Latest News

Adbox
Tampilkan postingan dengan label Animasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Animasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2016

Review Film: 'The Angry Birds Movie' (2016)

Sama seperti versi game, 'The Angry Birds Movie' ini minim esensi tapi menawarkan keseruan tersendiri.

�Am I pasionate bird? Yes, but what does it matter that we're not the same?�
� Red
Permainan besutan Rovio Entertainment dimana burung dengan berbagai varian diluncurkan menggunakan katapel raksasa untuk menyerang gerombolan babi hijau adalah permainan dengan premis yang absurd. Adaptasi filmnya tentu saja tak masuk akal. Namun sama seperti versi game, The Angry Birds Movie ini minim esensi tapi menawarkan keseruan tersendiri.

Adaptasi layar lebar perdananya dibangun premis yang sederhana: origins story dari Angry Birds. Kita boleh menduga ia hanya menjadi wadah untuk meraup laba tambahan berkat kekuatan fanbase. Namun meski tak punya karakterisasi semenarik beberapa film lain di ranah serupa seperti Wreck-It Ralph atau The Lego Movie, The Angry Birds Movie setidaknya terlihat sebagai salah satu produk peraup laba yang paling mentereng.


Kenapa burung-burung ini marah? Oke, sebenarnya di awal cerita, mereka adalah komunitas yang cinta damai. Satu burung yang sedikit temperamen adalah burung merah beralis tebal, Red (Jason Suidekis), yang dipaksa mengikuti kelas manajemen emosi oleh pimpinan desa (Keegan-Michael Key) gara-gara kekacauan yang ditimbulkannya di sebuah pesta ulang tahun. Di kelas ini, Red bertemu dengan Chuck (Josh Gad), burung kuning cerewet yang hiperaktif; Bomb (Danny McBride), burung hitam yang bisa meledakkan diri; serta Terence (Sean Penn, kebanyakan hanya menggeram), burung merah raksasa pendiam yang menyeramkan.

Dinamika antarkarakter ini cukup kocak di awal, namun menjemukan seiring berjalannya waktu. Untunglah film kembali fokus dengan kedatangan rombongan babi hijau yang dipimpin oleh Leonard (Bill Hader). Saat Leonard membagi-bagikan makanan dan hadiah atau mengadakan pesta semalam suntuk, hanya Red yang curiga. Terbukti, ada udang di balik batu. Setelah mencuri barang paling berharga di Pulau Burung, gerombolan babi kabur ke kampung halaman mereka.

Kita tahu Red dkk akan menyerang balik. Di paruh akhir ini, kita bisa menyaksikan re-kreasi adegan game yang disajikan melalui sekuens yang memanjakan mata. Invasi para burung begitu bombastis (iya, melibatkan bom juga soalnya). Pengambilan gambarnya dinamis. Meski agresinya nyaris tak memakai strategi ala game � yang penting hajar, namun keseruannya bisa dijaga oleh sutradara Clay Kaytis dan Fergal Reilly.

Dari semua nama-nama pengisi suara di atas yang setidaknya pernah anda dengar di satu judul film komedi, sebagian besar hanya numpang lewat melalui karakter minor tanpa dimensi. Sebagai tambahan ada Maya Rudolph, Kate McKinnon, Tony Hale, Hannibal Buress, dll. Yang mencolok mungkin hanya Keegan-Michael Key sebagai pimpinan desa serta Peter Dinklage sebagai Mighty Eagle, pahlawan legendaris yang nyatanya tak sesuai dengan legendanya.

Perkembangan plot sesederhana jawaban kenapa para burung ini tak bisa terbang. Untuk ukuran materi yang tak punya basis sinematis, penulis naskah Jon Vitti mengisi plotnya yang tipis dengan referensi budaya pop (mulai dari The Shining hingga Instagram), plesetan kata, atau komedi slapstick. Saya tak tahu dengan anak generasi sekarang, namun mungkinkah mereka bisa menangkap lelucon "ayo bikin telur lagi" atau kalimat keluhan seperti "pluck my life"?

Toh hal ini tak perlu terlalu dipikirkan. Leluconnya cepat dan heboh. Lagipula, penonton kecil akan teralihkan dengan karakter menggemaskan yang ekspresif. Animasinya tajam dan kaya warna. Setiap detil mulai dari desain karakter hingga bulu terhalus diperhatikan dengan baik. Ah, tapi tolong ingatkan mereka agar jangan meniru cara penyelesaian masalah dengan cara marah-marah seperti halnya para Angry Birds ini. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Angry Birds Movie' |
|

IMDb | Rottentomatoes
97 menit | Semua Umur - BO

Sutradara Fergal Reilly, Clay Kaytis
Penulis Jon Vitti
Pemain Jason Sudeikis, Josh Gad, Danny McBride

Jumat, 06 Mei 2016

Review Film: 'Ratchet & Clank' (2016)

'Ratchet & Clank' merupakan film ringan yang tak melibatkan emosi, namun saya yakin akan disukai oleh anak 10 tahunan. Robot, alien, dan pesawat ruang angkasa adalah favoritnya anak laki-laki, bukan?

�Hero doesn't have to do big things... just do the right things.�
� Ratchet
Berkat talenta kreatif di balik Pixar, Disney dan Dreamworks, animasi 3D sekarang sudah memiliki standar tinggi. Film dari Gramercy Pictures ini tidaklah berada di level yang sama, baik dari kualitas animasi maupun narasi. Tapi juga tak buruk-buruk amat. Film bisa saja dianggap sebagai masterpiece... kalau saja dirilis dua dekade yang lalu.

Ratchet & Clank adalah film animasi 3D bergenre aksi-komedi yang diangkat dari serial game populer berjudul sama dari Insomniac Games. Tata produksinya setara dengan kualitas game high-end (setidaknya, di genre yang sama). Para animatornya memperhatikan setiap detil karakter, kostum, pesawat luar angkasa, hingga latar belakang. Kedalaman visual adalah satu-satunya "kedalaman" yang bisa didapatkan dari film ini � anda tahu maksud saya.

Ceritanya mengenai seekor Lombax (sejenis kucing, mungkin?) muda bernama Ratchet (James Arnold Taylor) yang berangan-angan menjadi anggota pasukan penjaga semesta, Galactic Rangers. Ia bekerja sebagai mekanik di bengkel milik Grimroth (John Goodman) yang sekaligus menjadi ayah angkatnya. Tentu saja dengan fisik mungilnya, mimpi itu mustahil menjadi nyata, setidaknya hingga pertemuannya dengan Clank.


Kesempatan datang saat Rangers melakukan audisi anggota dengan tujuan mencari satu personil tambahan untuk memecahkan kasus menghilangnya 3 planet secara misterius. Sejauh ini Galactic Rangers hanya terdiri dari 4 orang: Kapten Qwark (Jim Ward), Cora (Bella Thorne) dan Brax (Vincent Tong), plus satu operator, Elaris (Rosario Dawson). Dengan kasus sebesar itu, kenapa mereka hanya merekrut satu orang? Kenapa tidak banyak sekalian? Yaa, buat jaga-jaga?

Jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi pendekatan unik yang ingin diambil oleh filmnya. Munroe yang menulis naskah bersama veteran dari Insomniac Games, T.J. Fixman bermaksud untuk bermain-main atau mengolok segala elemen generiknya. Lihat saja subtitle kocak seperti "anda tahu ini akan datang" saat adegan tambahan di post-credit. Trik ini cukup jamak dilakukan yang sayangnya sebagian besar meleset gara-gara timing yang tak tepat. Lelucon yang lebih mengena seperti adiksi sosmed (dan penggunaan hashtag yang sporadis) justru terbuang percuma karena takkan dimengerti oleh penonton target yang sebagian besar adalah anak-anak.

Antagonis dari film ini adalah Drek (Paul Giamatti), konglomerat galaksi yang berambisi untuk membangun planet sempurna dengan cara menghancurkan planet lain kemudian mengambil bagian terbaik dari planet tersebut dengan alat bernama Planetizer. Usaha pertama berhasil digagalkan oleh Ratchet yang kali ini berkolaborasi bersama Clank (David Kaye), robot mungil cacat produksi yang mengetahui rencana Drek. Hal ini juga membuat Ratchet dan Clank direkrut menjadi anggota Rangers.

Rekan kriminal Drek, ilmuwan gila Dr. Nefarious (Armin Shimerman) punya rencana baru: menghancurkan Rangers dari "dalam" dengan memanfaatkan kegalauan dari Kapten Qwark. Poin ini tak begitu melenceng, mengingat dalam game-nya sendiri posisi Qwark juga ambigu, terkadang menjadi teman dan terkadang lawan. Sebagai tambahan, ada pula komandan pasukan robot yang merupakan bawahan Drek, Victor Von Ion (Sylvester Stallone).

Untuk ukuran film anak-anak, saya rasa ceritanya lumayan berbelit, terlebih lagi dengan eksekusi buru-buru dari Munroe bersama Jericca Cleland. Namun jangan memusingkan plot karena film ini penuh dengan aksi bombastis dari berbagai karakter lincah, yang membuat anak/adik anda tak lagi memikirkan logika dari setiap sekuensnya.

Kita tampaknya juga tak perlu repot-repot memikirkan karakterisasi, mengingat filmnya yang juga mengesampingkan hal tersebut. Dinamika Ratchet dan Clank tak pernah mengikat. Segera setelah menjadi Ranger, keduanya langsung dipisahkan, dimana Clank ditugaskan sebagai operator bersama Elaris. Karakter yang menarik perhatian hanyalah Qwark dengan persona superpede nan arogan serta Drek yang licik. Ward dan Giamatti pasti puas bermain-main dengan perannya.

Ratchet & Clank merupakan film ringan yang tak melibatkan emosi, namun saya yakin akan disukai oleh anak 10 tahunan. Robot, alien, dan pesawat ruang angkasa adalah favoritnya anak laki-laki, bukan? Ngomong-ngomong, dari laman Wikipedia saya mengetahui bahwa film ini dirilis hampir berbarengan dengan game versi terbarunya. Jika ini hanyalah dimaksudkan sebagai trailer (berdurasi panjang) dari game tersebut, paling tidak kualitasnya baik dan lumayan menghibur. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Ratchet & Clank' |
|

IMDb | Rottentomatoes
94 menit | Semua Umur - BO

Sutradara Jericca Cleland, Kevin Munroe
Penulis T.J. Fixman, Kevin Munroe, Gerry Swallow
Pemain James Arnold Taylor, David Kaye, Paul Giamatti

Rabu, 09 Maret 2016

Review Film: 'Kung Fu Panda 3' (2016)

Meskipun taruhannya menjadi semakin berat � Kai, sang musuh bebuyutan berhasil merampas Chi dari hampir semua master kung fu di daratan Cina � 'Kung Fu Panda 3' tidaklah menjadi terlalu serius.

�If you only do what you can do, you'll never be better that what you are.�
� Master Shifu
Bahaya semakin besar bagi Po dkk. Jika di film sebelumnya lawannya adalah penguasa lalim, maka dalam Kung Fu Panda 3 mereka harus berhadapan dengan musuh bebuyutan Master Oogway yang datang dari dunia arwah. Seolah belum cukup mistis, musuh ini juga punya kemampuan untuk mengambil Chi. Chi adalah semacam energi yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup dan bisa dimaksimalkan dengan latihan. Bayangan Chakra dalam anime Naruto. Film ini membawa Po dkk ke level berikutnya: menguasai Chi.

Bagi yang mempertanyakan mekanisme reproduksi dalam semesta Kung Fu Panda, film kedua sudah menjawab bahwa Po (tentu saja) bukan anak kandung dari Ping, yang notabene adalah angsa. Nah, melanjutkan ending film kedua, dalam Kung Fu Panda 3, Po (Jack Black) akhirnya bertemu langsung dengan sang ayah, Li Shan (Bryan Cranston). Namun sebelum itu, terlebih dahulu kita disuguhkan dengan pertarungan spektakuler antara Master Oogway dengan musuh bebuyutannya, Kai (J.K. Simmons) yang mengambil tempat di dunia arwah. Lokasi serta konsep mengenai Chi tadi mewadahi filmnya untuk menampilkan adu jurus luar biasa yang tak anda duga ada dalam film animasi keluarga.

Sementara itu, Master Shifu (Dustin Hoffman) mengembankan tanggung jawab yang lebih besar bagi Po yaitu menjadi guru bagi Furious Five: Tigress (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Viper (Lucy Liu), Mantis (Seth Rogen) dan Crane (David Cross). Tugas ini harus dikesampingkan dulu mengingat Kai yang telah kembali ke dunia nyata. Agar bisa mengalahkan Kai, Po diharuskan menguasai Chi dan oleh karenanya ia ikut bersama sang ayah menuju desa Panda yang tersembunyi di gunung.


Meskipun taruhannya menjadi semakin berat � Kai berhasil merampas Chi dari hampir semua master kung fu di daratan Cina � Kung Fu Panda 3 tidaklah menjadi terlalu serius. Penulis naskah Jonathan Aibel dan Glenn Berger tetap menyelipkan humor di setiap momen, bahkan kebengisan Kai "dicederai" (in good way) dengan lelucon berulang, seperti ledekan terhadap obrolan gaje (chittichatta chit chat) di tengah pertarungan seperti yang jamak ada dalam film aksi. Lelucon slapstick dari tingkah bodoh atau ceroboh Po menjadi andalan, entah itu saat berbuat jahil bersama sang ayah di aula para pendekar atau beradaptasi dengan kehidupan "normal" Panda yang akrab dengan tidur, makan, dan malas-malasan.

Secara garis besar, pesan moralnya masih sama yaitu mengenai menjadi diri sendiri dan mengingatkan betapa pentingnya keluarga, namun elemen ini dikemas sedemikian rupa sehingga tak terkesan menjadi sekadar pengulangan dari film sebelumnya. Pun demikian, bobot emosionalnya tidaklah sedalam film sebelumnya (apalagi sekelas Pixar), terlebih dengan penyajiannya yang sangat gamblang. Mungkin karena demografinya memang disasar untuk penonton yang lebih muda.

Tanpa mengesampingkan komedinya, Kung Fu Panda 3 lebih condong ke genre aksi dan dalam konteks ini, ia tidaklah mengecewakan. Adegan pertarungannya energik. Kai punya kemampuan untuk membangkitkan arwah guru kung fu legendaris menjadi zombie dan ini mengijinkan filmnya untuk menampilkan sekuens pertarungan yang seru antara Po (bersama Furious Five serta para panda) melawan zombi. Sutradara Alessandro Carloni dan Jennifer Yuh menjaga ceritanya berjalan dengan cepat (mungkin sekalian untuk menutupi beberapa plothole) serta menyajikan animasi yang menawan dengan beberapa pendekatan kreatif seperti split-screen, palet warna yang kontras atau penggabungan animasi 2D dengan 3D.

Para pengisi suara yang diisi nama-nama tenar tampil dengan baik, meski sebagian besar hanya punya porsi yang minim (termasuk Kate Hudson yang bermain sebagai Mei-Mei yang awalnya tampak seperti love-interest Po tapi berakhir sebagai perangkat komedik). Walau film ditutup dengan ending yang memuaskan, ada wacana yang menyebutkan bahwa franchise ini akan berlanjut dalam 3 film lagi. Jika totalitas masih menjadi komitmen para sineas untuk setiap filmnya (sebagaimana diakui oleh Jennifer Yuh), saya tak keberatan menonton film-film berikutnya. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Kung Fu Panda 3' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Semua Umur - BO

Sutradara Jennifer Yuh Nelson, Alessandro Carloni
Penulis Jonathan Aibel, Glenn Berger
Pemain Jack Black, Angelina Jolie, Dustin Hoffman

Kamis, 03 Maret 2016

Review Film: 'Monkey Business' (2015)

Komedian Prancis, Jamel Debbouze mencoba peruntungannya sebagai sutradara dalam animasi motion-capture yang ambisius secara konsep ini.

�Nature is not necessarily on the side of the strongest.�
� Edward
Monkey Business mungkin bukan pilihan judul yang menarik untuk sebuah film animasi. Judul aslinya dalam bahasa Prancis yang berarti Why I Did (Not) Eat My Father juga tak begitu membantu; membuat kita berasumsi filmnya bergenre horor kanibal atau semacamnya. Evolution Man � judul versi Amerika � walau terkesan terlalu serius, menangkap esensi filmnya dengan baik. Di balik kemasannya yang remeh, film ini mengangkat premis mengenai evolusi dan berisi komentar sosial. Wait, what?

Komedian Prancis, Jamel Debbouze mencoba peruntungannya sebagai sutradara dalam animasi motion-capture yang ambisius secara konsep ini. Pada tahun 1990, Debbouze mengalami kecelakaan di stasiun kereta api yang mengakibatkan tangan kanannya lumpuh. Apa pentingnya informasi tersebut, anda mungkin bertanya. Dalam film ini, Debbouze juga menyumbangkan suara, ekspresi dan pembawaannya untuk menghidupkan karakter utama, yang awalnya akan anda anggap aneh karena selalu memasukkan tangannya ke dalam celana.


Diangkat dari novel karya Roy Lewis yang dirilis tahun 1960, Monkey Business berfokus mengenai sebuah hutan yang ditinggali oleh puluhan primata. Karena ini adalah fabel, kita tak perlu mempermasalahkan kenapa mereka mahir berbahasa Inggris. Simeon (Christian Hecq), pemimpin desa yang karismatik tengah menunggu kelahiran anaknya. Tak disangka, ada dua anak yang lahir, dimana salah satunya adalah Edward (Debbouze) yang begitu lemah dan kecil (lebih tepatnya: keciiiiil) sehingga Simeon memutuskan untuk membuangnya. Sementara yang lebih besar, Vania (Diouc Koma) dikaderkan untuk menjadi penerusnya.

Namun Edward kecil berhasil bertahan hidup karena diselamatkan oleh Van (Arie Elmaleh), monyet besar dengan sedikit keterbelakangan mental. Singkat cerita, Edward tumbuh besar bersama Van meski dikucilkan oleh kelompoknya. Sedari awal, Edward didiskriminasi bukan saja karena fisiknya yang lemah, namun juga karena kecerdasannya yang dianggap aneh untuk ukuran primata.

Vania resmi menjadi pemimpin desa setelah Simeon mati. Namun timbul kekacauan di saat ritual desa yang mengharuskan Vania memakan jenazah ayahnya yang membuat Edward diusir dari kampung. Mengalami berbagai tragedi komikal � angin topan, semburan lahar, dll � Edward menunjukkan pertanda evolusinya mulai dari menemukan api hingga berjalan di atas 2 kaki. Nah, sekarang anda tahu kenapa tampang Edward begitu mirip dengan manusia.

Sementara animasinya tak begitu buruk, dimana latar belakang dibuatdengan bagus dan detail karakter dirancang dengan mendetail (bahkan hingga rambut-rambut halus di sekujur tubuh mereka), hal yang sama tak bisa saya katakan untuk teknik motion-capture-nya. Mencoba sotoy, motion-capture bukan hanya tentang rendering yang bagus, tapi juga bergantung pada pergerakan dari aktor yang memerankannya. Disini, pergerakan dan ekspresi dari setiap karakter primata terlihat canggung. Yah, maklum lah. Tak semua orang bisa seperti Andy Serkis.

Cerita utamanya adalah bagaimana Edward akhirnya menjadi pemimpin kelompoknya. Yang menjadi antagonis bukanlah Vania, melainkan seorang eeh seekor dukun jahat. Dengan mengesampingkan tema mengenai evolusi, plotnya relatif sederhana tanpa adanya perkembangan karakter. Kita mengenal karakternya hanya dari perilaku one-note mereka. Bahkan Edward yang sempat punya momen sentimental dengan love-interest-nya, Lucy (Melissa Theuriau) tak punya bobot emosional. Sangat disayangkan, lagu-lagu Stevie Wonder, Aretha Franklin hingga Skrillex yang mungkin ditujukan untuk menguatkan adegan, namun terkesan ditempatkan sembarangan.

Selain beberapa lelucon slapstick, komedinya sangat digantungkan pada pembawaan Debbouze dengan komentar-komentar cerewet yang terkadang pintar tapi seringkali mengganggu. Hanya ada 2 tipe karakter disini, kalau tidak menjengkelkan yaa dungu. Mungkin benar apa kata orang. Just stay out of monkey business. �UP

'Monkey Business' |
|

IMDb | Rottentomatoes
101 menit | Remaja

Sutradara Jamel Debbouze
Penulis Jamel Debbouze, Fred Fougea, Jean-Luc Fromental, Ahmed Hamidi, Victor Mayence, Pierre Ponce, John R. Smith, Rob Sprackling (screenplay), Roy Lewis (buku)
Pemain Jamel Debbouze, Melissa Theuriau, Arie Elmaleh

Selasa, 23 Februari 2016

Film Zootapia (2016) - Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer







Informasi film Zootopia:

Judul :
Zootopia

Jenis :
Animasi

Produser :
Clark Spencer

Sutradara:
Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush

Penata Musik:
Michael Giacchino

Produksi :
Walt Disney Pictures, Walt Disney Animation Studios

Pemain :
Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Shakira, Idris Elba, J. K. Simmons, Nate Torrence, Jenny Slate, Bonnie Hunt, Don Lake, Octavia Spencer, Tommy Chong, Tom Lister Jr., Jesse Corti

Negara :
Amerika (USA)

Bahasa :
Bahasa Inggris

Tanggal rilis: 
4 Maret 2016

Poster film Zootapia:



Trailer film Zootapia:



Sinopsis film Zootapia:

Film Zootopia adalah film yang keluaran Disney yang baru. Dengan animasi 3D animasi yang menambah kesan nyata film Zootopia mengusung karakter binatang, berbeda dengan film Bug's life, Zootopia bercerita tentang binatang mamalia. Film yang disutradarai oleh Byron Howard (sutradara dari film Bolt dan Tangled), Rich Moore (sutradara dari film Wreck it Ralph) dan Jared Bush (Penn Zero: Part-time hero) ini akan menghadirkan cerita yang bisa membuat anda terpingkal-pingkal dengan kelucuan karakternya. Selain mengusung tiga sutradara yang mumpuni, produser Clark Spencer (sutradara Lilo & Stitch, Bolt and Wreck-It Ralph) juga menghadirkan aktris dan aktor Hollywood sebagai pengisi suara di film Zootopia, seperti Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Shakira, Idris Elba, J. K. Simmons, Nate Torrence, Jenny Slate, Bonnie Hunt, Don Lake, Octavia Spencer, Tommy Chong, Tom Lister Jr., dan Jesse Corti.

Film Zootopia bercerita tentang kota metropolis yang semua penduduknya adalah binatang mamalia. Dari binatang besar sepereti Gajah sampai binatang berukuran kecil seperti tikus. Di kota ini terbagi dalam berbagai ekosistem, seperti gurun sahara yang terkenal gersang namun di film Zootopia mampu membuat gurun sahara menjadi tempat yang mewah, adalagi kota tundra yang dingin yang cocok untuk serigala atau karibu.

Baca juga:


Namun walaupun kota Zootopia mempunyai banyak sekali jenis binatang mamalia, penduduk Zootopia dibagi menjadi beberapa kelas berdasarkan latar belakang dan juga bentuk fisik yang menjadi sumber penilaian. Seorang kelinci bernama Judy Hopps bekerja sebagai polisi di Zootopia walaupun dia termasuk kelinci yang selalu optimis dan ceria dalam pekerjaannya, Judy Hopps terjebak dalam karir yang membosankan karena dalam kepolisian Zootopia karena dia adalah kelinci pertama yang bekerja sebagai polisi. Akhirnya berbekal keinginan yang kuat Judy Hopps menyelidiki kasus hilangnya berang-berang walaupun dia harus bekerjasama dengan Nick Wilde, rubah yang padai bicara dan pandai bersandiwara.

Dapatkah Judy Hopps dan Nick Wilde memecahkan kasus tersebut? Tonton tingkah lucu Judy Hopps dan Nick Wilde dalam film Zootopia pada 4 Maret 2016.

Sabtu, 20 Februari 2016

Review Film: 'Zootopia' (2016)

Dalam 'Zootopia', karakter hewan yang dimanusiakan bukan hanya menjadi gimmick untuk lucu-lucuan semata tapi juga menjadi basis untuk mengangkat isu sosial seperti diskriminasi gender dan ras, tanpa pernah terkesan menggurui atau terlalu serius.

�In Zootopia, anyone can be anything.�
� Nick Wilde
Saya penasaran apa yang dimakan karnivora dalam semesta Zootopia. Saat semua hewan � karnivora, herbivora dan omnivora � hidup berdampingan, bagaimana dengan mekanisme rantai makanan? Tak masalah bagi herbivora dan omnivora, tapi bagaimana dengan hewan predator? Dapat daging darimana? Mangsa mereka kan warga sipil yang punya hak setara?

Anda boleh curiga saya hanya ingin memanjang-manjangkan tulisan atau kehabisan ide untuk memulai ulasan, namun pertanyaan ini menjadi esensial ketika plot utama dari filmnya adalah mengenai permasalahan dua "strata sosial" tersebut.

Bagaimanapun, logika di atas tak begitu mengganggu saat anda menyaksikan animasi terbaru dari Disney ini. Zootopia adalah animasi yang ringan, cerdas dan bermakna, khas film klasik Disney. Disini, karakter hewan yang dimanusiakan bukan hanya menjadi gimmick untuk lucu-lucuan semata tapi juga menjadi basis untuk mengangkat isu sosial seperti diskriminasi gender dan ras, tanpa pernah terkesan menggurui atau terlalu serius. Disney cukup berani menyuguhkan alegori sekaliber Pixar.

Dalam dunia Zootopia, semua spesies hewan hidup dengan harmonis (kecuali Homo Sapiens tentu saja). Mereka bersikap layaknya manusia; memakai pakaian yang layak, membangun peradaban dan memberi kontribusi bagi kemanusiaan errr... kehewanan sesuai peran masing-masing. Jadi biasa saja melihat marmut ngantor di Wall Street, gajah menjual es krim, berang-berang bekerja konstruksi atau kungkang yang bertugas mengurus surat kendaraan di Departemen Kendaraan Bermotor (yang terakhir digunakan untuk tujuan komedi).


Berangkat dari latar belakang keluarga petani, Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) menjadi kelinci pertama yang berhasil masuk ke Departemen Kepolisian Zootopia. Karena anda belum pernah berkunjung ke Zootopia, perlu saya informasikan bahwa kepolisian disana tak jauh berbeda dengan di dunia nyata, dimana dipenuhi oleh makhluk testosteron yang brutal dan liar (i.e. badak, serigala, singa, kuda nil, dll), sementara betina dipandang sebelah mata, apalagi yang berukuran kecil seperti kelinci.

Alasan ini pula yang membuat Kapten Bogo (Idris Elba) hanya menugaskan Judy sebagai petugas parkir; sama sekali menafikan fakta bahwa Judy adalah lulusan terbaik di angkatannya. Oleh karena itu, berbekal kenekatan, Judy mempertaruhkan karirnya untuk memecahkan kasus hilangnya seorang errr... seekor berang-berang. Karena ada tak polisi lain yang mau membantu, ia "meminta" seekor rubah, Nick Wilde (Jason Bateman) � merupakan penipu yang lihai � untuk menjadi partner sementaranya.

Film ini bukan berjudul "Judy Hopps & Nick Wilde: Petualangan Mencari Berang-Berang". "Zootopia" sebenarnya adalah judul yang tepat, karena meskipun tokoh utama kita adalah dua nama di atas, tapi premis utamanya adalah dinamika dari kotanya sendiri, mirip dengan yang terjadi dalam Chinatown-nya Roman Polanski. Naskah dari Jared Bush dan Phil Johnston yang diangkat oleh sutradara Byron Howard dan Rich Moore beratmosfer neo-noir, dimana misterinya dibuat berlapis-lapis dan melibatkan konspirasi birokrasi, namun tetap dalam taraf ringan yang gampang dicerna.

Pemecahan misteri ini membawa Nick berkeliling Zootopia dan bertemu dengan berbagai macam karakter seperti Mr. Big (Maurice LaMarche) � yang akan mengingatkan anda pada Don Corleone � Duke Weaselton (Alan Tudyk), si musang pencuri; serta grup naturalis eksentrik yang dipimpin oleh Yax (Tommy Chong). Satu sekuen yang menarik adalah ketika Judy melakukan pengejaran hingga ke kota mini yang didiami oleh mamalia pengerat mungil. Saya tak ingin memperdebatkan rasio ukuran tubuh hewan, tapi saya pikir para animatornya mengusahakannya seakurat mungkin.

Seperti biasa, Disney piawai membangun semesta dalam filmnya. Kita akan melihat berbagai bagian dari Zootopia seperti tundra, hutan hujan, gurun, dll, yang disajikan dengan grafis mengagumkan. Film ini layak ditonton berulang-ulang agar tak melewatkan detil-detil kecil.

Sulih suara yang enerjik dari Goodwin dan Bateman menciptakan chemistry yang cukup kuat bagi Judy dan Nick. Animasinya berwarna-warni dengan karakter yang imut akan memanjakan penonton-penonton kecil. Ada cukup banyak aksi dan humor yang disajikan yang akan menjaga mereka agar tak rewel di kursi, namun alegori, pesan moral dan referensi budaya pop tentu akan lebih diapresiasi oleh penonton yang lebih tua. �UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Zootopia' |
|

IMDb | Rottentomatoes
108 menit | Semua Umur

Sutradara Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush
Penulis Jared Bush, Phil Johnston
Pemain Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Idris Elba

Recent Post