi DC Extended Universe berikutnya dibanding menyajikan narasi sungguhan. Hasil kerja mereka yang menomorduakan perkembangan karakter di atas metafora mengenai ketuhanan setidaknya tertutupi berkat imej dari dua ikon pahlawan super ini telah begitu populer. Kebanyakan dari kita sudah tahu bahwa Superman adalah manusia super dengan pandangan hidup yang polos yang menyamar sebagai wartawan, sementara Batman adalah manusia biasa (tapi superkaya) yang mengenal sisi gelap dunia. Kontradiksi inilah yang menjadi katalis bagi pertarungan keduanya.

Kita mungkin sudah melihatnya berkali-kali, namun film ini lagi-lagi dibuka dengan kilasan masa lalu Bruce Wayne, dimana ayah dan ibunya ditembak di salah satu lorong di kota Gotham. Ia melarikan diri di tengah acara pemakaman, lalu jatuh ke dalam gua penuh kelelawar. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana cara Bruce keluar dari gua tersebut; ia diangkat (secara harfiah) oleh puluhan kelelawar. Tentu saja, saya tahu ini hanyalah simbolisme. Namun Snyder seolah menekankan bahwa semestanya lebih lekat pada mistisme dibandingkan The Dark Knight-nya Nolan pada realisme.


Singkat cerita, kita dibawa kembali pada pertarungan bombastis antara Superman dengan Zod. Hanya saja, kali ini dilihat dari sudut padang orang sipil, termasuk diantaranya ada Bruce Wayne (Ben Affleck). Sedikit mengejutkan mengetahui bahwa Gotham adalah kota tetangga Metropolis. Adegan ini menjadi yang paling menarik dari film secara keseluruhan. Kehancuran yang ditimbulkan kedua manusia Krypton ini benar-benar masif dan wajar saja memancing amarah Batman. Ia mempersiapkan diri untuk menetralisir kekuatan Ilahi tersebut.

Sementara itu, Clark Kent (Henry Cavill) juga merasa terganggu dengan aktivitas Batman yang secara brutal menangani para kriminal. Bicara soal brutalitas, Batman disini jauh lebih agresif dari apa yang selama ini kita lihat. Ia tak segan menikam, menembak bahkan mencap musuhnya dengan Batarang (tolong bawa dia ke psikiater). Agar menjadi pertarungan yang seimbang, ditambahkanlah kehadiran Lex Luthor (Jesse Eisenberg) yang kebetulan tengah meneliti batu Kriptonit yang katanya bisa mendegradasi sel manusia Kripton. Saya tak perlu memberitahu bahwa Luthor ada di pihak antagonis, namun penampilan Eisenberg harus anda nilai sendiri; ia terlihat menjengkelkan atau memberikan pendekatan yang segar, tergantung selera anda.

Bagi anda yang sudah menonton Man of Steel, pastinya sudah bisa memprediksi bahwa BvS akan punya atmosfer suram dan murung. Dan wow, film ini benar-benar gelap dan depresif. Brightness gambar mungkin diturunkan habis-habisan dan semua karakter terlihat depresi sepanjang film. Bahkan momen kebersamaan antara Clark dengan Lois Lane (Amy Adams) atau flirting antara Bruce dengan wanita misterius nan menawan (Gal Gadot � tampil memikat meski singkat dan yah, kita bisa melihatnya beraksi dalam kostum penuh) tak punya percikan.

Sama seperti 300 atau Watchmen, BvS menjadi wadah bagi Snyder untuk menyajikan visual imagery yang superior meski minim substansi. Saat Superman melakukan dua usaha penyelamatan, tampak gestur rakyat sipil yang seakan-akan memuja sosok Superman sebagai Tuhan. Sebagai salah satu penonton 2 film animasi The Dark Knight Returns, saya bisa mengkonfimasi beberapa adegan kunci yang berhasil dikreasi ulang oleh Snyder dalam konfrontasi puncak antara Batman dengan Superman. Ada pula referensi mengenai Doomsday yang... ah nanti spoiler.

Meski berdurasi dua setengah jam, BvS tetap menjadi film yang penuh sesak dengan banyaknya karakter dan plot yang njelimet. Tujuannya adalah menggabungkan dua karakter ini ke dalam satu film, namun peleburan keduanya terkesan canggung, apalagi di paruh awal. Selama dua pertiga film, plot berjalan lambat dengan dialog yang melelahkan dan kilasan mimpi buruk (atau masa depan?) yang terasa membingungkan. Pemberian judul dengan nama Batman terlebih dahulu, toh ternyata bukan karena alasan alfabetis. Batman mendapat porsi yang lebih dominan, meski naskah masih membatasi dimensi karakternya. Paling tidak, Affleck berhasil mementalkan skeptisme dari penggemar yang meragukan kapabilitasnya sebagai sang Ksatria Malam.

Jadi siapa yang menang? Saya balik bertanya: apa itu penting? Film ini sudah bisa dipastikan akan memuaskan penggemar semesta DC. Pertarungan "Day vs Night" adalah pertunjukkan yang sangat seru, meski perang klimaksnya sendiri harus memakai formula generik film aksi, dimana sesuatu harus meledak secara spektakuler diiringi dengan suara menggelegar dan anda tak tahu apa yang terjadi di antara serangan sporadis efek CGI bagi mata dan akal sehat anda. Untungnya, Snyder bersama editor David Brenner berhasil menjaga agar sekuensnya mudah diikuti. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Batman v Superman: Dawn of Justice' |
|

IMDb | Rottentomatoes
151 menit | Remaja

Sutradara Zack Snyder
Penulis Chris Terrio, David S. Goyer
Pemain Ben Affleck, Henry Cavill, Amy Adams

Selasa, 22 Maret 2016

Review Film: 'The Divergent Series: Allegiant' (2016)

'Allegiant' dimulai dengan pembukaan yang membingungkan, plot yang kalau tidak membosankan yaa menggelikan dan klimaks yang mengecewakan.

�Everyone is worth saving.�
� Tris
Semua franchise adaptasi novel young-adult sebenarnya punya konsep yang beda-beda tipis satu sama lain. Namun kemiripan antara Divergent dengan 2 franchise lain (anda bisa langsung tahu setelah selesai menonton film ini) sungguh membuat saya heran. Premis mengenai dunia distopia yang berada di ambang kehancuran, dimana manusia percobaan diisolasi demi menemukan gen unggul? Mungkinkah saya menonton film yang salah?

Mengesampingkan hal di atas, tak mungkin menyalahkan penonton yang kebingungan saat menonton instalasi ketiga dari Divergent ini. Di akhir film sebelumnya, kita menyaksikan kediktatoran Jeanine (Kate Winslet) runtuh dan warga Chicago berlarian menuju tembok raksasa yang di seberangnya diperlihatkan (sekilas) tanah hijau yang luas. Membingungkan karena dalam Allegiant, dunia di seberang tembok adalah ladang gersang yang tampak lebih mirip Mars dengan hujan asam merah darah. Oke, di paruh awal Tris dkk terlihat melintasi tanah hijau itu, namun kenapa mendadak ia malah menghilang di adegan klimaks?

Allegiant dimulai dengan pembukaan yang membingungkan, plot yang kalau tidak membosankan yaa menggelikan dan klimaks yang mengecewakan. Elemen dalam paragraf di atas adalah salah satu dari banyak inkonsistensi yang harus kita telan jika ingin menyaksikan kelanjutan petualangan Tris dkk. Film ini terlalu serius namun eksekusinya begitu ceroboh yang membuatnya malah terkesan konyol.


Evelyn (Naomi Watts), sang pemimpin Factionless ternyata tak jauh berbeda dengan Jeanine, diktator yang dieksekusinya. Ia melarang siapapun untuk menerobos tembok dan pergi ke dunia luar. Namun Tris (Shailene Woodley), Four (Theo James), Caleb (Ansel Elgort), Christina (Zoe Kravitz) dan Peter (Miles Teller) berhasil kabur dengan memanjat tembok melalui (seingat saya) satu-satunya sekuen aksi yang berkesan dari keseluruhan film.

Di seberang, Tris dkk menemukan ladang gersang seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Di tengah buruan antek Evelyn, mereka diselamatkan oleh pasukan Biro Kesejahteraan Genetik yang dilengkapi dengan perangkat militer modern dan dibawa ke kota futuristik yang dipimpin oleh David (Jeff Daniels). Fakta diungkap dan ada eksposisi minim mengenai masa lalu ibu Tris. Bahkan setelah tindak-tanduknya yang jelas-jelas mencurigakan, Tris tetap percaya pada David, sehingga kita boleh bertanya: dimana ketajaman intuisinya yang terlihat di film pertama?

Sementara itu, di Chicago terjadi perang antara kubu Evelyn dengan kubu Joanna (Octavia Spencer) yang membentuk kelompok sosial baru bernama Allegiant. Berkat Caleb dan teknologi canggih Biro, kita bisa melihat langsung perkembangannya, termasuk saat Four yang sendirian kembali ke Chicago setelah mengetahui wujud sebenarnya dari Biro yang ternyata melibatkan penculikan anak-anak dan gas penghapus ingatan.

Tak sampai setengah durasi, film ini dengan cepat kehilangan momentum. Pacing-nya terseok-seok sementara interaksi antarkarakter menjadi tumpul. Begitu pula dengan hubungan Tris bersama Four (bukankah asmara adalah subplot penting dari adaptasi novel young-adult?) yang hambar, meski keduanya cukup sering saling melumat bibir (bahkan di momen yang tak tepat). Cukup disayangkan hampir semua pemain pendukung, termasuk Spencer dan Watts yang hanya menjadi karakter one-note. Teller yang tampil dengan gaya slenge'annya sebagai Peter yang bermuka dua mungkin bisa menjadi pengecualian.

Paling tidak sepertiga bagian awalnya cukup menarik. Kejar-kejaran antara Tris dkk dengan anak buah Evelyn lumayan seru. Meski efek spesialnya terlihat mentah (ah lupakan gelembung oranye itu), apresiasi tetap layak diberikan bagi sutradara Robert Schwentke yang menciptakan beberapa visualiasi inovatif. Sayangnya, presentasi adegan klimaks terkesan begitu malas dan terburu-buru.

Saat saya yakin bahwa franchise ini menyentuh titik nadirnya dalam Insurgent tahun lalu, Allegiant membuat saya harus berpikir ulang. Banyak yang bilang bahwa novel penutup dari trilogi karya Veronica Roth ini pada dasarnya sudah lemah. Lantas kenapa Summit masih pede untuk membaginya menjadi 2 film? Damn, Hollywood. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Divergent Series: Allegiant' |
|

IMDb | Rottentomatoes
120 menit | Remaja

Sutradara Robert Schwentke
Penulis Stephen Chbosky, Bill Collage, Adam Cooper, Noah Oppenheim (screenplay), Veronica Roth (buku)
Pemain Shailene Woodley, Theo James, Jeff Daniels, Miles Teller

Rabu, 16 Maret 2016

Review Film: 'Mermaid' (2016)

Akting pemainnya buruk, plotnya amburadul, CGI apalagi. Mungkin memang absurditasnyalah yang mampu menghipnotis jutaan penonton.

Mermaid adalah film yang lucu karena begitu absurd. Leluconnya sebagian besar begitu payah dan tak masuk akal tapi tetap memancing tawa saking edannya. Sulit membayangkan film ini dibuat oleh manusia yang punya akal sehat, namun faktanya yang di belakang layar adalah aktor / sutradara / produser kenamaan Cina, Stephen Chow. Setelah Shaolin Soccer, Kung Fu Hustle lalu film ini, saya mulai meragukan kewarasannya.

Film ini merupakan film terlaris sepanjang masa di Cina (mengalahkan rekor Monster Hunt) dan sejauh ini menjadi film terlaris global di tahun 2016, hanya kalah sedikit dari Deadpool. Apa yang membuatnya begitu menarik? Akting pemainnya buruk, plotnya amburadul, CGI apalagi. Mungkin memang absurditasnyalah yang mampu menghipnotis jutaan penonton.

Kegilaan sudah dimulai sejak awal saat seorang pemandu tur abal-abal dengan setengah hati memandu para turisnya di museum yang tak kalah abal-abal pula. Adegan ini tak relevan dengan plot utama, namun setidaknya ia menyoroti bahwa film ini akan membahas tentang duyung dengan cara memperlihatkan kita seekor, eh, seorang duyung yang akan membuat perut anda mual.


Percaya atau tidak, Mermaid mengangkat tema mengenai isu lingkungan yang dibalut dengan rumus komedi-romantis (walau tak romantis amat) mengenai duyung. Liu Xuan (Deng Chao) adalah konglomerat muda yang bermaksud untuk mereklamasi kawasan pantai Teluk Hijau. Dengan bantuan ilmuwan bule, ia menggunakan teknologi sonar untuk mengusir kawanan lumba-lumba. Nah ternyata sonar ini juga mengganggu populasi duyung. Mereka terpaksa mengungsi ke sebuah reruntuhan kapal.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, pimpinan para duyung, manusia separuh gurita (Show Luo) mengutus Shan (Lin Yang) yang polos untuk menggoda Xuan dan membunuhnya. Tak perlu dijelaskan lagi bahwa Shan tak punya kaki manusia. Oleh karena itu, ekor ikannya dimodifikasi sehingga tak begitu mencurigakan, walau akhirnya tetap saja janggal. Rencana ini menjadi kacau, karena Shan malah jatuh cinta pada Xuan, begitu juga sebaliknya.

Film ini melempar lelucon sebanyak mungkin, dan meski ada beberapa yang meleset, kapabilitas Chow mengatur komposisi dan timing sedemikian rupa membuat beberapa momen komediknya begitu priceless. Kebanyakan merupakan lelucon slapstick, misalnya usaha pembunuhan yang dilakukan Shan yang seringkali gagal total dan malah membuatnya terkena bulu babi. Atau duyung gurita yang terpaksa menggoreng tentakelnya sendiri agar penyamarannya tak terbongkar. Yang paling kocak adalah saat Xuan melaporkan pengalamannya melihat duyung dan dua polisi dodol malah membuat sketsa duyung yang konyol, seolah keduanya tak pernah tahu sama sekali.

Cukup mengejutkan bahwa naskah ditulis oleh 7 orang ditambah Chow padahal filmnya tak punya perkembangan plot yang signifikan. Setidaknya hingga cerita berubah haluan secara drastis di paruh ketiga. Ketika partner Xuan, Ruolan (Zhang Yuqi) turun tangan, kegilaan berganti menjadi adegan brutal. Misi Ruolan adalah untuk mencari spesimen duyung hidup, lantas kenapa pula ia melakukan pembantaian duyung secara sporadis? Adegan sentimentil di akhir juga kurang menohok karena hubungan Xuan dan Shan sejak awal terkesan hanya menjadi fasilitas bagi lawakan.

Ah, tapi mungkin saya saja yang terlalu serius. Bisa jadi anda akan lebih menikmatinya. Jika lelucon absurd dan wanita seksi adalah yang anda cari, film ini untuk anda. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Mermaid' |
|

IMDb | Rottentomatoes
94 menit | Remaja - BO

Sutradara Stephen Chow
Penulis Stephen Chow, Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong, Chan Hing-ka, Tsang Kan-cheung
Pemain Deng Chao, Show Luo, Zhang Yuqi

Rabu, 02 Maret 2016

Review Film: 'Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny' (2016)

Film ini punya pondasi yang saking miripnya dengan film pertama mungkin lebih layak disebut sebagai daur-ulang; mulai dari alur hingga dinamika antarkarakternya.

�Honor, duty, just excuses for bloodshed.�
� Yu Shu Lien
Adalah hal yang jarang dialami untuk menunggu Crouching Tiger Hidden Dragon-nya Ang Lee menampilkan sekuens aksi di balik adegan yang penuh dialog atau kontemplasi. Bukan karena adegan aksinya inferior � nyatanya, parade ilmu meringankan tubuhnya adalah salah satu yang terindah yang pernah saya lihat dalam film laga Mandarin � melainkan karena ia lebih berfokus pada elemen romantisme atau spiritualisme. Namun hal ini saya rasakan saat menyaksikan sekuelnya. Disini, elemen tadi terkesan sebagai tambahan, sementara laga lebih fungsional bagi narasi.

Ang Lee menetapkan standar yang tentunya sulit untuk digapai � filmnya merupakan fenomena global: mendapat 4 piala Oscar, menjadi film berbahasa asing terlaris sepanjang masa di Amerika, sekaligus memperkenalkan film wuxia bagi penonton umum. Absennya Lee dan sebagian besar krunya saya rasa menjadi penyebab perbedaan nuansa yang cukup signifikan, walau materi utamanya masih bersumber dari novel Crane-Iron karya Du Lu Wang. Satu-satunya yang kembali adalah Michelle Yeoh yang berperan sebagai Yu Shu Lien.

Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny punya pondasi yang saking miripnya dengan film pertama mungkin lebih layak disebut sebagai daur-ulang; mulai dari alur hingga dinamika antarkarakternya. Pedang legendaris Green Destiny masih menjadi sumber konflik utama dan diperebutkan oleh banyak orang. Sekali lagi, seorang murid muda dilatih oleh pendekar wanita ternama. Dan lagi-lagi, ada kisah cinta tak terselesaikan antara 2 pendekar senior yang bersilang-jalan dengan hubungan tarik-ulur antara 2 pendekar junior.


Sekitar 20 tahun setelah mangkatnya Li Mu Bai (anda mungkin ingat ia diperankan oleh Chow Yun Fat di film sebelumnya), Yu Shu Lien melakukan perjalanan ke Peking untuk menemui sahabat lamanya, Te yang ternyata telah meninggal. Pedang Green Destiny yang disimpan selama bertahun-tahun oleh keluarga Te menjadi incaran oleh penyihir (?) wanita yang kemudian memberitahukannya pada penguasa lalim, Hades Dai (Jason Scott Lee).

Usaha pencurian yang dilakukan oleh utusan Hades Dai, Wei Fang (Harry Shum Jr.) berhasil digagalkan oleh Snow Vase (Natasha Liu Bordizzo). Shu Lien yang merasa Wei Fang tak sejahat kelihatannya, memutuskan untuk memasungnya. Hal ini memberinya kesempatan menggoda Snow Vase yang tengah berlatih di bawah asuhan Shu Lien.

Donnie Yen bermain sebagai Silent Wolf, pendekar yang kemungkinan punya kisah masa lalu dengan Shu Lien dan Mu Bai. Kedatangannya adalah atas undangan Shu Lien untuk melindungi pedang Green Destiny. Bersama Silent Wolf, ada pula 4 pendekar lain dengan julukan dan karakteristik komikal � Flying Blade, Thunder Fist, Silver Dart dan Turtle Ma � yang diperkenalkan dengan cukup spektakuler hingga kita berharap mereka mendapat porsi lebih.

Sementara Ang Lee menginvestasikan waktunya untuk mendalami karakter dan motif di balik hubungan antara setiap karakternya (yang notabene cukup banyak), elemen tersebut juga absen disini. Meski Yeoh tak meninggalkan karismanya sebagai Shu Lien, chemistry-nya dengan Yen tak terasa meyakinkan. Koneksi emosional antara dua pendekar muda juga tak tersampaikan, padahal mereka punya cerita masa lalu yang cukup kompleks.

Posisi sutradara diambil oleh Yuen Woo-Ping, koreografer dari film orisinalnya dan beberapa film martial arts lain, sehingga kita tak perlu meragukan adegan aksinya. Mengkompensasi sekuens adu ilmu meringankan tubuh di atas batang bambu, Woo-Ping menyuguhkan satu adegan pertarungan di atas permukaan danau yang membeku di malam hari, dimana para pendekar melompat dan berseluncuran sambil beradu pedang. Yen dan Yeoh mendapat bagian masing-masing mempertunjukkan keahlian olah tubuh mereka di adegan pertarungan klimaks.

Perlu disoroti bahwa selain dirilis melalui media streaming online, film ini juga tayang terbatas dalam format IMAX. Melihat pemandangan indah (yang sebenarnya diambil di Selandia Baru) dan set berpoles CGI di beberapa bagian, kita boleh curiga mungkin sineasnya tak ingin mengejar puitisme film orisinalnya dan lebih mengutamakan sajian visual. Tampaknya akan lebih baik jika kita tak terlalu membandingkan. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny' |
|

IMDb | Rottentomatoes
103 menit | Remaja

Sutradara Yuen Woo-Ping
Penulis John Fusco (screenplay), Du Lu Wang (buku)
Pemain Michelle Yeoh, Donnie Yen, Harry Shum Jr.

Senin, 29 Februari 2016

Review Film: 'Gods of Egypt' (2016)

'Gods of Egypt' bisa dibuat menjadi video game yang bagus. Nah, pengalaman menonton filmnya kurang lebih sama seperti menyaksikan permainan tersebut. Ya, anda tak salah baca. Saya bilang "menyaksikan" bukan "memainkan".

�Then become stronger.�
� Ra
Gods of Egypt bisa dibuat menjadi video game yang bagus. Sebagai seorang mantan gamer (meski tak segandrung itu), saya bisa mengkonfirmasi hal ini. Karakter, semesta dan mitologinya relatif cocok dengan template game semacam Darksiders atau God of War. Nah, pengalaman menonton filmnya kurang lebih sama seperti menyaksikan permainan tersebut. Ya, anda tak salah baca. Saya bilang "menyaksikan" bukan "memainkan".

Separuh alasannya adalah karena banyaknya penggunaan efek CGI. Serius, menemukan satu saja adegan tanpa efek komputer dalam film ini mungkin sama sulitnya dengan menjilat sikut anda sendiri. Efek spesialnya terlihat mewah namun kebanyakan terkesan mentah. Semakin banyak polesan membuatnya tampak semakin palsu, khususnya saat adegan puncak dimana gedung-gedung beruntuhan, ledakan disana-sini sementara perspektif kamera berpindah dengan cepat. Meski begitu, bagaimana sutradara Alex Proyas membangun semestanya dengan berani tanpa tedeng aling-aling adalah hal yang harus diapresiasi. Because f**k logic.

Bisa dibilang tak ada plot yang esensial disini. Film dimulai dengan penjelasan mengenai set-up dan sedikit eksposisi karakter. Lalu berlanjut dengan adegan aksi yang satu ke aksi yang lain, dimana sebelum konfrontasi puncak dengan antagonis utama, para tokohnya harus menuntaskan berbagai tugas.


Set-up-nya adalah jaman Mesir kuno, dimana dewa dan manusia hidup berdampingan. Secara fisik, tampilan dewa ini persis dengan manusia, kecuali ukuran tubuh mereka yang lebih besar, darah yang berwarna emas, dan otot berbentuk yang membuat saya bertanya-tanya apakah dewa juga nge-gym. Trik yang cukup sulit untuk mempelihatkan interaksi langsung antara dewa yang berukuran besar dengan manusia normal. Se-absurd kedengarannya, para dewa ini juga punya kemampuan untuk berubah menjadi makhluk mecha berkilauan yang akan mengingatkan anda pada Saint Seiya.

Cerita dimulai dengan upacara penyerahan tahta Mesir oleh Dewa Osiris pada anaknya, Horus (Nikolaj Coster-Waldau) di hadapan seluruh penduduk yang saya yakin lebih dari 3/4-nya adalah kreasi CGI. Upacara ini diinterupsi dengan kedatangan saudara Osiris, Set (Gerard Butler) yang pulang dari pengasingan dan berniat untuk merebut mahkota dari tangan Horus. Ia membunuh Osiris dan membuat Horus buta.

Di bawah kekuasaan Set, rakyat dijadikan budak. Di antara mereka, ada Zaya (Courtney Eaton) yang meminta pertolongan pacarnya, Bek (Brenton Thwaites) untuk mencuri mata Horus yang disimpan di tempat rahasia, yang mengijinkan filmnya untuk menyajikan sekuen singkat ala Indiana Jones lengkap dengan jebakan tak terduganya. Sayang Zaya harus kehilangan nyawanya, sementara satu mata lagi berada di tangan Set dan ini mengantarkan alurnya pada plot standar aksi-fantasi dimana 2 tokoh utama kita: Bek dan Horus harus bersatu di atas perbedaan mereka.

Proyas jelas punya visi yang kuat. Saya berani bertaruh dunia yang dibayangkannya tak lebih inferior dibanding Dark City atau The Crow � karya-karya lamanya yang ikonik. Desain Mesir kuno-tapi-modern-nya tampak mengagumkan, khususnya saat menyoroti detil-detil kota. Imajinasi Proyas tak terbatas. Lihat saja adegan di luar orbit bumi yang melibatkan semacam bahtera yang didiami Ra (Geoffrey Rush), sang Dewa Cahaya � persetan dengan teori heliosentris � atau penggambaran dunia setelah kematian yang menampilkan Anubis. Sekuens aksi yang paling berkesan adalah saat Horus dan Bek yang dikejar oleh dua ekor ular kobra raksasa... yang bisa menyemburkan api... dan dikendarai oleh wanita psikopat.

Saya tak ingin memperdebatkan isu tentang pemainnya yang hampir sebagian besar adalah kulit putih meski filmnya sendiri ber-setting di Mesir � Proyas dan Lionsgate bahkan sampai merasa perlu untuk meminta maaf pada publik. Ini bukan dokumenter. Karena yang membuatnya adalah Hollywood, terserah mereka jika ingin memakai aktor Hollywood manapun. Bahkan, saya pikir proses produksinya akan lebih rumit seandainya menggunakan aktor lokal.

Akting para pemain tak buruk-buruk amat. Coster-Waldau bermain layaknya tipikal pahlawan utama, sementara Thwaites punya 2 tugas: (a) menjadi pemanis layar (bersama Eaton) � keduanya terlalu manis berpartisipasi di film seperti ini, dan (b) menjadi sidekick yang cerewet. Semua aktor tampaknya tahu mereka bermain dalam film seperti apa. Chadwick Boseman terlihat menikmati peran konyolnya sebagai Thoth, dewa pengetahuan yang harus menebak teka-teki dari Sphinx. Naskah dari Matt Sazama dan Burk Sharpless yang tak masuk akal berisi dengan dialog-dialog menggelikan yang lucu, entah disengaja atau tidak. Konfliknya tak pernah begitu berat, karena dewa mampu melakukan apa saja. Siapa yang bisa protes?

Catatan: film ini diberi rating 13+, padahal banyak menampilkan sesuatu (eehm, atau dua) yang saya yakin akan diblur saat tayang di TV lokal. Jadi tonton dengan risiko sendiri. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Gods of Egypt' |
|

IMDb | Rottentomatoes
127 menit | Remaja - BO

Sutradara Alex Proyas
Penulis Matt Sazama, Burk Sharpless
Pemain Nikolaj Coster-Waldau, Brenton Thwaites, Gerard Butler

Kamis, 25 Februari 2016

Film The Huntsman: Winters War - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer






Informasi film The Huntsman: Winter's War :

Judul  :
The Huntsman: Winter's War

Jenis :
Fantasi, Action

Produser :
Joe Roth

Sutradara :
Cedric Nicolas-Troyan

 Penulis :
Craig Mazin, Evan Spiliotopoulos, Frank Darabont
 Pemain :
Chris Hemsworth, Charlize Theron, Emily Blunt, Nick Frost, Sam Claflin, Rob Brydon, Jessica Chastain

Produksi :
Universal Pictures
Negara :
Inggris, Amerika
Bahasa :
Inggris
Tanggal Rilis :
22 April 2016
Poster film The Huntsman: Winter's War :
The Huntsman: Winter's War

Trailer film The Huntsman: Winter's War:


Sinopsis film The Huntsman: Winter's War :

Film The Huntsman: Winter's War adalah film prekuel dari film Snow White and The Huntsman. Selain masih mengambil setting gambar dari dunia fantasi, Universal Pictures menunjuk Cedric Nicolas-Troyan sebagai sutradara, Dengan dibantu efek animasi yang memukau, film The Huntsman: Winter's War juga akan membawa anda dalam plot yang menegangkan dari Craig Mazin, Evan Spiliotopoulos, Frank Darabont. Film ini masih akan menampilkan Chris Hemsworth, dan Charlize Theron ini juga akan mengajak Emily Blunt, Nick Frost, Sam Claflin, Rob Brydon, dan Jessica Chastain untuk ikut bermain dalam film ini. Sejumlah karakter baru akan mulai menggantikan peran dari Ravenna, Si ratu Jahat.

Film The Huntsman: Winter's War mengisahkan tentang seorang ratu es, Freya (Emily Blunt). Freya yang memiliki kemampuan untuk membekukan segala sesuatu menjadi es menyimpan dendam kepada Ravenna. Freya adalah ratu es dan juga saudara dari Ravenna. Sebelum Freya berubah menjadi jahat, Ravenna membunuh anak dari Freya dan juga kekasihnya, Pangeran Blackwood (Colin Morgan) karena bayi tersebut dapat meruntuhkkan sihir kecantikan Ravenna. Dipenuhi dendam karena sang kaka membunuh anaknya, Freya yang dulunya baik hati dan polos berubah menjadi sedingin es.

Freya sang Ratu es berambisi untuk menghancurkan Ravenna dengan membangun prajurit yang terdiri dari pemburu. Dari sinilah Eric (Chris Hemsworth) mulai berlatih menjadi pemburu yang mematikan. Freya tidak melarang untuk merekrut pemburu dari manapun, namun datu syarat yang harus dipenuhi dari tentaranya, untuk selamanya mengeraskan hati mereka untuk mencintai, tidak boleh mencintai orang lain dan menjadi sedingin es sama seperti Freya. Namun yang terjadi adalah sebalikq2nya, Eric yang bertemu dengan Sara (Jessica Chastain) mulai mengenal cinta sejak mereka tumbuh bersama sebagai tentara Freya. Cinta mereka yang bertumbuh semakin besar membuat mereka harus diusir dari tentara Freya karena melanggar syarat tersebut.

Sinopsis lengkap film The Huntsman: Winters War :

Jauh sebelum ia meninggal saat berhadapan dengan Putri Salju, Ravenna mengetahui adik perempuannya Freya terlibat hubungan terlarang dengan Duke of Blackwood dan juga membawa anaknya. Saat Freya melahirkan seorang anak perempuan, Cermin Ajaib meramalkan kecantikan bayinya akan melampaui Ravenna dan memperingatkan dia akan bahaya yang mengancam bayinya. Setelah waktu berlalu, Freya menemukan Duke telah membunuh anak mereka. Dalam kesedihan dan kemarahan yang membakar, membunuh Duke dengan kekuatan es yang lama dipendamnya.

Freya meninggalkan kerajaan dan membangun istana es yang terpencil jauh di Utara. Ia membunuh siapa saja yang menentangnya sembari mengumpulkan anak-anak dan melatih mereka menjadi tentara yang sedingin es. Ketika Eric dan Sara, dua prajurit yang paling tangguh jatuh cinta dan berencana kawin lari, Freya membuat dinding es untuk memisahkan mereka. Lalu, memaksa Eric menyaksikan pembunuhan Sara. Tanpa diketahui oleh Eric, Freya telah menyihir penglihatan kematian Sara untuk secara permanen mengeraskan hatinya Eric. Sara, sementara itu menyaksikan "Eric" (dalam penglihatannya) melarikan diri.

Tujuh tahun berlalu, Raja William dari Tabor datang pada Eric dan memberitahukan Cermin Ajaib diambil dalam perjalanan menuju "Sanctuary". Eric enggan ikut bersama Nion dan Gryff, sekutu Putri Salju, untuk menemukan Cermin Ajaib. Ia tidak menyadari Freya bisa melihat percakapan mereka melalui burung hantu putih. 

Dalam perjalanan, tiga orang ini diserang oleh tentara Freya, Para Pemburu, tapi Sara datang menyelamatkan mereka dan meyakinkan kurcaci Bronwyn dan Doreena membantu mereka mengambil cermin ajaib. Kelompok ini mencapai Sanctuary dan mengalahkan goblin pemilik cermina ajaib. Freya menyergap mereka dan mengungkap Sara bekerja untuk Freya. Dalam keributan, Nion dan Doreena berubah menjadi patung es dan Sara membunuh Eric. Freya mengambil cermin ajaib dan pergi tanpa menyadari Eric masih hidup. 

Freya mengaktifkan cermina itu yang mengubah cermin menjadi bentuk lain dari Ravenna. Ravenna mengungkapkan dirinya merasuk ke dalam cermin dan menunggu seseorang untuk membebaskannya. Sementara itu, Eric telah menyusup ke dalam istana es dan berusaha membunuh Freya, tapi dia dihentikan oleh Ravenna. Atas nama persaudaraan di antara mereka, Eric mampu meyakinkan para pemburu lainnya untuk melawan Ravenna dan Freya. Kedua saudari ini berdebat di istana es di mana Freya menemukan Ravenna mengutuk Duke of Blackwood untuk membunuh anaknya. Freya marah dan berbalik melawan adiknya bergabung dengan Eric dan Sara. Freya dibunuh, tapi sebelum mati ia berhasil membekukan cermin ajaib dan Eric melemparkan kapaknya yang menghancurkan cermin dan semangat Ravenna. Dalam keadaan sekarat, Freya menyaksikan Eric dan Sara kembali bersama dan berkata mereka "beruntung". 

Kerajaan es dan orang-orang yang dibekukan pada akhirnya dibebaskan. Eric dan dan Sarah, Bronwyn dan Gryff, serta Nion dan Doreena mengungkapkan cinta mereka terhadap satu sama lain. Film berakhir dengan roh burung dari cermin ajaib terbang di atas kerajaan es, menyiratkan tanda Ravenna masih hidup. 

Rabu, 24 Februari 2016

Film The Divergent Series:Allegiant (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer








Informasi film The Divergent Series: Allegiant :


Sutradara:
Robert Schwentke

Produser:
Douglas Wick
Lucy Fisher
Pouya Shabazian

Penulis naskah:
Noah Oppenheim
Adam Cooper
Bill Collage
Stephen Chbosky

Adaptasi:
Allegiant (Veronica Roth)

Pemeran / pemain :
Shailene Woodley, Theo James, Jeff Daniels, Octavia Spencer, Ray Stevenson, Zo� Kravitz, Miles Teller, Ansel Elgort, Maggie Q, Bill Skarsg�rd, Naomi Watts

Penata musik:
Joseph Trapanese

Sinematografer:
Florian Ballhaus

Editor:
Stuart Levy

Rumah produksi:
Red Wagon Entertainment
Lionsgate
Mandeville Films

Distributor:
Summit Entertainment

Tanggal rilis:
10 Maret 2016 (Inggris)
18 Maret 2016 (Amerika Serikat)

Negeri:
Amerika Serikat (bahasa Inggris)

Poster film The Divergent Series:Allegiant:


Trailer film The Divergent Series: Allegiant :




Sinopsis film The Divergent Series: Allegiant :

Tris terkejut dengan video yang dirilis ke publik pada akhir serangan markas Erudite. Video mengungkapkan kebenaran mengenai sistem faksi dan mengumumkan bahwa Divergent dibutuhkan di luar perbatasan kota. Pemimpin Non Faksi, Evelyn Johnson menunjuk dirinya sebagai pemimpin kota. Ia memaksa warga untuk beroperasi di bawah komandonya dan hidup sebagai warga negara yang setara dan tanpa faksi. Tris mempertanyakan motif Evelyn dan diculik oleh Allegiant, sebuah kelompok pemberontak yang bertekad untuk mengembalikan cara lama hidup mereka. Kelompok Allegiant mengundang Tris pada pertemuan di dalam berikutnya.

Kakak Tris, Caleb, yang diadili karena telah membantu mantan pemimpin Erudite, Jeanine Matthews. Pengkhianatan itu membuat Tris tidak bisa memaafkannya. Caleb divonis bersalah sebagai pengkhianat dan akan dihukum dalam waktu dua minggu lagi. Kelompok Allegiant yang dipimpin oleh Cara dan Johanna, berencana mengirim sebuah kelompok ke luar kota untuk menemukan kebenaran. Tris menjadi relawan dengan syarat Caleb ikut mereka. Tobias (Four), Tris, Christina, Cara, Uria, Tori, Peter dan Caleb disergap setelah mereka melompok dari kereta api, yang menyebabkan kematian Tori. Mereka kemudian bertemu Zoe dan Amar, mantan instruktur Four. Zoe dan Amar mengambil alih kelompok  Biro Kesejahteraan genetik, di mana mereka belajar tentang kebenaran masyarakat mereka. Beberapa tahun lalu, pemerintah percaya bahwa masalah-masalah masyarakat disebabkan oleh gen yang "buruh". Dalam upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik, mereka mulai melakukan modifikasi gen masyarakat, dan hasilnya bencana. Pemerintah menyiapkan "eksperimen" untuk memperbaiki kesalahan ini, mendirikan kota terisolasi di sisa-sisa Amerika Serikat. Harapannya adalah untuk meningkatkan genetik individu Divergent yang cukup murni untuk memperbaiki "kerusakan genetik" yang tersisa dari perang Purity.

Tris dan Four diuji oleh Matthew dan Nita untuk memverifikasi dan mempelajari Divergensi mereka. Tris ditampilkan sebagai benar-benar divergent, tapi struktur genetik Four menunjukkan bahwa gennya masih "rusak". Matius kemudian membawa Tris kepada pemimpin Biro, David, untuk mengetahui kebenaran mengenai ibunya. David memberikan Tris jurnal ibunya. Four diam-diam diminta bergabung dengan pemberontakan yang dipimpin oleh Nita, yang juga genetiknya rusak. Nita mengatakan kepada Four bahwa Biro berbohong soal kerusakan genetik adalah penyebab masalah masyarakat. Ia bermaksud menunjukkan bahwa genetik murni juga cacat. Four memberitahu Tris tentang rencana tersebut, meskipun Nita meminta merahasiakannya. Nita dan sekutunya menyerang kompleks penelitian, melukai Uria. Tris menyelamatkan Davis dari tembakan Nita. Nita dipenjara karena kejahatannya.

Tris menghadapi Four dan mengakhiri hubungan mereka. Tris kemudian ditawarkan posisi di dewan Biro dan diceritakan tentang peristiwa yang terjadi di dalam kota, termasuk persiapan Allegiant untuk untuk berperang dengan Evelyn dan non faksi. David putus asa menghentikan kekerasan dan mempertahankan pekerjaan hidupnya, bahkan dengan menghancurkan memori dan kepribadian setiap orang di dalam kota. Ia memutuskan menggunakan serum memori untuk menghapus memori setiap orang di dalam kota, memungkinkan memulai eksperimen dengan awal yang bersih. Tris yang mengingat bahwa Biro menggunakan serum yang menghancurkan Abnegation dan memperbudak Dauntless. Ia yang muak dengan tindakan Biro dan keputusan Davis, berdamai dengan Four. Bersama temannya, ia memulai rencana menyelamatkan kotanya. Kelompok memutuskan menghancurkan senjata lab dan menggunakan serum memori untuk menghapus memori Biro. Lab itu dijaga oleh serum kematian dengan dosis mematikan, mengirim mereka pada misi bunuh diri. Caleb meminta jadi sukarelawan, dengan air mata meminta Tris untuk mengampuninya dan akan memberikan segala yang bisa ia lakukan. Tris mengatakan ya. Four, Christina, Peter dan Amar berencana masuk ke kota menyuntik orang-orang yang mereka cintai untuk melawan serum itu.

Christina mampu mengambil serum suntikan dan mengatakan pada kelompoknya untuk menyuntik mereka dengan itu. Christina memberikan serum memori tambahan untuk Four untuk digunakan melawan ayah, Marcus atau ibunya Evelyn dengan harapan mengakhir konflik. Four memutuskan menghadapi Evelyn. Four bertemu ibunya dan memberikan opsi untuk meminumnya. Evelyn kemudian dapat mengakhiri konflik di antara mereka dan menjadi ibunya kembali. Ia merangkul Four tanpa meminum serum. Mereka bertemu Johanna dan Marcu untuk mengakhir konflik. Peter menyesalkan perilaku buruk dan kekerasan dirinya, yang mana ia tahu tidak akan dapat berubah. Peter ingin mengambil serum memori dan menjadi dirinya yang baru. Four memberikan Peter serum untuk menghapus ingatannya.

Saat di Biro, Caleb bersedia mengorbankan dirinya, tapi ia dan Tris disergap oleh penjaga Biro. Tris memberikan senjatanya ke Caleb dan memutuskan melakukan misi itu sendiri, mengetahui Caleb menjadi merelawan sebagai penyesalan atas tindakannya yang dulu ketimbang menyayanginya. Tris mengatakan pada Caleb bahwa jika ia tidak kembali, katakan pada Four bahwa ia tidak ingin meninggalkannya. Tris menghancurkan pintu masuk lab dan terpapar serum kematian, tapi ia bertahan. David menembak Tris yang berlutut mengambil serum memori dan melepaskannya. Trips perlahan tergelincir ke dalam kegelapan hingga ia melihat ibunya menjangkaunya. Ia dengan gembira menerima rangkulan ibunya, sekarat karena luka-lukanya, dan mati.

Baca juga:
Four, Peter dan Christina kembali ke kompleks dan mereka diberitahu mengenai kematian Tris dari Cara. Caleb memberikan pesan terakhir Tris. Four marah atas kematian Tris untuk Caleb bahkan setelah pengkhianatannya. Sebelum pergi jauh, Caleb menjawab Tris tidak pernah ingin meninggalkannya. Zeke dan ibunya mematikan pendukung kehidupan Uriah. Four memotong rambutnya dan mau menggunakna serum memori untuk menghilangkan ingatan tentang Tris dan Uriah. Christina meyakinkannya untuk tidak menggunakannya, mengatakan Tris ingin dia mengingatnya.

Dua setengah tahun kemudian, Chicago akhirnya dalam keadaan damai, dengan mantan anggota faksi, tanpa faksi, anggota campuran dan semua orang lainnya. Four menyebarkan abu tris dari gedung Hancock, dalam kenangan tentang Tris. Ia menerima segalanya bahwa dia telah bertahan dan merefleksikan keyakinannya bahwa ketika kerusakan hidup setiap orang, orang-orang dapat menyembuhkan diri dari waktu ke waktu.

Film The Jungle Book (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer

Sinopsis film The Jungle Book:

Jika anda pernah menonton film The Jungle Book saat masih kecil pastikan anda melihat film The Jungle versi 3D live action/ CGI. Film The Jungle Book yang masih mengangkat kisah seorang bocah yang hidup di hutan akan membawa anda dalam hutan gelap Asia. Dengan arahan sutradara Iron Man, John Favrerau, mata anda sangat terpuaskan dengan live action yang ada Plot cerita masih berdasarkan cerita Disney: The Jungle Book dan dipadankan dengan naskah dari Justin Marks. Selain memberikan suguhan live action yang memukau, the Jungle Book juga mengajak sejumlah bintang Hollywood untuk mengisi suara tokoh di Jungle Book, seperti Bill Murray, Ben Kingsley, Idris Elba, Lupita Nyong'o, Scarlett Johansson, Giancarlo Esposito, Christopher Walken, dan Neel Sethi.

Film The Jungle Book mengisahkan tentang seorang anak bernama Mowgli (Neel Sethi) yang dibesarkan oleh sekawanan serigala India, Raksha (Lupita Nyong'o) dan Akela (Giancarlo Esposito).  Mowgli yang hidup dan tinngal di dalam hutan ganas India tidak lagi merasa aman karena kedatangan harimau bengal, Shere khan (Idris Elba) mengancam kehidupan Mowgli karena keberadaanya yang seorang manusia. Shere Khan yang pernah dilukai oleh manusia memupunyai ambisi untuk melenyapkan semua ancaman tersebut.

Baca juga:

Mowgli yang menolak untuk meninggalkan hutan yang sudah menjadi rumahnya memulai perjalanan untuk mencari jati dirinya. Dengan dipandu oleh Macan Kumbang, Bagheera (Ben Kingsley) dan Beruang yang berjiwa bebas, Baloo (Bill Murray), mereka memasuki kawasan hutan yang paling gelap, yang mana dapat mengancam kehidupan mereka. Mowgli bertemu banyak makhluk hutan yang belum pernah ia temui, seperti  Kaa (Scarlett Johansson) ular piton yang memiliki suara dan tatapan hipnotis, King Louie (Christopher Walken) seekor binatang yang pandai berbicara dan terus memaksa Mowgli untuk memberi rahasia tentang api, bunga merah yang mematikan dan  sulit dikendalikan.

Akankah Mowgli dapat menemukan jati dirinya? Bisakah Mowgli kembali ke rumahnya? Saksikan kelanjutan kisahnya di film The Jungle Book pada 15 April 2016.

Sinopsis lengkap film The Jungle Book 

Mowgli adalah seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh serigala India, Raksha dan kawanannya yang dipimpin oleh Akela. Sejak bayi ia dibawa oleh harimau kumbang berwarna hitam, Bagheera yang melatih Mowgli mempelajari cara-cara serigala. Anak itu mengalami kesulitan dan seringkali di belakang saudara-saudaranya yang serigala. Akela mencelanya karena Mowgli menggunakan trik manusia seperti memanjat ketimbang mempelajari cara kawanan serigala.

Suatu hari, pada musim kering, binatang di hutang berkumpul untuk minum air yang tersisa dalam suasana gencatan senjata selama kekeringan. Satwa liar di hutan dapat minum tanpa takut dimakan oleh binatang yang lebih besar, binatang yang lebih predator. Gencatan senjata itu terganggu, ketika harimau Bengali yang memiliki bekas luka setan, Shere Khan, tiba-tiba mencium aroma Mowgli di kerumunan. Kebencian terhadap manusia yang melukainya, ia memberikan peringatan akan membunuh Mowgli pada akhir musim kering. Di dalam kelompok serigala terjadi perdebatan apakah mereka harus tetap bersama Mowgli atau tidak. Mowgli secara sukarela memutuskan meninggalkan hutan untuk keselamatan kawanan. Bagheera setuju dengan keputusan dan mengajukan diri memandu Mowgli mencapai desa manusia terdekat.

Dalam perjalanan, Shere Khan menyergap mereka dan melukai Bagheera, tapi Mowgli berhasil melarikan diri berkat sekawanan kerbau. Shere Khan kemudian menghadapi kawanan serigala dan tahu dari Akela jika Mowgli telah meninggalkan kawanan serigala. Mereka berdua tidak lagi bertengkar satu sama lain. Saat Shere Khan mulai beranjak pergi, tiba-tiba ia menerkam Akela dan melemparkannya ke tebing yang membunuhnya. Dia mulai mengambil kontrol sementara terhadap kawanan serigala sampai Mowgli kembali. Saat menunggu, Bagheera, Mowgli bertemu Kaa, seekor ular piton besar yang menghipnotisnya. Di bawah pengaruh hipnosis Kaa, Mowgli mendapat penglihatan ayahnya melindungi dia dari Shere Khan yang membuat ayahnya terbunuh. Penglihatan itu juga memperingatkan kekuatan penghancur "Bunga Merah". Kaa mencoba melahap Mowgli, tapi ia diselamatkan oleh beruang malas bernama Baloo. Baloo meminta Mowgli mengambilkan madu sebagai balasan telah menyelamatkan hidup Mowgli. Tapi Baloo terkesan dengan peralatan rumit yang dibuat Mowgli, dan mengkritik serigala yang melarang trik ini. Bersama, mereka menjadi dekat setelah menyadari mereka sebagai tim dapat mendapatkan madu dengan lebih mudah. Mowgli setuju untuk tinggal bersama Baloo sampai musim dingin tiba.

Bagheera tiba-tiba menemukan mereka dan menjadi marah kepada Mowgli yang menggunakan trik untuk mendapatkan madu buat Baloo. Saat perdebatan makin panas di antara Mowgli dan Bagheera, Balo menenangkan mereka dan membujuk mereka tidur. Selama malam itu, Mowgli menemukan kawanan gajah yang dianggap sebagai pencipta hutan yang suci. Ia menggunakan tanaman merambat untuk menyelamatkan seekor bayi gajah yang terjebak di lubang. Walaupun Baloo dan Bagheera terkesan, Baloo menyadari dia tak bisa menjamin keselamatan Mowgli setelah Bagheera mengatakan padanya bahwa Shere Khan memburu Mowgli. Baloo setuju mendorong Mowgli lebih jauh untuk melanjutkan pencarian terhadap desa manusia.

Mowgli diculik oleh sekawanan monyet yang dikenal sebagai Bandar Log, yang membawa Mowgli ke pimpinan mereka, Raja Louie, seekor Gigantopithecus (monyet raksasa). Louie yang mengira semua manusia dapat memanggil bunga merah, menawarkan Mowgli makanan, harta dan menjamin perlindungan dari Shere Khan sebagai pertukaran untuk bunga merah. Baloo mengalihkan perhatian Louie sementara Bagheera berusaha menyelinap keluar bersama Mowgli, namun mereka ditemukan oleh salah satu anak buah Louie.

Saat Louie mengejar Mowgli di kuilnya, ia memberitahukan Mowgli tentang kematian Akela. Amukan Louie menyebabkan kuil rubuh yang menimpa kepalanya, sehingga Bandar Log harus mencari raja mereka. Mowgli marah pada Baloo dan Bagheera yang tidak bercerita tentang kematian Akela. Ia memutuskan menghadapi Shere Khan sendiri.

Ia menemukan desa manusia dan mencuri obor sebagai senjahat menghadapi Shere Khan. Ia kembali ke hutan dan membuat api. Shere Khan mengatakan bahwa Mowgli telah membuat dirinya sebagai musuh hutan karena telah membuat kebakaran. Mowgli melemparkan obor ke dalam air yang memberikan Shere Khan keuntungan. Baloo, Bagheera kawanan serigal menekan Shere Khan yang memberikan cukup waktu bagi Mowgli untuk membuat jebakan. Ia memancing Shere Khan ke sebuah pohon mati yang cabangnya rapuh. Shere Khan melompat ke ujung cabang yang lalu patah dan ia jatuh ke api di bawah. Gajah yang menghormati Mowgli (yang menyelamatkan bayi mereka) memadamkan api tersebut.

Menemukan desa manusia, Mowgli mencuri obor menyala untuk digunakan sebagai senjata dan kepala kembali ke hutan, sengaja memulai api dalam proses. Dia menghadapkan Shere Khan, yang menyatakan bahwa Mowgli telah membuat dirinya musuh dari hutan dengan menyebabkan kebakaran hutan. Mowgli melempar obor ke dalam air, memberikan Shere Khan keuntungan. Baloo, Bagheera dan serigala terus Shere Khan off, memberikan Mowgli cukup waktu untuk membuat jebakan. Dia umpan Shere Khan sebuah pohon mati dan ke cabang rapuh. Shere Khan melompat ke ujung cabang yang memecah di bawah berat badan harimau, dan harimau jatuh ke kematiannya ke dalam api bawah. Gajah, yang menghormati Mowgli untuk menyimpan bayi, menggunakan sistem irigasi untuk memadamkan api tersebut.

Setelah kejadian itu, Raksha menjadi pemimpin baru kawanan serigala. Mowgli memutuskan memanfaatkan peralatan dan trik untuk digunakan sendiri setelah ia menemukan rumah yang tepat dan memanggil keluarganya: kawanan serigala, Baloo dan Bagheera.

Informasi film The Jungle Book :

Judul:
The Jungle Book

Jenis :
fantasi 3D live-action

Produser:

Jon Favreau, Brigham Taylor

Sutradara:
Jon Favreau

Penulis   :
Justin Marks

Penata Musik :
John Debney

Pemain   :
Bill Murray, Ben Kingsley, Idris Elba, Lupita Nyong'o, Scarlett Johansson, Giancarlo Esposito, Christopher Walken, Neel Sethi

Produksi :
Walt Disney Pictures, Fairview Entertainment

Negara :
Amerika

Bahasa :
Inggris

Tanggal rilis:
15 April 2016

Poster film The Jungle Book:

Jungle Book

Trailer film The Jungle Book :


Recent Post